Chapter 21 - The Greatest Secret

1.3K 156 60
                                        

Minyoon
Gs Area
The Story is Mine
Happy Reading
.
.
.

Yoongi tidak tahu apa yang diperbuatnya ini sebuah kebenaran atau bukan, ia bahkan tidak sadar sudah meninggalkan Taehyun sendirian dimansion mereka begitu mendengar kabar Jimin masuk kedalam rumah sakit.

Pikirannya mendadak kosong, seakan tubuhnya bergerak sendiri hingga tanpa ia sadari sudah berlari begitu serampangan mencari nomor kamar tempat Jimin terlelap.

Yoongi baru mendapatkan kembali kewarasannya begitu matanya menangkap sosok Jimin yang masih terlelap begitu damai diatas ranjang pasien.

Seperti orang bodoh, Yoongi tertawa getir. Tawa yang terasa begitu pahit dengan wajah sembab, diliputi kecemasan yang tak bisa tertutupi.

Kadang Yoongi merasa bodoh dengan takdir,merasa begitu dipermainkan. Kenapa ia tidak pernah bisa menghapus Jimin dari hidupnya? Yoongi menyerah, terlalu lelah untuk menyangkal perasaannya sendiri.

Mematikan diri sendiri itu terasa begitu sulit, menyakitkan hingga pada akhirnya Yoongi tidak lagi sanggup untuk menolak. Terjerumus pada pengakuan bahwa hatinya masihlah milik pemuda ini, pemuda yang pernah menjadikanya gadis bodoh atas nama cinta.

“ Ah.. hal tolol apa yang sedang aku lakukan” Lirih Yoongi sambil menyeka air matanya yang tidak sengaja tertumpah, bentuk akumulasi dari rasa cemasnya terhadap Jimin.

Jika saja Jimin dalam keadaan sadar Yoongi pasti akan mengambil sikap definisif, mengubur perasaannya dalam-dalam dan siap melontarkan kata-kata pedas yang berpotensi menyakiti pemuda itu.

Yoongi menyadari meski hanya pertemanan seperti yang ditawarkan pemuda itu tempo lalu, bukanlah hal yang baik. Resiko untuk kembali terjatuh terasa sangat menakutkan, maka menjauh dari Jimin adalah hal yang paling baik.

Tapi sekali lagi, saat ini pemuda itu tengah kehilangan kesadarannya, tidak ada bola mata kelam yang dapat menarik Yoongi untuk kembali mengukir luka lama yang belum sepenuhnya mengering.

Membuatnya berani untuk menampakan seluruh perasaan yang sekian lama terpendam dan coba ia sangkal sekuat tenaga. Perasaan cintanya yang tidak pernah bisa goyah dari lelaki itu. Rindu yang begitu menggebu meminta untuk dituntaskan.

Dengan sedikit tergopoh Yoongi mendekat kearah ranjang, tepat disamping kiri pemuda itu. Hanya diam, sambil mengamati tubuh yang disadarinya semakin mengurus setiap harinya.

Ada perasaan sedih berkalang rindu yang tak dapat lagi ia sembunyikan, berakumulasi menjadi titik-titik air mata yang tanpa sadar tertumpah mengaliri pipi.

Tujuh tahun, Yoongi memutar ulang apa saja yang telah ia lewati tanpa sosok ini. Dua tahun pertama, ia jelas merasakan titik paling rendah dalam hidupnya. Menderita depresi hanya karna tak kuat menahan rasa bersalah serta rasa rindunya pada sosok ini.

Tujuh tahun, Yoongi melewati pergulatan hati setiap detiknya hanya untuk mengenyahkan pria ini dalam hidupnya.

Tujuh tahun yang kembali berakhir dengan kegagalan. Karna pada akhrinya, Yoongi kembali menyadari bahwa lelaki ini, sampai kapanpun adalah sosok yang paling ia puja.

Tempat dimana rotasi dunianya berpijak dan bermula, Yoongi tidak bisa lari karna pada akhirnya ia hanya kembali pada satu tempat yang sama.

“Park Jimin”

Ada getaran halus yang kembali menulusup dalam darah Yoongi begitu nama itu berhasil ia lantunkan, seolah sesuatu yang lama menghilang kembali terpanggil.

“Ada banyak hal yang sebetulnya ingin aku akui padamu.. ada banyak pengakuan yang ingin ku katakan” Yoongi merasakan nafasnya tercekat

“Aku ingin mengatakan semuanya padamu, demi Tuhan.. aku ingin mengatakan semuanya...”

House of CardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang