Anin, Daffa dan juga Nayla sampai di rumaj yang tampak sepi. Kepala Anin masih pusing dengan kejadian tadi hingga membuat wanita itu sedikit sedikit memijit pelipisnya.
"Naynay masuk kamar dulu ya, Mama mau bicara sama Kakak Daffa dulu."
"Iya." Nayla langsung berlari masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua. Kamar ketiga anak Anin dan Arka memang sengaja ada di letakkan di lantai dua sementara kamar Anin dan Arka berada di lantia satu.
"Sekarang bisa jelasin ke Mama apa yang terjadi sebenarnya?"
Daffa hanya diam tidak mau bersuara membuat Anin menarik napasnya pelan dan memijit pelipisnya lagi.
"Kalo kamu sering dapat kekerasan di sekolah, Kamu bilang ke mama ya."
Daffa masih diam tidak mengatakan Ya atau pun tidak.
"Daffa..."
"Daffa capek Ma. Boleh Daffa istirahat?"
Anin mengangguk pasrah dan membairkan Daffa meninggalkannya. Tanpa terasa air mata Anin mengalir di kedua pipinya ia merasa Daffa tidak mau menyeruakan sesuatu yang harusnya ia suarakan. Anin tidak marah karna anaknya memukul anak orang lain hingga harus di rawat intensif di rumah sakit. Anin tahu pasti ada sebab hingga membuat Daffa anak yang baik dan penurut itu melakukan melakukan kekerasan pada temannya.
"Sabar Anin," ucapnya menghapus air matanya. Ia beranjak dan mulai memasak makanan siang untuk anak-anak dan suaminya.
Anin melirik timbangan yang ia sisipkan di bawah meja makan saat setelah selesai menata makanan di atas meja. Ia menarik timbangan tersebut dan menimbang berat badannya, Anin sedikit tersenyum melihat berat badanya sedikit menurun tanpa di sadari Daffa melihat hal tersebut.
"Mama.." Gumamnya pelan.
Mamanya pasti tersiksa dengan kegiatan diet ketatnya. Meski mamanya sering merahasiakan kegiatan yang sudah pasti akan di tentang Ayahnya tapi Daffa tahu hal tersebut. Sudah tiga kali ia melihat Mamanya yang selalu mencoba memuntahkan makanannya dengan cara memasukkan tangannya ke dalam mulut.
Daffa bersembunyi saat melihat Mamanya menatap sekeliling dan menyembunyikan timbangan di bawah kulkas.
"Kakak sedang apa?" tanya Nayla.
Daffa langsung membekap mulut adiknya dan memastikan Mamanya tidak mengetahui keberadaan mereka. Suara embusan napas lega terdengar dari Daffa saat melihat Mamanya yang tampak biasa saja di bawah sana. Tanda mamanya tidka tahu keneradaannha dan adiknya.
"Apaan sih Kak? idung Naynay jangan tutup susah napasnya tau!" ucap Nayla seraya melepaskan tangan kakaknya yang menutup mulut dan hidngnya.
"Pesek sih, jadi napasnya susah."
"Ih.. Jangan bilang gitu, pesek-pesek gini Nayla itu manusia. Lagi pula kata Mama pesek itu bikin orang kangen, Pesek itu nggak boros oksigen, " celutuk Nayla.
Daffa mendengus mendengar ucapan adiknya itu.
"Apa dah, Pesek itu mancung yang tertunda."
"Ck, Nggak papa Pesek yang penting cantik. Kalo idung mancung kayak kakak nanti di kira pinokio yang lagi bohong."
Dan Nayla beranjak meninggalkan Kakaknya itu. Ia langsung menghampiri Mamanya dan duduk di kursi.
"Panggilin Kakak kamu sayang," suru Anin pada Nayla.
"Nggak perlu Ma, itu kakak di situ," tunjuk Nayla ke arah kakaknya yang sudah berada di tangga.
"Daffa ayo makan," ajak Anin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arka & Anin 2 (✔)
Fiksi UmumCERITA KE III ANIN Anin dan Arka sepasang suami istri yang menikah muda, memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki yang kembar dan satu anak perempuan. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada si Daffa Adrian yang kalem seperti ayahnya, ada...
