Daegu, 07.00 Pm
Sudah waktunya makan malam, dan setelah perdebatan sore tadi runa benar-benar mengurung diri dikamar. Tapi berbeda dengan taehyung yang terus menerus mengganggu hera dengan menanyakan hal-hal mengenai pernikahannya dengan runa. Entahlah, tapi taehyung benar-benar begitu antusias kali ini. Kini mereka bertiga berkumpul di meja makan dan mereka tetap saling diam.
" eonni ... " sapa runa saat merasa keadaan mulai begitu memburuk
" malam ini kau tidur denganku dan biarkan taehyung tidur sendiri di kamarmu " jawab hera sambil beranjak meninggalkan meja makan.
Sontak runa dan taehyung menatap kepergian hera dengan penuh rasa bersalah. Kini runa menatap taehyung yang juga menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Tatapannya berbeda dari tatapan yang begitu antusias sore tadi. Tanpa basa-basi runa juga beranjak dari meja makan dan masuk kedalam kamarnya. Runa mengurung dirinya di dalam kamar, seolah semua kejadian buruk di bumi ini terjadi karenanya. Padahal mereka tidak tau bahwa dia adalah korban dari semua ini. Runa yang kehilangan masa depannya, runa yang kehilangan masa mudanya, tetapi seolah semua orang menyudutkan bahwa dia adalah sebagai pelaku utamanya. Sampai saatnya runa tak tahan lagi berada di dalam sana, pada akhirnya runa memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar. Rumah besar di isi oleh 3 manusia yang bahkan kini tak saling berbicara. Rasanya ini bukan lagi sebuah rumah. Ini hanya lahan dengan bagungan megah di atasnya dan tak berpenghuni.
Runa terus berjalan menyusuri jalanan dengan udara yang semakin dingin. Tidak memiliki tujuan, dan bahkan tak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
" o ... " runa mendongakkan kepalanya dan salju pertama mulai menyentuh wajahnya, perlahan runa menarik ujung bibirnya dan memejamkan matanya. Membiarkan salju terus menghujani wajah ayunya itu. Udara semakin dingin dan hujan salju mulai turun begitu lebat. Hidungnya memerah, tapi dia tak beranjak dari sana. " aku harus melewati salju pertama tanpamu, rasanya menyedihkan sekali " ucap runa sambil memandang langit hitam yang bertabur bintang. Nafasnya mulai mengeluarkan asap dingin, tapi dia tetap berdiri di sana dan memandang langit. " daehan-ah .. apa kau bertemu dengan tuhan disana ? Tanyakan kepadanya kapan dia akan menjemputku, aku hanya ingin bersamamu " sambungnya dan kini air matanya mulai menetes. Tapi saat itu juga runa di kejutkan oleh pelukan dari arah belakangnya. Dia memeluk dengan begitu erat dan nafasnya terasa begitu dingin melewati telinga runa.
" kenapa kau disini, aku mencarimu dan mengkhawatirkanmu " ucap taehyung sambil terus memeluk runa dari belakang dan membalut tubuh runa dengan coat nya
Runa menghindar dan berjalan selangkah menjauhi taehyung " pergilah, aku tidak membutuhkanmu " ucapnya tanpa menatap taehyung sedikitpun dan lalu runa melanjutkan langkahnya
" ya! " taehyung meninggikan suaranya dan mengejar runa yang terus berjalan menjauh darinya " ada apa denganmu " ucap taehyung yang kini berhasil meraih tangan runa
" pergilah, aku tidak ingin berdebat denganmu " jawabnya yang kini masih enggan untuk menatap taehyung
" ckk " taehyung menarik tangan runa dan memeluknya begitu erat sambil terus mencium ujung kepala runa, dan lagi-lagi runa hanya bisa menangis dalam pelukan itu. Sejujurnya bebannya sedikit berkurang karena pelukan itu. Tapi entah kenapa, hatinya seakan menolak keberadaan taehyung. Sebuah kekecewaan yang tak bisa lagi di ungkapkan dengan kata2 bahkan selalu terngiang di ingatannya. Runa sangat marah, kesal dan kecewa tapi runa tidak tau apa alasannya. Dia hanya merasakan hal itu saja. Runa tidak ingin kehilangan taehyung, tapi juga tidak ingin bersamanya. Kegundahan hati yang baru saja dia rasakan ini, benar2 menambah beban di hidupnya. Rasa sakit seakan terus menghantui kehidupannya sejak kepergian orang-orang yang dia kasihi.
" tolong pergilah " runa melepaskan pelukannya dan menatap taehyung
" kau beringus " jawabnya sambil membersihkan ingus yang kelaur dari hidung runa karena kedinginan
KAMU SEDANG MEMBACA
SINGULARITY
FantasySINGULARITY ( REVISI ) " dimana dia harus hidup dengan kepura-puraan dan menghilangkan jati dirinya "
