Waktu itu siang hari dan sangat panas. Haechan yang baru saja pulang kuliah bersama Lucas yang menjemputnya itu segera berlari menuju kulkas. Mencari air dingin, sekalian mendinginkan badan dengan duduk berselonjor di depan kulkas.
Tapi berdecak kesal begitu menemui isi kulkas yang ternyata sudah hampir habis. Jadi badannya berbalik untuk menemui Lucas yang baru saja melepas jas kerjanya, dan hampir saja menanggalkan kemejanya.
"Kak" panggil Haechan
Lucas menatap Haechan yang duduk seperti anak kecil di lantai. Tungkainya berjalan menghampiri Haechan dan ikut duduk berselonjor bersama Haechan.
"Kenapa? Laper?"
"Iyalah. Belom makan dari pagi"
Bibir Lucas tersenyum lebar. Jarinya mencubit pipi gembul Haechan. Aduh, kalau begini kan Lucas jadi makin sayang.
"Yaudah, ayok makan"
Tapi keduanya hanya duduk diam tanpa ada niat untuk beranjak.
"Makan diluar" Haechan masih diam, kini malah mencebikkan bibirnya. "Sekalian mampir supermarket"
Haechan masih diam. Sesungguhnya kalau Haechan boleh jujur, dirinya sangat lelah. Belum lagi cuaca yang sangat panas. Bisa melebur gosong Haechan berlama-lama di luar ruangan.
.
.
Akhirnya karena sudah merasa kelaparan dan putus asa, Lucas benar-benar mengajak Haechan untuk makan di luar. Lalu kemudian mengaret sampai satu jam karena Haechan yang mengeluh panas, sementara di tempat makan itu adem karena ada acnya.
Setelahnya mereka pergi belanja. Haechan sedikit menyesal karena memakai hoodie Lucas. Dirinya jadi tenggelam dan kepanasan.
Tapi, tapi untung saja di dalam supermarket sedikit sejuk. Jadi Haechan tidak perlu lagi mengeluh panas dan minta pulang.
"Kak, es krim" kata Haechan saat baru saja memasuki pintu.
Lucas di belakang Haechan mengerjap. Kaget dengan Haechan yang tiba-tiba menatapnya dengan mata berbinar. Dan, mereka masih di depan pintu omong-omong. Menjadi tontonan pengunjung supermarket lainnya.
"Ayo masuk dulu. Beli es krimnya nanti aja kalo udah mau pulang"
Bibir Haechan mencebik. Lalu berjalan meninggalkan Lucas yang mengambil troli belanja.
Setelah puas berkeliling, Haechan mengeluh capek. Perutnya yang kenyang terasa seperti tergoncang karena dia gunakan berjalan. Lagi pula belanjaan mereka juga sudah lengkap. Hanya kurang satu lagi, makanan ringan dan es krim. Setelah itu mereka akan pulang.
Tapi, tapi karena memang merasa lelah, Haechan duduk bersila di depan rak. Menimbulkan kernyitan di dahi Lucas.
"Heh, ngapain malah selonjoran di situ?"
"Capek"
Lalu akhirnya Lucas membiarkan Haechan yang lagi-lagi duduk seperti anak kecil di lantai. Memilih makanannya sendiri. Sementara Lucas juga memilih sendiri.
"Misi mas"
Lucas sedikit bergeser untuk membiarkan seorang ibu-ibu yang mendorong trolinya melewatinya. Tapi ternyata ibu-ibu itu berhenti di samping Lucas yang memilih keripik kentang.
Haechan yang dibawah melirik sedikit pada Lucas yang berdiri membelakanginya. Di sampingnya ibu-ibu menatap Lucas seperti, lapar. Ha?
"Kalo saya punya suami, pasti udah minta antar suami saya"
Lucas memgernyit heran mendengar kalimat si ibu di sampingnya itu. Lalu, apa masalahnya dengan Lucas. Sama sekali bukan urusan Lucas kan.
"Mas nya punya istri?"
Ha? Lucas menengok ke sekelilingnya, lalu menunjuk dirinya sendiri. Bertanya, apakah yang ibu-ibu maksud itu dirinya.
"Belum" jawab Lucas sekenanya.
"Hebat ya si mas, ngurus anak sampai sebesar itu sendiri. Saya juga ngrawat anak sendiri, suami saya ninggalin saya waktu anak saya umur lima tahun"
Lucas semakin tidak paham dengan maksud si ibu ini. Sekali lagi, apa masalahnya dengan Lucas. Dan anak, anak siapa
Kepala Lucas menengok, menatap Haechan yang juga balas menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Anaknya udah kelas berapa mas?"
Lucas mengikuti arah pandang si ibu-ibu itu yang ternyata mengarah pada Haechan. Dahinya dia tepuk pelan. Ternyata yang ibu itu maksud anak adalah Haechan. Memangnya Lucas setua itu sampai mengira jika Haechan adalah anaknya.
"Maaf bu, tapi saya belum punya anak. Dia pacar saya"
Si ibu yang sebelumnya wajahnya berseri itu berubah jadi masam. Mirip ibu tiri di sinetron kalau kata Haechan. Bibirnya yang bergincu merah itu mencebik remeh.
'Makanya bu, inget umur' batin Haechan
"Oh" Lalu si ibu itu meninggalkan Lucas dan Haechan dengan wajah bingungnya.
Haechan kembali bertanya lewat matanya pada Lucas. Dan dibalas kedikan bahu. Tertawa kecil. Menurutnya ini agak aneh. Memang Lucas terlihat setua itu sampai ada yang mengira punya anak sebesar Haechan.
Tapi jika dipikir-pikir lagi, tidak salah juga si ibu itu mengira jika Lucas sudah memiliki anak. Lihat saja penampilannya. Kemeja putih Lucas yang digulung sampai siku, ah ya Lucas belum jadi berganti baju dari saat pulang kerja tadi.
Jangan lupakan otot tangan Lucas yang—Haechan sukai jika sudah memeluknya, karena rasanya nyaman. Ah, pipi Haechan menghangat. Masa bodoh lah, yang penting Lucas milik Haechan seorang.
...
Kenapa makin kesini aku makin aneh Hmm
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ternyata aku udah lama nggak ngedit, lagi gada bahan hhh😪