Happy Reading!
"Enak tidurnya?" Sindir Sita yang melemaskan lengannya yang kesemutan karena menjadi sasaran Mahesa.
Seakan tidak melakukan kesalahan, Mahesa hanya diam dan mengecek ponselnya. Sesekali menoleh ke arah Sita dan tersenyum geli karena melihat ekspresi kesal wanita itu. Bukan sengaja Mahesa melakukan itu, meremas lengan Sita ketika pesawat lepas landas adalah refleks tubuhnya. Ia tidak bermaksud menyakiti tapi ia juga tidak menyesal melakukannya. Karena saat itu terjadi, Sita pasti akan menenangkannya. Dan ia suka hal itu.
Menunggu Edward menyiapkan jemputan, mereka berdua berdiri di depan pintu kedatangan. Tidak lama Edward datang dengan mobil jemputan dan membawa Mahesa maupun Sita pergi.
"Kita mau kemana?" Tanya Sita begitu mereka keluar dari bandara.
"Rumah sakit."
Ekspresi Sita penuh tanda tanya, memikirkan siapa yang sedang sakit dan orang pertama yang ia pikirkan adalah ibu Mahesa.
"Ibumu sakit?" Tanya Sita khawatir dan Mahesa menggeleng.
"No."
"Kakakmu?"
Mahesa kembali menggeleng.
"Anna?!" Kali ini suara Sita benar - benar kaget dan Mahesa menggeleng sekali lagi.
Sita benar - benar bingung dan akhirnya bertanya. "Jadi siapa yang sakit?"
Mahesa tidak menjawab tapi menoleh dan menatap Sita. Pria itu terlihat benar - benar annoyed dengan pertanyaan bertubi - tubi Sita. Tapi, wanita itu tidak peduli karena dia memang penasaran.
"It's you."
"Hah? What? Me?" Terkejut karena mendadak menjadi orang sakit, Sita menunjuk dirinya tidak percaya.
Mahesa mengangguk.
"Wha-- Why? I'm fine." Ujar Sita tidak mengerti dan Mahesa menghela nafas.
"Itu leher ga nunjukkin kamu baik - baik aja."
Teringat akan memar yang ia miliki, Sita refleks menyentuh lehernya yang tertutup syal pemberian Mahesa. Memar yang ia dapatkan saat mencoba melarikan diri dari penjahat. Mengingat kembali kejadian yang menyebabkan ia memiliki memar itu, membuat Sita bergidik. Traumatic? Tentu saja.
"Sakit?" Suara Mahesa mengejutkan Sita yang sempat melamun.
Wanita itu menggeleng. Tapi, ketika mengingat kejadian itu, mendadak rasa sakit itu kembali terasa. Sita menjadi diam dan tidak mengatakan apapun selama perjalanan. Bahkan saat mereka tiba di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan, Sita tidak mengatakan apapun selain menjawab pertanyaan dokter.
"Memarnya uda mulai membaik, kamu cuma perlu olesin salep ini dan nanti saya resepin obat minum juga ya." Jelas dokter yang didengar dengan seksama oleh Mahesa.
"Engga ada luka lain? Udah kamu periksa semuanya Bel?" Tanya Mahesa sekali lagi memastikan bahwa sepupunya Bella yang adalah seorang dokter memeriksa Sita dengan keseluruhan.
Bella memberikan tatapan kesalnya pada Mahesa. Sudah berulang kali ia menyuruh Mahesa untuk keluar tapi diabaikan.
"Kamu tuh keluar dulu kenapa? Gimana aku mau meriksa kalo kamu disini?"
"Ya periksa aja. Aku mau liat."
"Tapi kan ini privasi! Dia emangnya mau kamu liat - liat? Udah sana keluar dulu!" Perintah Bella sembari menendang sepupunya yang keras kepala.
"Gapapa, dia gamasalah."
Belum sempat menarik nafas setelah mengatakannya, sebuah buku mendarat di kepala Mahesa. Tentu saja itu perbuatan Sita yang merasa tersinggung dan marah. Meski Mahesa meringis, ia tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Marsita & Mahesa
RomanceMarsita Aysha Yusuf Wanita berusia 22 Tahun, bertubuh gemuk, dengan penampilan biasa, memiliki kepintaran standar, belum memiliki pengalaman pacaran satu kalipun. Hidup Sita awalnya begitu damai, hingga ia dipertemukan dengan seorang pria arogan yg...
