"Sedang di mana pun lo berada, gue mohon, selalu baik-baik saja. Karena bagaimana pun juga, hati gue ikut ke mana lo pergi. Kalau lo kenapa-napa, begitu juga dengan hati gue."
- Ares Sandehang -
<<<>>>
Sebenarnya Ares bingung, kenapa Odit masih bisa bersikap begitu tenang setelah apa yang dia katakan kemarin pagi? Apakah di sini hanya Ares yang memutar otak sampai jungkir balik karena memikirkan tentang hubungan mereka? Ares bahkan tidak bisa bersikap normal di depan Odit. Sepanjang perjalanan menuju kampus, dia terus saja mendiamkan Odit. Bukan bermaksud demikian, Ares hanya takut salah bicara ataupun salah tingkah yang bisa membuat Odit menyadari kegugupannya. Bisa-bisa, Ares malu karena ditertawakan sampai puas. Iya, dia hanya punya malu kalau sudah berhadapan dengan Odit.
"Nanti perlu gue tungguin di backstage, nggak?" Odit berbalik setelah beberapa saat dia keluar dari mobil Ares. Dia bisa melihat dengan jelas tingkah Ares yang gelagapan. Bahkan barusan, dia hampir terjatuh karena tersandung sesuatu. Odit menyipitkan matanya. "Lo sakit, Res? Dari tadi gue perhatiin, lo diem mulu. Terus wajah lo pucat. Yakin bisa tampil?"
"Gue pucat bukan gara-gara sakit, Nin! Tapi gara-gara lo!" teriak Ares dalam hati. Ares tersenyum bodoh, berusaha untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya. "Hah? Kata siapa gue sakit? Nggak kok! Gue baik-baik aja, lo nggak perlu khawatir. Mungkin ini cuma efek demam panggung, sekarang kan harus tampil di depan orang banyak. Nggak usah mikirin gue sampai segitunya, Nin, gue baik-baik aja."
Kening Odit berkerut. Sejak kapan Ares bisa mengalami demam panggung? Dia sudah biasa tampil di khalayak ramai dari zaman SMA. Itu juga bukan hanya untuk acara sekolah mereka saja, tapi juga biasa tampil di sekolah yang lain. Band yang dibentuk Ares, Rigel, dan Bara juga sering tampil untuk galang dana yang melibatkan pihak sekolah lain. Dia sudah sangat biasa memukul drum di atas panggung dengan begitu banyak orang dihadapannya. Kalau ditanya dia mengalami gugup atau tidak, Ares selalu mempunyai jawaban tersendiri.
"Tampil di depan orang-orang segitu doang sih kecil! Tampil di depan Pak Jokowi juga gue nggak bakalan gugup!"
Baiklah, untuk sekarang, Odit harus merasa puas saja dulu untuk jawaban Ares. "Jadi, gimana? Perlu gue datang ke backstage nanti?"
Ares melangkah untuk mendekati Odit. Kali ini dia harus hati-hati, jangan sampai tersandung kakinya sendiri. Kalau sampai jatuh, bukan hanya Odit yang akan tertawa kencang, tapi semua orang yang saat ini ada di parkiran. Ares menggandeng bahu Odit seakan-akan dia dalam kondisi normal. "Iya dong, lo harus datang ke backstage. Tapi nanti, kalau ada yang minta nomor HP lagi kayak dulu, kasih aja nomor HP gue. Kalau ada yang ngerokok di sana, baru lo keluar. Jangan lepas dari Tata, tapi harus jauh-jauh dari Haya, oke?"
Odit mengangguk sambil melangkahkan kakinya dengan tangan Ares yang menggandeng bahunya. Tapi sayang, mereka harus berpisah begitu di depan pintu kelas Odit. Ares harus bersiap-siap dengan anggota The Earsucker yang lain. Mungkin mereka akan tampil selepas makan siang nanti, tapi harus latihan di ruang musik dari sekarang. Semoga saja Ares bisa fokus saat di atas panggung nanti. Karena kalau tidak, Bima bisa memukulnya menggunakan bass milik Rigel.
"Kenapa muka lo kayak gitu? Ditolak sama Odit, ya? Ahaha ... Muka lo ngeselin banget, Nyet!" Cemoohan dari Devon langsung menyambut kedatangan Ares. Dua orang yang sedari tadi sibuk memainkan ponsel pun ikut menoleh. "Udah sih, Res, kalau emang nggak jodoh nggak usah dipaksain! Gue takutnya lo jadi nggak waras kalau terlalu ambisius. Mendingan lo sama temannya Odit aja noh. Siapa sih namanya? Haya?"
"Ekhem!" Bima berdeham seketika, membuat Devon langsung bungkam saat itu juga. Dia melirik sang tersangka dengan tatapan tajam. Kemudian beralih pada Ares yang terlihat linglung. "Lo bisa fokus nggak buat tampil nanti? Kalau sampai lo bikin malu gue di atas panggung, gue nggak bakalan mikir dua kali buat out." Tuh kan, ancamannya saja membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mitologi Cinta [Tamat]
General FictionSpin of 'Jurnal Tentang Kamu' dan 'Rasi Rasa'. Seperti yang dikisahkan dalam mitologi Yunani, Ares adalah Dewa Perang. Kekuatan yang ada di kepalan tangannya mampu membuat orang lain patah tulang hidung dengan sekali pukulan. Dan itulah yang membua...
![Mitologi Cinta [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/193797558-64-k384939.jpg)