23. Luka Serupa

2.2K 255 21
                                        

Gue punya cara yang basi untuk mencintai lo. Jadi jangan heran kalau gue juga punya cara yang basi untuk membuat lo tidak sedih lagi. Tapi, perasaan dan niat gue  sama sekali tidak basi. Itu benar adanya, dan tulus.”

- Ares Sandehang -

<<<>>>

Kalau biasanya Odit selalu bekerja dengan sangat profesional, kali ini dia benar-benar tidak fokus. Saat di ruangan wardrobe, Odit sibuk melamun, mengacuhkan make up artist yang sedang mendandaninya. Padahal biasanya, mereka selalu memiliki topik pembicaraan setiap bertemu. Entah itu tentang make up baru, brush dengan bentuk yang lucu-lucu, atau membicarakan tentang lebih worth it mana antara lipcream atau liptint. Tapi malam itu, Odit hanya memandang ke arah kaca dengan tatapan kosong. Dia sibuk dengan dunianya sendiri, dengan pemikirannya sendiri.

Dan sayangnya, ketidakfokusan Odit itu bukan hanya di bagian wardrobe saja, tapi juga sampai ke depan kamera. Bahkan, Odit tidak sadar kalau Farzan sudah berkacak pinggang sekarang. Sedangkan odit masih saja melamun.

“Dit ... Odit!” Panggilan pertama tidak digubris. Saat Farzan sudah meninggikan nada suaranya, baru Odit menoleh. Wajahnya terlihat bodoh, seakan mencari apa yang baru saja di lewatkan. “Lo kenapa nggak fokus kayak gini? Dari tadi lo nggak ngikutin arahan gue. Diminta senyum malah bengong, diminta lihat ke kamera malah bengong. Nggak biasanya lho lo kayak gini. Lagi ada masalah?”

“Maaf, Mas. Gue lagi ada pikiran.” Bisa dibilang, ini kali pertama Odit tidak fokus. Karena seperti yang pernah Farzan bilang, kerja Odit ja yang paling memuaskan untuk Pak Amir. Datang tidak pernah telat, selalu mengerti apa mau Farzan, selalu berakhir dengan pujian dari para klien. Tapi kali ini, dia sedang tidak bisa mengikuti ekspektasi orang lain.

Meskipun saat ini mereka dikejar deadline, tapi Farzan tidak bisa marah begitu saja pada Odit. Ini kali pertama modelnya yang satu itu tidak fokus. Farzan hanya bisa menghela nafas panjang, dan meminta semua orang untuk istirahat 10 menit. “Kita break dulu 10 menit. Yang mau ke kamar mandi pergi sekarang, yang butuh kopi buat sekarang. Pokoknya, habis break nanti, langsung balik lagi kerja.”

Sama, Odit juga menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Dia sangat merasa bersalah pada Farzan, pada para model, juga semua karyawan yang bekerja malam ini. Karena jika mereka terlalu sering istirahat, mereka juga akan pulang larut. Berapa model sama seperti Odit, merangkap dengan status sebagai mahasiswa. Mereka seharusnya istirahat, atau setidaknya mengerjakan tugas jika memang ada. Tapi gara-gara Odit, waktu istirahat mereka jadi terpotong.

“Temen lo kenapa sih, Res? Dari tadi kerjanya nggak fokus terus. Tumben-tumbenan juga datang ke sini telat, biasanya kalian berdua udah ada di sini lebih awal dari yang lain. Odit lagi ada masalah, ya?” Farzan memutuskan untuk menghampiri Ares yang duduk di tempat biasanya, di sudut studio, dekat pintu wardrobe.

Jika biasanya dia sibuk main game sambil sesekali menyeruput kopi di atas meja, kali ini Ares terus memperhatikan Odit. Dia juga harus rela memalingkan pandangannya untuk mengobrol dengan Farzan. “Iya, Mas. Masalahnya lumayan gede, jadi dia nggak bisa kerja bener. Tolong dimaklumi ya, Mas.”

“Ya nggak apa-apa, gue masih bisa santai kalau habis ini dia bisa balik fokus sama kerjaan. Gue khawatir aja, ini pertama kalinya gue ngeliat Odit kayak gitu, kayak orang linglung. Badannya doang di sini, pikirannya nggak tahu di mana.” Kemudian Farzan menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan kedua tangan yang menahan kepala. “Semua orang punya masalah, semua orang punya bahan yang perlu dipikirkan keras-keras. Gue, lo, Odit, semuanya. Cuma, kayaknya Odit tipikal orang yang yang bisa mengenyampingkan masalah pribadi kalau udah masuk sini. Dan kalau dia udah nggak fokus gitu, pasti masalahnya berat.”

Mitologi Cinta [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang