Mendapatkan seseorang yang diimpikan memang sebuah kebanggaan, tapi jika benar benar terlaksanan.
"Apa hanya otak yang di pakai untuk berfikir. Otak juga berguna banyak."
"Salah satunya membuat wanita polos seperti Salsha yang tidak tahu tentang kebenaran menjadi sahabat dan akan gue buat melawan Aldi dan milik gue akan kembali menjadi milik gue. Tunggu gue Sal, tunggu gue membuat elo cinta sama gue dan ninggalin Aldi si cowok sok kuat itu. Dan pria ini yang akan menjadi tumpuan saat elo sedih."
Ya seperti itulah. Sekarang dia sedang bergulat dengan buku buku yang sangat tebal sekaligus banyak. Meninggalkan rumah dan selalu menetap pada apartemen itu membuat Iqbal menjadi sosok yang mandiri. Perusahaan ayahnya juga dengan mudah ia raih dan ia pergunakan untuk melakukan apapun.
"Waktu berjalan dan kenyataan juga akan terus berjalan." Ia kembali sibuk dengan rutinitas barunya. Kembali muncul. Dengan tatapan sahabat namun tekad menghancurkan.
***
"Ya ampun. Kenapa skripsi gak kelar kelar si. Ini berkas perusahaan juga kenapa gak selesai selesai. Gue butuh refresing astaga. Kepala bakal pecah nih kalo sampe gue gak lulus tahun ini. Otak encer ngebagi waktu kurang ajarnya kebangetan." Salsha menghela nafasnya kasar. Semua begitu penting untuknya. Namun kenapa kesibukan semuanya itu membuatnya pusing.
Suasana hening dalam ruangannya membuat Salsha kembali fokus. Jika saja ruangannya sangat ricuh dan berisik. Sudah di pastikan kantor ini akan Salsha buat hancur seketika. Kenapa saat umurnya menginjak 20 tahun emosinya sangat mudah tersulut.
Salsha kembali fokus dan tangan kanan yang memegang bolpoint untuk mengecek dan menanda tangani banyak berkas itu kembali meneliti.
Dering telepon kantor berdering nyaring dan membuat fokus Salsha kembali pecah. Ingin sekali Salsha membanting semuanya. Apalagi ini. Batin Salsha marah.
Ia mengangkat telepon tadi tanpa satu katapun. Dia menunggu si penelfon berbicara. Dan mungkin akan ia jawab jika perlu.
"Maaf nona Salsha. Ada kiriman paket dari Bandung untuk nona. Saya akan mengantarkan paket ini. Nanti saat jam nona Salsha sedikit agak longgar." Ucap resepsionis dengan sangat sopan. Kemarahannya kembali mereda.
"Antarkan saja sekarang." Salsha langsung memutuskan sambungan tadi dan menyandarkan punggungnya pada tempat duduk kebesarannya.
Hanya untuk merenggangkan otot sendi pada dirinya. Salsha kembali melanjutkan aktifitasnya.
Beberapa menit setelahnya. Terdengar ketukan pintu yang sudah Salsha yakini jika resepsionis yang akan mengantarkan paket tadi.
"Masuk." Jawab Salsha masih sibuk dengan pekeejaannya.
"Ini paketnya nona." Ia menyerahkan paket tadi dengan hati hati. Terlihat jika satu paket terdiri dari berbagai isi. Dari mulai bunga, kotak, dan yang lainnya. Memerlukan dua resepsionis yang harus mengantarkan.
Salsha tersenyum senang. Aldi memang sangat perhatian padanya. Dia yang sangat mengerti dan tahu tentang Salsha. Semuanya pasti Aldi yang mengirimkannya padanya.
"Simpan di sofa saja." Dan resepsionis tadi patuh dan menurutinya. Keduanya pamit kembali pada posisi kerjanya dan meninggalkan keheningan lagi.
Salsha berjalan mendekat pada kiriman pertama. Terdapat beberapa kiriman. Namun Salsha akan selalu fokus pada surat dan si pengirim itu. Ia kembali tersenyum ini sangat romantis.
By to Wife.Gue harap elo suka sama kiriman paket dari gue. Anggap aja ini cuma sapaan kita yang lama tak bertemu.
Wajah Salsha berkerut. Ia menautkan alisnya. Aldi menggunakan elo gue. Tampak asing. Pikir Salsha. Namun entah kenapa hanya dia pria yang selalu Salsha tebak, kira, dan fikirkan.
Pergerakannya ia perdekat dari tempat duduknya untuk menuju sofa. Ia duduk dan meraih satu buket bunga pertama.
Mencintai tak harus memiliki Sal. Dan harapan gue cuma satu. Jadilah milik gue untuk selamanya.
Banyak sekali ungkapan ungkapan ganji dari pesan ini. Apa sejak minggu kemarin Aldi menjadi aneh. Ia sempat meminta Salsha untuk jangan pergi. Dan Salsha akan selalu stay. Dan ini bahkan lebih aneh.
Salsha memantapkan jiwanya. Inilah pilihannya. Ia kembali mengambil buket bunga yang kedua.
Karna status tak menjamin kebahagiaan. Gue akan selalu ngebuat elo nyaman. Gue akan ngebuat elo sulit berpaling dari gue, dari hati gue. Dan sikap gue.
Salsha beralih pada kotak berwarna merah muda yang anggun. Ia tampaknya menghiraukan kata perkata tadi.
Ini lebih menarik. Batinnya. Salsha kembali tersenyum.
Cover memang tak menjamin. Namun lihatlah benda yang terdapat di dalamnya. Dan ini nyata.
Kalung.
Ini kalung.
Karna ini ada dua. Yang emas udah gue ambil. Gue harap yang perak elo pake.
Salsha mengambil kalung itu. Menempelkan pada leher jenjangnya. Ini pantas dan cocok untuknya.
Ia beralih pada paket selanjutnya. Kotak. Itu bukan kotak. Namun itu sangatlah anggun. Dengan warna putih sebagai balutannya.
Aldi mengirim paket dari Bandung. Salsha tahu jika Aldi pernah di Bandung dulu. Namun dia sedang di Jakarta. Dan paket ini tertulis dari Bandung.
Siapa pengirimnya.
******
"Gue harap Salsha masih akan stay sama gue. Entah sahabat gue yang akan maju satu langkah dulu dari perjuangan gue ini. Yang gue pengen cuma satu. Salsha percaya sama gue. Karna kepercayaan Salsha yang akan ngebuat gue bisa ngelawan dia. Dia sahabat gue." Aldi terus bergumam. Entah kenapa batinnya merasakan ada yang aneh untuk kedepannya.
Hari esok. Siapa yang tahu tentang hari esok. Bagaimana kita, akan seperti apa kita, dan akan terjadi apa pada diri kita.
"Cinta. Hubungan berlandaskan cinta aja bisa pecah bahkan roboh. Gimana saat cinta gue harus di uji dengan banyak rintangan yang ada."
"Gue Alvaro Aldianan Dirgantara. Berjanji. Melindungi. Menyayangi. Mencintai. Dan akan selalu menjaga Salshabila Clarista Adrin untuk selalu membahagiakannya." Aldi tersenyum senang disana. Dimana kesemuanya akan Aldi buat bahagia. Bersama Salsha. Salshabila Clarista Adrin.
01/09/2018:)

KAMU SEDANG MEMBACA
2ND LOVE [END]
Teen FictionBLURB, PART 1 SAMPAI PART 50 LIMIT COMFORT. Menjalani hubungan dari masa SMA sampai keduanya memegang saham dan menjadi penerus keluarga, hingga masa sulit perkuliahan membuat keduanya semakin dekat. Tidak ada keinginan berpaling, melepaskan, atau b...