Minyoon
Gs Area
This story is Mine
Happy Reading..
.
.
.
Jimin menghela nafas lelah begitu menutup pintu utama manison miliknya. Keheningan langsung menyambutnya dalam dekapan erat, sesuatu yang mulai Jimin akrabi sejak kematian Seulgi.
Dulu, selalu ada yang menyambutnya ketika ia pulang, entah itu Seulgi yang menunggunya sambil menonton televisi di mansion ini atau Yoongi yang menunggunya sambil menyiapkan makan malam di apartemen mereka, selarut apapun itu.
Tujuh tahun lalu, ketika dirinya masih memiliki segalanya dia tidak pernah setakut ini menghadapi kesunyian, karna ia tahu akan selalu tangan yang menggenggamnya dengan erat. Baik itu milik Seulgi istirnya.. atau milik Yoongi kekasihnya.
Baru kali ini Jimin memahami betapa menyesakkannya kesunyian itu. Benar kata pepatah, manusia tidak akan benar-benar merasa jatuh kecuali dia mengalaminya sendiri.
Ia tersenyum kecil saat melihat putri kecilnya sudah terlelap damai di kamarnya sendiri, merasa bersalah karna meninggalkan Yoonji sendirian di mansion hampir dua jam hanya untuk mendapat luka hati baru.
Sedikit menghela nafas, ia berjalan pelan ke sisi ranjang putrinya, memberikan kecupan kecil dan membenarkan letak selimut sebelum akhirnya kembali keluar dari kamar itu. Berlama-lama memandangi wajah putrinya bukanlah hal yang baik, bukan karna Jimin membenci Yoonji, tapi justru sebaliknya.
Ia selalu merasa bersalah kala iris kelam persis seperti miliknya itu menatapnya, dia selalu teringat akan janji-janji kecilnya pada Yoonji yang tidak bisa ia penuhi.
Langkahnya kembali terhenti pada ruang baca miliknya, ia sudah tidak bisa tidur. Bayangan Yoongi yang terlihat begitu bahagia bersama Daniel selalu terulang bagai kaset rusak di benaknya, membuatnya tak lagi merasakan kantuk.
Ia mengambil sebuah buku kemudian mendudukan dirinya senyaman mungkin, tapi seluruh tulisan di buku itu sama sekali tidak masuk kedalam benaknya. Ia hanya membaca tanpa mengingat satupun kata yang dibacanya.
Pada nyatanya Jimin tenggelam dalam benaknya, memutar ulang semua kenangannya bersama Yoongi. Dalam Mansion besar ini memang tidak ada bayangan Yoongi sama sekali, tapi hal-hal kecil di sekitarnya mampu mengingatkannya akan sosok itu.
Dia akan mengingat Yoongi ketika melihat deretan novel, ketika ia berdiam didapur dan melihat peralatannya, ketika ia mengambil piring dari rak gantung bahkan ketika ia hendak terlelap pun bayangan Yoongi senantiasa menemaninya. Dan ini semakin diperparah dengan kehadiran perempuan itu dalam jarak pandangnya.
Dan apa yang dia katakan pada gadis itu saat terakhir kali? Menjadi teman? Oh! Ia rasa otaknya tengah rusak saat itu, bagaimana mungkin ia bisa berbicara begitu jika hidupnya saja masih terpusat pada perempuan itu?
“ Tuan Park?”
Jimin tersentak saat mendengar panggilan lirih menyerukan namanya, ia hampir saja melempar buku yang dipegangnya sebelum akhirnya menghela nafas pelan saat melihat sosok yang memanggilnya.
Hwang Ahjuma berdiri diambang pintu sambil membawa nampan berisi sebuah cangkir yang masih mengepul, entah berisi apa. Mata tuanya menatap sang tuan tidak enak, ia tahu kehadirannya sempat membuat tuannya terkejut.
“ O—oh Ahjuma,, ada apa?”
“ Maaf membuat anda terkejut. Tapi saya mebuatkan coklat hangat untuk tuan, saya rasa tuan tidak bisa tidur lagi malam ini” kata sang ahjuma sambil beranjak mendekat.
Hwang Ahjuma ini baru bekerja sejak ia dipindah tugaskan ke London, saat itu Kang ahjuma tidak bisa ikut pindah dengannya membuatnya harus mencari asisten rumah tangga baru untuk membantunya mengurus rumah dan Yoonji kecil di London sana, beruntung saat itu ia menemukan Hwang ahjuma.
KAMU SEDANG MEMBACA
House of Card
Fanfiction[End] Tidak semua cinta harus diungkapkan. Terkadang sesakit apapun perasaan itu lebih baik tetap dipendam. Tetap menjadi rahasia kecil yang dibalut dengan senyuman. Hanya untuk menjaga, apa yang baik tetap berjalan baik. Ikatan mereka memang telah...
