Happy Reading!!
"Lu harus jelasin semua ke gue, Sit." Bisik Hendra di telinga Sita.
Dengan cepat Sita mendorong tubuh Hendra menjauh. Beruntung kali ini ia berhasil mengatur pijakan agar tidak terjatuh lagi. Dan menjaga jarak dari Hendra.
Tatapan pria itu terlihat terluka. Tapi, Sita berusaha untuk tidak luluh. Ia sudah berjanji untuk tidak lagi menjadi pelarian ataupun sandaran sementara Hendra. Meski pria itu mungkin hanya menjadikannya tempat membuang amarah dan rasa bosan.
"Ga ada yang harus gue jelasin, Ndra." Jawab Sita balas menatap Hendra dengan tatapan tajam.
"Ada. Lu harus jelasin semua dari awal. Kenapa lu tiba - tiba ngomong gitu di telfon? Apa maksud—" perkataan Hendra langsung dipotong Sita yang merasa bingung bagaimana bisa Hendra berada dikosannya?
Sejak kapan pria ini berada disini?
"Tunggu. Lu—" kali ini Sita yang menghentikan kalimatnya saat teringat siapa yang mungkin menampung Mahesa disini.
Ditambah dengan sosok Gisel yang mengintip dari balik pintu kamarnya, menjelaskan bahwa selama ini yang menjadi mata - mata Hendra adalah temannya itu. Melaporkan segala kegiatan dan keberadaannya.
Hal itu membuat Sita menatap Gisel tidak percaya. Seriusan? Gisel melakukan ini? Apa yang dilakukan Hendra hingga Gisel bisa menjadi kaki tangannya?
"Buat apa lu nanya - nanya ke Gisel tentang gue? Sampe segitunya lu nyari gue? Ada apa lagi?" Amarah Sita seakan dipancing untuk meledak.
Tapi, melihat suara mereka yang bisa saja menimbulkan keributan, Sita menghela nafas dan menahan diri. Ia berpikir sesaat sebelum menatap pria didepannya itu dengan tajam.
"Abis magrib, kita ngobrol diluar. Engga disini. Dan— sebelum waktunya, lu tunggu dikamar Gisel, bukan kamar gue."
Sita mendorong Hendra dari depan pintu dan berlari menuju kamarnya. Meski ia tau tidak ada gunanya berlari jika langkahmu hanya secepat kura - kura. Tapi, tetap saja Sita berlari untuk menghindari Hendra yang mungkin saja mengejarnya. Ia membuka pintu kamar dan menguncinya segera setelah masuk.
Dengan nafas yang sedikit ngos - ngosan, Sita merebahkan diri di kasur dan kembali berpikir.
Kenapa Hendra sampai datang ke kosan? Bukankah Sita sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia tidak mau berhubungan lagi dengan Hendra? Jika mengingat kembali malam itu, hati Sita kembali sakit. Dia tau jika Hendra membutuhkannya saat pria itu bertengkar dengan Sasha, tapi bagaimana dengan perasaannya? Apakah Hendra pernah memikirkan perasaannya tiap pria itu melakukan hal itu? Dan lagi, Hendra menuduhnya sudah tidur dengan Mahesa.
Well, Sita tau ia salah karena sudah berbohong. Tapi, saat itu ia tidak tau kenapa ia mengatakan hal itu. Ia hanya ingin Hendra berhenti menganggunya. Ia ingin semua berakhir antara dirinya dan Hendra. Tapi, kenapa pria itu tidak mengerti juga?
Beberapa menit setelah menunaikan kewajibannya, sesuai janji Sita bersiap untuk keluar dengan Hendra. Meski jujur, ia membutuhkan istirahat saat itu. Tapi, ia hanya ingin semua ini berakhir.
"Ndra." Panggil Sita begitu ia sampai di kamar Gisel.
Hendra sebenarnya tidak duduk di dalam, melainkan di luar kamar Gisel. Menunduk dengan kedua lengan diatas lututnya. Penampilannya benar - benar menyedihkan. Apa yang telah Sasha lakukan hingga membuat Hendra sampai seperti ini? Apakah masalahnya benar - benar serius?
"Oh, iya. Uda siap?" Hendra langsung berdiri dan mendekati Sita.
Sebelum pergi, Hendra berterima kasih pada Gisel yang menatap Sita dengan rasa bersalah. Hanya saja, Sita akan menyelesaikan urusan itu nanti. Kali ini dia hanya ingin fokus menyelesaikan semua dengan Hendra. Ia akan jujur, dan jika Hendra menolak untuk berhenti menjadikannya pelarian, maka mereka akan berakhir disini. Sebaliknya, jika Hendra bersedia, maka mereka akan menjadi teman seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marsita & Mahesa
RomanceMarsita Aysha Yusuf Wanita berusia 22 Tahun, bertubuh gemuk, dengan penampilan biasa, memiliki kepintaran standar, belum memiliki pengalaman pacaran satu kalipun. Hidup Sita awalnya begitu damai, hingga ia dipertemukan dengan seorang pria arogan yg...
