Airin beberapa kali mengomentari film tersebut. Mengajak Reno berdiskusi.
"Mas kalo nanti Binar udah besar dan punya pacar, bakal kayak Hopper juga ngga?". Tanya Airin.
Dalam adegan film itu, Hopper adalah ayah angkat dari El, tokoh perempuan yang baru menginjak remaja. Ia sedang berduaan di kamar bersama pacarnya, si Mike. Hopper membolehkannya tapi syaratnya adalah pintu harus terbuka selebar 3 inci. Agar pria itu tetap bisa mengawasi mereka berdua.
Reno mendesah tertawa.
"Jangankan 3 inci, cowonya Binar kalo mau main di kamar aku harus ikut". Kata Reno yakin.
Airin tertawa mendengarnya. "Kok gitu sih? Kan jadi ngga enak dong nanti cowonya. Masa mau pacaran diliatin bapaknya".
"Biarin aja. Kalo ngga mau ya mainnya harus di depan tv. Gaboleh di ruang tertutup".
Airin tertawa lagi. "Nanti kalo Binar ngga ada yang mau macarin gara-gara bapaknya galak, gimana?"
"Ya bagus itu. Kalo nggak mau sama Binar cuma gara-gara bapaknya galak ya berarti emang dia ngga beneran sayang sama Binar. Bagus itu". Kata Reno. Kini ia terdengar persis seperti bapak-bapak.
"Jauh jauh aja cowok kayak gitu dari Binar". Tambahnya mantap.
"Gitu yah?" Tawa Airin kini menjadi senyum lebar. Ia mengangguk anggukkan kepalanya, kagum atas jawaban bapak satu anak di sampingnya ini.
Lalu mereka lanjut menonton dalam diam. Sesekali tertawa dan Airin mengomentari filmnya dan Reno membalasnya. Atau terkadang hanya menanggapi dengan tawa. Malam itu mereka menghabiskan 2 episode. Satu hal yang Reno sadari perbedaannya dengan nonton tv sekarang dan sebelumnya adalah malam ini ia tidak merasa kesepian.
Senang rasanya bisa menonton series bersama orang lain dan berdiskusi terkait itu di sepanjang film.
Di tengah-tengah film, Reno tak lagi mendengar suara Irene berkomentar. Ia menoleh pada gadis itu. Airin tertidur, kepalanya bersandar pada tangan sofa yang diberi bantal, dan kakinya menekuk di atas sofa.
Ah, apa dia nyaman tidur seperti ini? Batin Reno.
Reno mengambil selimut di bawah meja, lalu ia sampirkan di atas tubuh mungil gadis itu.
Airin terbangun, "Maaf aku ketiduran". Katanya. Ia masih memaksakan senyumnya di tengah mata yang setengah terpejam itu.
"Udah selesai ya filmnya?" Airin menengok ke arah tv. Melihat credit scene pada layar tersebut.
"Iya, barusan selesai.. kamu lanjut tidur aja, aku juga mau tidur". Kata Reno lalu ia bangkit dari sofa. Ia mematikan tv.
"Ohh okey, met tidur Mas Reno". Ucap Airin setengah menguap, lalu ia kembali merebahkan dirinya di sofa sembari menarik selimutnya. Sedangkan Reno berlalu menuju kamarnya.
***
Keesokan harinya, Reno dan Binar terbangun bukan karena suara alarm seperti biasanya. Melainkan karna bau telur goreng.
Iya benar. Airin kalau masak telur goreng baunya bisa seenak itu. Kali ini untungnya Reno ingat untuk memakai bajunya sebelum keluar dari kamar.
Dua anak bapak itu bersamaan membuka pintu, menuju dapur dengan langkah gontai masih setengah mengantuk.
Mereka berdua kompak duduk di meja makan tanpa suara. Airin yang menyadari kehadiran mereka menoleh.
"Hey! Kalian udah bangun?". Kata Airin riang.
"Aku lagi coba bikin omurice pake bahan seadanya. Tunggu bentar yah". Katanya tanpa mengalihkan pandangan dari kompor.
Dua orang yang diajak bicara hanya mengangguk bersamaan meski teknisnya Airin tentu tidak melihat mereka. Perutnya sudah tidak sabar mau menerima masakan berbau sedap tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
AIRIN KUSUMA
FanficWattpad please do your magic! Halo semuanya! Aku mau minta tolong banget nih, kalau kalian lihat orang dengan ciri-ciri seperti gambar di atas, tolong segera hubungi saya ya. Kami sangat membutuhkan orang itu. Doakan semoga cepat ketemu. Terima kas...