Yang nunggu cerita Natal dan Brian, Mana suaranya? Aku akann update pertengahan bulan ini ya, sebenarnya awal bulan ini tapi karna ada sedikit kendala jadi aku tunda dulu.
☆☆☆
Malam berganti pagi. Hari ini suasana sarapan masih seperti biasanya, hangat dan tenang tidak ada yang marah dan membahas tentang kejadian semalam. Semua melupakan hal yang tidak mengenakkan itu demi keadaan Nayla. Lagi pula Nayla sudah menjelaskan kalau Nayla tidak bermaksud mengambil barang yang bukan haknya itu, ia sudah bilang akann di kembalikan saat di sekolah. Anin dan Arka juga tidak terlalu mempermasalahkan kemarahan Prisil jika wanita itu mencari masalah dan melaporkan ke polisi tentang masalah kemarin, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan menghadapi semuanya jika memang hal semalam menjadi masalah besar.
"Kamu nggak makan, El?" tanya Arka saat melihat Anin yang hanya diam menatap makanan yang ada di atas meja.
"Aku masih kenyang, Al." Arka menggelengkan kepalanya. Ia mengarahkan sendok makannya ke arah Anin.
"Kamu harus makan, El. Semalam kamu makannya sedikit terus mau bilang masih kenyang?" Arka menggelengkan kepalaanya dan memaksa Anin untuk makan.
"Nggak, Al. Aku kenyang."
"Nggak, Kamu harus makan El."
"Al..."
"Nggak, Harus Makan!" Dan Anin pun pasrah dan memakan makanan yang di suapi Arka. Makan yang harusnya Arka makan sudah habis, Arka tersenyum kecil melihat Anin yang makan begitu lahap. Tidak apa ia tidak makan yang penting istrinya makan pagi ini.
"Kamu jangan telat makan, El." Ucapnya lalu menngecup dahu Anin.
"Iya."
"Aku dan anak-anak berangkat dulu ya, Kamu di rumah baik-baik. Kalo ada apa-apa langsung hubungi Aku."
"Iya," jawab Anin lalu mencium tangan dan pipi Arka.
"Kita ke sekolah dulu ya, Mama."
"Iya," Balas Anin menngecup pipi ketiga anakknya secara bergantian.
"Jangan berantem di sekolah, belajr dengan baik juga."
"Iya."
Anin melambaikan tangannya ke arah mobil Arka yang melesat menjauh dari rumahnya. Setelah mobil itu tidak terlihat Anin cepat-cepat berlari ke kamar mandi dan memasukkan tangannya ke dalam mulut agar bisa memuntahkan isi makanan yang di makannya.
"Kali ini aku harus benar-benar nurunin berat badanku," Batinya seraya menatap cermin yang ada di kamar mandi dekat dapur.
Anin kembali memasukkan jarinya ke dalam mulut dan kembali mual dan muntah.
"Kak Anin kenapa?" Suara Zello membuat Anin tersentak. Ia lupa kalau keponakannya ini masih ada di rumah dan belum beranagkat ke sekolah.
"Zello?" ucapnya lalu mencuci mulutnya dan keluar dari kamar mandi yang pintunya lupa ia tutup.
"Ya. Kak Anin kenapa? Sakit ya? Zello telfon ka Arka ya?"
Anin menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau Zello menghubungi Arka dan Arka bisa tahu alasan kenapa Anin kurang makan.
"Nggak papa.. Kamu nggak ke sekolah?" tanya Anin mengalihka pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka & Anin 2 (✔)
General FictionCERITA KE III ANIN Anin dan Arka sepasang suami istri yang menikah muda, memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki yang kembar dan satu anak perempuan. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada si Daffa Adrian yang kalem seperti ayahnya, ada...
