Semua berlangsung cepat. Hari kedua, Hasna dan suaminya sudah berada di ibukota. Di rumah keluarga Mahendra. Rumah dua tingkat yang nyaman untuk ditinggali.
Seorang pria & wanita paruh baya bergegas keluar ketika mereka mendengar suara klakson. Mereka adalah sepasang suami istri yang sudah bekerja lebih dari lima belas tahun di kediaman Mahendra.
"Sudah dirapikan kan Bi kamarnya?" Tanya Vian sambil membuka pintu bagasi dan mengeluarkan kursi roda istrinya.
"Sudah den." Jawab bibi singkat lalu mengambil tas dan koper kemudian membawanya ke dalam bersama Mang Dodo, suaminya.
"Ayah mau menghubungi tukang biar langsung renovasi kamar bawah. Kamu urus istrimu dulu." Ujar Tuan Mahendra yang mendahului Vian masuk ke rumah mereka.
Hasna langsung mengaitkan tangannya ke leher kekar sang suami kala suaminya mengambil tubuhnya tanpa permisi.
"Welcome home, My Queen!" Ucapnya dengan senyum terkembang. Memunculkan semburat merah di wajah sang istri. Manis sekali.
Vian tahu istrinya belum sepenuhnya menerimanya sebagai suami, tapi setidaknya, sang istri tidak menolak perlakuannya. Itu sudah cukup bagi Vian saat ini.
*
Hasna melongok tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kamar Vian bernuansa hitam dan gothic. Grafiti abstrak dengan tengkorak di tengahnya berada tepat di sisi kepala ranjang di kamar itu. Satu set drum bertengger di salah satu sudut dan jangan lupakan lupakan lukisan mural di seberang ranjang. Benar-benar kamar rocker sejati.
"Maaf, aku tak tahu kalau aku akan menikah kemarin, jadi aku belum mempersiapkan kamar kita. Kamar baru kita nanti di bawah, tapi baru dua atau tiga hari lagi jadi. Tolong maklum ya."
Hasna melihat suaminya yang mulai membongkar barang-barang mereka, lalu menyusunnya di lemari kayu bersticker salah satu band heavy metal. Astaga!
"Biar aku yang susun." Ucap Hasna berusaha untuk duduk di kursi rodanya yang langsung ditanggapi cepat oleh sang suami. Dia bahkan tidak membiarkan Hasna berusaha sedikitpun.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Kau haus? Ingin aku ambilkan minum?"
"CUKUP!" Teriak Hasna muak. Vian terus saja memperlakukan Hasna seperti perempuan yang tak berguna dan Hasna benar-benar muak akan hal itu.
"Aku memang cacat, aku tahu itu. Tapi bukan berarti aku tidak berguna. Jadi cukup membuatku seperti makhluk yang tak bisa melakukan apa-apa. Sebelum menikah denganmu, aku melakukan segalanya sendiri. Tapi sekarang, kau bahkan tidak membiarkanku berusaha sedikitpun."
Vian merasa dadanya sesak tat kala melihat air mata dan isakkan itu jatuh lagi. Sama persis seperti mimpi buruk yang selalu menghantuinya selama ini. Tidak tidak. Vian tak ingin mengingat mimpi buruk itu lagi.
"Aku tak bermaksud seperti itu. Maaf." Cicit Vian tak berani mendekati istrinya yang masih terisak di kursi rodanya, tempat ia mendudukkan sang istri.
"Biarkan aku sendiri. Aku mohon." Isak Hasna lagi yang sudah memutar kursinya ke arah jendela dan meneruskan tangisnya di sana.
Vian merasa pria yang paling idiot. Dia terus saja melakukan kesalahan. Terus saja membuat hidup istrinya itu terlihat malang. Dan sungguh, dia mengutuk dirinya sendiri akan hal itu.
*
Dua hari berikutnya terasa seperti perang dingin bagi Hasna dan Vian. Dia hanya membantu Hasna ketika istrinya butuh bantuan ke atas ataupun bawah. Maklumlah, kamar Vian yang terletak di lantai atas tidak memungkinkan Hasna untuk naik turun sendiri, terlebih hanya Vian mahram Hasna di rumah itu selain Bi Asih.
KAMU SEDANG MEMBACA
SURGA DI TAMAN HATI
RomanceAlya Sahnaz adalah remaja metropolitan kebanyakan. Pergaulan telah menjadikannya urakan dan tidak tahu aturan. Lalu bagaimana jika sang ayah akhirnya memasukkannya ke pesantren yang tidak disukainya? Akankah Nanaz bertahan di pondok yang ketat denga...
