"Tuhan adalah pembuat skenario paling hebat. Dan kita dituntut untuk memerankan skenario itu sebaik mungkin. Hanya saja, tidak tahu kenapa, gue tidak suka dengan kehadiran dia dalam teks skenario punya lo."
- Afrodit Nindya -
<<<>>>
"Kak, coba deh lihat." Athena memperlihatkan hasil gambarnya. Dua anak kecil yang diapit dua orang dewasa menggunakan krayon. Tangan mereka saling berpegangan satu sama lain. "Bagus, kan?"
Odit tersenyum hangat sambil mengambil alih buku gambar Athena itu. Di saat anak seusianya berlomba-lomba menggambar gunung runcing serta sawah berbentuk kotak, Athena justru lebih sering menggambar keluarganya. Mungkin baginya, jauh lebih indah kebersamaan keluarganya dibandingkan dengan pemandangan alam yang imajinatif untuk anak Jakarta. Dan sekarang, cita-cita anak itu sudah berubah semenjak dua hari yang lalu. Bukan lagi ingin menjadi seorang chef, melainkan pelukis.
"Wah, bagus banget dong gambarnya." Odit mengusap puncak kepala gadis kecil itu. Athena memeluknya dari samping dengan begitu manja. "Ini Thena, Aet, sama Mami Papi, ya?" Odit menunjuk satu persatu karakter yang ada di kertas itu. Sudah sangat percaya diri tebakannya benar, tapi Athena malah menggelengkan kepalanya.
Sekarang giliran Athena yang menunjuk satu persatu karakter yang ia gambar. Mulai dari dua anak kecil yang ada di tengah, orang dewasa perempuan, sampai orang dewasa laki-laki yang ada di ujung kiri. "Ini aku sama Aet, ini Kak Odit, terus ini Bang Igel," jawabnya dengan begitu ceria. "Thena seneng deh bisa tidur sama Bang Igel kemaren. Tapi kemaren Bang Igel bawa temen ceweknya juga nginep di rumah Tante Lia. Orangnya baik sih, tapi Thena lebih suka sama Kak Odit."
Dan sekarang, terdengar decakan keras dari Ares yang duduk di kursi kemudi, serta kekehan Bu Alina yang duduk di sampingnya. Mereka baru saja kembali menjemput Si Kembar dari rumah Bu Lia, ibu Bara. Karena ketika Bu Alina dan Pak Krisna ke Lombok, mereka lebih sering menghabiskan waktu di sana. Meskipun sudah pulang, Si Kembar masih saja meminta untuk diantar ke sana. Karena beliau tinggal sendiri, Rigel, Nilam, dan Tata sangat sering berkunjung, bahkan sampai menginap. Dan tentu saja, kehadiran Si Kembar menambah kemeriahan kebersamaan mereka.
"Tapi kenapa harus sama Bang Igel segala, Dek? Bang Ares lho yang anter jemput kamu ke rumah Tante Lia, Abang yang ajak kamu jalan-jalan, yang anter kamu ke sekolah. Masa malah gambar Bang Igel sih?" protes Ares tak terima. Tapi tentu saja, ada Aether yang mengejeknya dari belakang.
Sekarang, Athena tampak berpikir. Lengkap dengan telunjuk yang disimpan di sudut bibir serta bola mata yang melihat ke atas. Setelah mendapatkan ide, barulah Athena tersenyum penuh percaya diri. "Ya udah, nanti aku sama Aet diantar sama Bang Igel aja kalau mau kemana-mana. Bang Igel pasti mau kok, kan baik. Iya kan, Mi?"
Sukses sudah Athena membuat abangnya kehabisan kata-kata, hanya bisa memukul stir untuk berpura-pura marah serta mendelik tajam dari kaca spion. Memang salahnya yang lebih sering menjahili adik-adiknya dibandingkan memanjakan mereka. Berbeda dengan Rigel yang memiliki panggilan kekananakan untuk mereka berdua, my queen dan my king. Rigel lebih sering membantu Athena menggambar, sementara Ares merusaknya supaya bisa melihat Athena menangis. Rigel lebih selalu berperan sebagai power ranger teman Aether, sementara Ares sebagai godzila yang harus mereka lawan. Tak jarang, Aether juga menangis karena Ares tidak sengaja menginjak kakinya saat bertarung. Alasan yang cukup logis sehingga mereka lebih menyukai Rigel dibandingkan kakak kandung mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mitologi Cinta [Tamat]
Tiểu thuyết chungSpin of 'Jurnal Tentang Kamu' dan 'Rasi Rasa'. Seperti yang dikisahkan dalam mitologi Yunani, Ares adalah Dewa Perang. Kekuatan yang ada di kepalan tangannya mampu membuat orang lain patah tulang hidung dengan sekali pukulan. Dan itulah yang membua...
![Mitologi Cinta [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/193797558-64-k384939.jpg)