Happy Reading!
"Mahesa? Hey, bangun." Panggil Sita pelan, mencoba membangunkan pria yang masih tertidur di kursinya.
Perlahan mata pria itu terbuka dan mengerjap - ngerjap. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan merenggangkan tubuh.
"Kita udah nyampe?" Tanya Mahesa dan Sita mengangguk.
"Bentar lagi mendarat, ntar kamu pening."
Tidak lama setelah mengatakan itu, pesawat mereka benar - benar mendarat. Sedikit hentakan karena cuaca di Sorong benar - benar kurang baik. Dan sekali lagi, tangan Sita menjadi sasaran Mahesa untuk mencengkram. Lama - lama Sita sudah terbiasa, karena selama 4 jam perjalanan, tangannya menjadi langganan cengkraman Mahesa tiap goncangan terjadi.
Hal itu sesaat membuat Sita membayangkan bagaimana dan siapa yang menjadi korban cengkraman Mahesa biasanya? Apakah Edward? Sungguh malang.
"Hujannya deras banget ya? Terus ini kita uda nyampe?" Tanya Sita saat mereka melintasi lorong penghubung antara pesawat dan bandara.
Langit masih begitu gelap dan hujan kembali mengguyur daerah ini. Menyebabkan langit yang seharusnya mulai terang menjadi tetap gelap.
"Masih harus nyebrang lagi. Dari sini kita lanjut ke Waisai dan aku menyarankan kapal cepat." Melihat cuaca seperti ini, Mahesa tidak akan mau lagi menyambung pesawat meski itu adalah pilihan tercepat.
Mengikuti kemauan Mahesa, Sita hanya mengangguk dan mulai mencari transportasi yang bisa membawa mereka ke Waisai selain pesawat. Karena memang kebetulan tidak ada penerbangan ke Waisai hari
itu. Jadi, seperti kata Mahesa, kapal cepat. Setelah mencari jadwal yang tersedia, Sita memberitahu Mahesa.
"Kapal paling pagi untuk hari ini jam 2 siang pak. Tapi, disini katanya jam 8 ada. Cuma.. bentar deh." Sita berjalan ke informasi center, menanyakan sesuatu dan kembali lagi ke Mahesa.
"Mereka kurang tau, tapi hari sabtu ada kapal cepat jam 8. Cuma harus ngecek langsung ke pelabuhan sana. Gimana?"
Mahesa terlihat berpikir sebelum mengangguk.
"Yauda, kita langsung kesana aja."
"Naik?" Tanya Sita yang dibalas dengan helaan nafas Mahesa.
"Taksi lah. Deket kok, ga jauh." Ujar Mahesa sebelum membawa koper Sita dan berjalan keluar bandara.
Hujan masih begitu deras dan angin juga berhembus kencang. Banyak orang mengantri taksi dan memilih berteduh di atap bandara ketimbang pergi mencari kendaraan lain di luar sana. Tentu saja, siapa yang mau basah - basahan begitu mendarat?
"Ini pada mau ke Raja Ampat semua apa ya?" Gumam Sita melihat kerumunan orang yang menunggu giliran taksi yang sepertinya laku keras hari itu.
Mahesa mengangguk.
"Mungkin." Dan kembali melihat ponselnya.
Raut wajah pria itu berubah kesal karena sepertinya sinyal sedikit bermasalah akibat hujan deras
dan angin. Sita bisa melihat bagaimana Mahesa menggoyang - goyangkan ponselnya mencoba mendapatkan sinyal. Lalu pria itu memaki pelan dan mencoba menghela nafas.
"Hmm, pak. Taksinya uda datang." Bahkan Mahesa tidak sadar jika Sita memanggilnya pak karena terlalu fokus dengan ponselnya.
Pria itu hanya mengangguk dan berjalan masuk ke taksi, sementara Sita memasukkan kopernya terlebih dulu sebelum masuk ke taksi. Perjalanan mereka begitu hening, tidak ada yang berbicara, bahkan supir taksi tidak berani mengatakan apapun.
"Hmm, kalo hujan lagi gini, biasanya kapal mau berangkat ga ya, mas?" Akhirnya memecah keheningan, Sita mengajak supir taksi berbicara.
Mengabaikan Mahesa yang masih sibuk dengan ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marsita & Mahesa
RomanceMarsita Aysha Yusuf Wanita berusia 22 Tahun, bertubuh gemuk, dengan penampilan biasa, memiliki kepintaran standar, belum memiliki pengalaman pacaran satu kalipun. Hidup Sita awalnya begitu damai, hingga ia dipertemukan dengan seorang pria arogan yg...
