42

562 103 87
                                    


Departemen Reno sedang berada di tengah rapat mingguan saat Jefri dan Jessi berbisik dengan memperhatikan teman kantornya yang beberapa bulan ini terlihat gila kerja dan lebih banyak diam.

Sebagai teman dekat Reno, mereka berdua tau bahwa Reno tengah patah hati. Putus dari pacar yang hampir ia nikahi. Airin. Satu-satunya wanita yang pernah bermain ke kantor Reno bersama anaknya.

Jessi memanggil dan melambaikan tangannya ke depan wajah Reno. Membuat lelaki itu tersadar.

"Eh? Kenapa Jess?" Tanya Reno.

"Lo jadi gantiin gue ke event di Fairmont nanti kan?"

"Oh.. iya jadi kok.. jadi"

"Okey then.."

".. Jangan banyak ngelamun nanti di event. Inget NET-WORK-ING!" Imbuh Jessi. Ia tidak mau Reno mengacau dengan lebih banyak diam di event nanti.

"Iya iya tenang aja." Balas Reno santai.

"No, gue serius. Gue mau kasih event ini karna lo bilang mau belajar keluar. Ke event yang lebih gede. Ini ntar yang dateng kesana investor-investor gede. Jadi gue harap lo sebagai pendamping anak PR dari departemen kita ga malu-maluin. Oke?"

"Siap grak komandan!" Reno justru bercanda dengan tangannya yang membentuk hormat.

Reno bersyukur ia memiliki teman-teman kantor yang sangat pengertian dengan kondisinya. Jessi, Jefri, Indra, dan teman-teman satu departmentnya yang lain. Ia yakin mereka sebenarnya tau alasan Reno akhir-akhir ini menjadi workaholic bahkan hingga overwork. Terutama Jessi dan Jefri yang pernah bertemu langsung dengan perempuan itu.

Tidak, Reno bukan sering melamun karena memikirkan Airin. Ya, meski beberapa kali memang wanita itu adalah penyebabnya, tapi Reno tidak mau mengakui bahwa alasan susah fokusnya akhir-akhir ini adalah karna merindukan orang itu.

Ia yakin ini pasti karna Binar. Putrinya itu sudah mau UTS. Ujian pertamanya di sekolah. Reno yakin ia ikut excited sekaligus cemas untuk Binar.

***

Menjelang jam 6 sore, Reno segera berangkat menuju hotel tempat event yang akan ia hadiri. Dalam hati ia sudah berniat untuk fokus. Ia cukup menantikan untuk datang ke acara ini.

Salah satu acara berskala Internasional yang dihadiri oleh banyak perusahaan pesaingnya dan juga investor-investor yang ingin mencari bibit unggul dalam berbisnis.

Ia bersyukur Jessi mau merelakan posisinya untuk menghadiri acara ini pada Reno. Jujur ia butuh suasana baru. Ia butuh tantangan baru. Dan dengan belajar hal baru serta bertemu dengan banyak orang baru mungkin akan membantu.

"No, nanti langsung ke lantai 7 ya. Gue uda di lokasi." Kata Indah, anak PR dari perusahaan Reno di seberang telepon.

"Oke oke, ini gue baru turun. Bentar lagi ke sana." Balas Reno kemudian mengakhiri panggilan.

Mobil sudah ia serahkan ke parking valet. Ia segera menaiki anak tangga menuju teras utama Hotel megah tersebut.

Pikirannya hanya fokus untuk segera ke lantai 7 tempat acara dilaksanakan. Hingga tiba-tiba netranya menangkap sosok familiar yang sedang keluar dari pintu utama hotel tersebut.

Sosok cantik yang berjalan melewatinya.

Reno berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Mungkin ia salah lihat. Berkali-kali ia mengerjap memastikan pandangannya tidak buram. Ia sering salah menilai orang, menganggap beberapa orang yang pernah ia temui sebagai Airin.

Tapi kali ini Reno yakin pandangannya baik-baik saja. Ia segera menoleh membalikkan diri.

Jantungnya semakin berdegup kencang. Dari belakang saja Reno sudah tau itu adalah punggung yang ia dambakan.

AIRIN KUSUMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang