Chapter 29- Too Late

1K 116 12
                                        

Minyoon
Gs area
This Story is mine
Happy Reading
.
.
.

Daniel bergerak gelisah, kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme pelan seolah berusaha menenangkan debar jantungnya yang berdentum cukup kencang karna rasa gelisah.

Sesekali tangannya akan terangkat untuk mencoba mengetuk pintu meski akan berakhir dengan hela nafas berat penuh kegagalan. Keberanianya menguap, tergerus rasa bersalah yang menekan dada. Daniel sadar, ucapannya tempo hari memang sudah keterlaluan.

Dia memang sangat brengsek dengan meluapkan amarahnya pada sosok Minhyun yang bahkan pada saat itu hanya mencoba menenangkannya.

Daniel merasa begitu kurang ajar. Apa lagi kenyataan Minhyun mendiamkannya selama berhari-hari membuatnya bertambah frustasi.

Untuk itulah setelah mengalami pergulatan batin akhirnya Daniel berani mendatangi Minhyun untuk meminta maaf.

Pagi ini Daniel sengaja bangun lebih pagi, memesan satu meja di restoran hotel untuk mereka sarapan pagi dan menyiapkan seikat bunga mawar untuk usaha permintaan maafnya.

Langkah terakhirnya hanya satu, mengucapkan maaf kemudian membawa Minhyun untuk makan bersama. Harusnya terasa mudah, tapi rasa bersalah membuatmu kelu tak berani bahkan untuk sekedar mengetuk pintu.

Daniel menarik nafas panjang, mengumpulkan keberanian kemudian dengan gerakan mantap hendak mengetuk pintu.

Tapi gerakannya lebih dulu tertahan karna diketik selanjutnya pintu itu terbuka, menampilkan Minhyun yang sedikit terkejut menatapnya.

"Oh? Daniel?"

Daniel mencoba tersenyum sebaik mungkin tapi agaknya tak berhasil, karna yang terlihat hanya senyum penuh rasa canggung. Ia menurunkan tangannya yang sudah terangkat dan menatap Minhyun dengan gugup

"Eh? H—hai Hyun"
Daniel menelan ludahnya susah payah kemudian meringis lebar, tak tahu harus memulai dari mana.

"Ada apa kau kemari?"

Minhyun mengangkat sebelah alisnya menunggu penjelasan nadanya terdengar cukup ketus, sementara irisnya menatap lekat pada pemuda yang terjebak dengan rasa canggung ditempatnya, begitu kebingungan seolah akan membicarakan permasalahan besar.

Dan kemudian matanya menangkap buket mawar ditangan Kanan Daniel, sukses membuatnya semakin menyirit.

"Apa itu?"

Tunjuknya pada buket itu, seketika ia merasa begitu penasaran. Ia bisa saja mendesak Daniel untuk mengutarakan maksudnya, ia bisa saja kembali merelakan hatinya melayang dan berbesar kepala jika bunga itu sebagai tanda perasaan Daniel untuknya.

Akan tetapi pertengkarannya dengan Daniel tempo lalu berhasil membuat Minhyun sedikit menahan diri. Sadar sepenuhnya jika itu hanya sekedar angan, Daniel mencintai Yoongi setengah mati.
Dan ia tahu benar bagaimana Daniel ketika sudah jatuh hati, dia tipe lelaki setia. Minhyun menghembuskan nafas, detik itu hatinya kembali terasa nyeri.

Disisi lain Daniel gelagapan, kebingungan mencari alasan kuat untuk menjawab pertanyaan Minhyun. Matanya bergerak gelisah, kacau.

Rasa ego rupanya masih membumbung dihatinya membuatnya tak bisa mengucapkan kalimat permintaan maaf yang sudah disusunnya sejak dua haru lalu. Tapi rasa bersalah yang mencekiknya membuatnya bertambah semakin bimbang.

"Daniel?”

Daniel mendongak, terpaku pada wajah cantik itu. Tatapan Minhyun datar sekali, menusuk hingga kebagian terdalam hatinya. Pemuda itu menghembuskan nafas pelan, menenangkan diri sebelum akhirnya menyahut disertai demgan tatapan penuh ketulusan.

House of CardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang