Chapter 28- Step two to get closer

1.2K 127 12
                                        

Minyoon
Gs area
This Story is Mine
Happy Reading
.
.
.
.

Jimin tersenyum samar mengabaikan tatapan aneh dari beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya, ia terus melangkah dengan percaya diri menyusuri koridor rumah sakit tempat Yoongi menenggelamkan diri dengan kesibukannya.

Hari sudah menunjukan pukul empat sore, cuaca cukup mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Maka dari itu Jimin berinisiatif untuk menjemput Yoongi, takut jika perempuan itu akan kehujanan.

Padahal itu suatu yang tidak mungkin mengingat Yoongi memiliki supir pribadi yang disediakan Daniel untuk mengantar jemputnya selama pemuda itu tidak berada di Korea.

Jimin menghela nafas pelan, menyemangati diri sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri membuka pintu ruangan dihadapannya dengan sedikit lebar.

Pemuda itu tersenyum kecil saat mendapati Yoongi terkejut karna melihatnya, ia berjalan santai memasuki ruangan itu kemudian mendudukan diri dihadapan Yoongi seolah telah dipersilahkan.

" Jimin? ada keperluan apa kau kemari?"

Yoongi menyiritkan kening, menatap penuh rasa heran pada pemuda yang tengah menunjukan cengiran lebarnya

"Menjemputmu. Ada sesuatu yang salah?"

Yoongi memutar bola mata malas kemudian menyimpan dokumen yang tengah dibacanya keatas meja.

" Aku masih banyak pekerjaan, sebaiknya kau pulang saja." Kata Yoongi sebelum akhirnya kembali mengecek berkas-berkas kantor yang tadi sempat tertunda karna kedatangan pemuda itu.

Jimin mengulum senyum melihat bagaimana Yoongi berusaha menganggapnya tak ada. lucu sekali.

"Tidak apa.. akan ku tunggu"

" keras kepala"

Jimin tentu mendengar cibiran lirih itu, tapi ia memilih abai. Toh apa yang dikatakan Yoongi memang benar, Park Jimin memanglah seorang yang keras kepala terlebih jika itu menyangkut orang yang dicintainya.

Sejak lama Yoongi pasti sudah paham bagaimana tabiat buruknya yang satu itu. Jimin memilih diam, dengan iris kelamnya yang tak lepas memperhatikan setiap detail gerakan sang terkasih yang masih betah membaca deretan huruf yang Jimin rasa akan sangat membosankan.

Jadi Jimin memilih diam ditempat, menikmati mahakarya Tuhan yang terlampau luar biasa. Min Yoongi tidak pernah berubah, sejak dulu wajahnya tetap terlihat begitu cantik dan teguh disaat yang bersamaan, selalu berhasil menghantarkan denyutan kencang di relung dadanya.

Denyutan yang akhir-akhir ini mulai terasa menyakitkan, ia mencintai Yoongi dengan keseluruhan hatinya tapi penolakan Yoongi terasa seperti air es yang langsung membuat hatinya membeku. Membekukan nama Yoongi didalam sana.

"Kenapa memperhatikan ku begitu?"

Jimin tersadar, ia kemudian menarik senyum untuk membalas kalimat gugup dari sang terkasih. Menopang dagunya dengan sebelah tangan, kemudian menatap tepat diiris hazel yang menatapnya penuh kegugupan itu.

"Menikmati salah satu karya Tuhan.. kau terganggu?"

" Jelas.. aku tidak bisa membaca berkas dengan benar karna tatapan sial mu itu"

Jimin tergelak, merasa gemas dengan renggutan kesal milik sang terkasih. Jika saja hubungan mereka seperti dulu, Jimin tidak akan segan mencondongkan tubuhnya kemudian mencuri lumatan kecil dibibir mengerucut itu.

Tapi Jimin menyadari bahwa hubungan mereka sudah berakhir, hanya dirinya yang berjuang saat ini, ia tidak bodoh untuk menjadikan segala perjuangannya beberapa bulan ini menjadi sia-sia.

House of CardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang