4. Tentang Prioritas

4.2K 381 18
                                        

"Sini, gue kasih tahu sesuatu. Gue adalah orang yang akan selalu memprioritaskan lo. Gue bukan dia, kekasih lo yang selalu mengecewakan lo."

- Ares Sandehang -

<<<>>>

Perhatian Ares terhadap layar televisi teralihkan saat mendengar dering ponsel Odit. Dari Si Domba. Ares memutar kepalanya, melihat ke arah dapur, tempat Odit dan Si Kembar sedang bersenang-senang. Untuk sekali ini saja, tidak masalah kalau Ares pura-pura tidak mendengar, bukan? Salah Rayhan sendiri yang membuat Odit kecewa kemarin, jadi Ares tidak mau membantunya. Panggilan itu berakhir, layar ponsel Odit mati. Tapi kemudian, Rayhan kembali menelepon.

Ares berdecak merasa waktu santainya terganggu karena Rayhan. "Nin, ada telepon dari Si Domba nih!" Mau tidak mau, meskipun sangat berat untuk memberitahu Odit, Ares akhirnya berteriak juga.

"Udah, biarin aja!" Odit balik berteriak dari dapur sana. Tentu saja, jawabannya itu membuat Ares menyeringai, merasa senang karena Odit lebih memilih untuk mengabaikan telepon dari pacarnya sendiri. Jarang-jarang Odit seperti itu. Biasanya, dia akan lari terbirit-birit sebelum panggilan itu berakhir.

Tapi sayang, kesenangan Ares harus berakhir ketika ponselnya yang berdering. Sudah dia kira, Rayhan akan selalu menelponnya kalau Odit tidak mengangkat panggilannya. Ares hanya terpaku melihat layar ponselnya yang yang menyala, menimang-nimang antara mengangkat atau mengacuhkan panggilan itu. Sudah bisa dipastikan, Rayhan akan meminta bantuan Ares untuk bisa kembali berdamai dengan odit.

Pada akhirnya, Ares menyambar ponsel itu dan segera berjalan menuju teras depan. "Kenapa?" Ares tidak bisa menyembunyikan nada tidak sukanya begitu panggilan itu terhubung. Kalau ditanya kesal atau tidak, Ares marah karena Rayhan sudah membuat Odit kecewa.

"Lo lagi sama Odit? gue telepon dia tapi nggak diangkat. Dia lagi sibuk, ya?" Nada suara Rayhan begitu lemah, pasti memikirkan tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua. Tapi dia tidak bisa menyelesaikan masalah itu dalam waktu dekat, terlampau sibuk sebagai ahli waris tunggal sebuah perusahaan besar. "Odit pasti udah cerita masalah kemarin sama lo. Dan lo juga pasti tahu apa tujuan gue nelpon lo kayak gini."

Sambil menatap langit pagi yang begitu cerah, Ares menyandarkan punggungnya ke tembok. "Lo tahu apa yang paling gue benci di dunia ini? Saat gue udah berjuang mati-matian, tapi nggak dihargain sama orang lain. Kayaknya bukan gue aja sih, lo juga pasti benci perasaan itu." Tidak ada tujuan lain Ares mengangkat panggilan dari Rayhan. Geli juga, sudah mirip pasangan gay. Dia hanya ingin mengatakan pada laki-laki itu bahwa sebuah kesalahan besar sudah membuat Odit kecewa. "Gue tahu, Nindya itu cewek lo. Tapi lo juga pasti tahu, dia berarti banget buat gue."

Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana. "Maksud lo, Res?"

Ares dan Rayhan hanya beberapa kali sempat bertemu. Bertemu dengan Odit yang statusnya sebagai pacar saja, Rayhan sangat kesusahan. Apalagi bertemu dengan Ares yang tidak memiliki kepentingan khusus. Tapi tiap kali dia terlibat masalah dengan Odit, Rayhan selalu meminta bantuan Ares. Tidak banyak yang tahu, kalau mereka berdua sering terlibat bersitegang melalui panggilan telepon seperti sekarang.

"Tiap hari, sebisa mungkin gue bikin Nindya senyum. Gue berusaha bikin dia seneng, nggak ada sedih-sedihan. Terus, lo seenaknya bikin dia sedih kemarin. Itu sama aja lo nggak menghargai gue, usaha gue." Ares bisa seserius ini kalau sudah membahas Odit. Ia yang biasanya membicarakan hal-hal tidak penting, melemparkan candaan garing, saat ini sedang bicara serius dengan pacar sahabatnya. "Lo tahu? Gue abis ngajar orang yang melecehkan cewek lo. Gue juga nggak sungkan buat ngajar siapa aja yang ngusik Nindya di kampus. Tapi ini lo, Ray, cowoknya Nindya. Gue nggak bisa hajar lo karena gue masih menghargai Nindya."

Mitologi Cinta [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang