Acrophobia

231 17 4
                                        

Kansa mulai menaiki tangga. Disusul El yang terus berkelana dengan pikirannya. Sekarang ia menebak akan ada apa di luar pintu yang sebentar lagi akan dibuka oleh Kansa. Saat ia menyadari satu hal, ketakutan itu menghampirinya.

Kansa sudah membuka pintu. Membuat mereka bertemu rooftop yang luas di gedung tinggi itu. Seketika El berjongkok takut. Ia masih mengenggam tangan Kansa. Kepalanya pusing.

"El, kenapa?"

"Gu-e ta-kut ke-ting-gi-an," kata El sambil menahan deru jantungnya yang berdetak diluar nalar.

Seketika Kansa panik luar biasa. Selama ia membersamai langkah El, Kansa tak tahu kalau El takut dengan ketinggian. Sebisa mungkin Kansa tetap terlihat tenang agar El tidak semakin ketakutan.

"El, lihat mata aku," pinta Kansa tenang.

El tetap menutup matanya.

"El," panggil Kansa lagi. "Lihat gue, El." Kansa mengatupkan kedua disi wajah El.

"Kalo lu nggak liat bawah, lu akan baik-baik aja. Jangan bayangin hal yang aneh-aneh. Bayangin angkasa yang selalu indah. Bayangin taburan bintang yang jarang kamu temukan di kota metropolitan."

El mulai mengikuti intruksi Kansa. Ia membuka pelan matanya sambil sesekali menyipitkan mata sebelum terbuka semua. Mata dan pikirannya ia coba sesuaikan dengan keadaan sekitar. Rooftop yang luas dengan cat warna hijau. Ada garis segi delapan di tengah-tengah. Lalu matanya mengarah ke angkasa. Ia menemukan nyala bintang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Penuh memenuhi langit hitam.

El tersenyum lega. Satu ketakutannya teratasi dengan baik.

"Aman?" Kansa masih memperhatikan gerak-gerik El.

"Aman," balas El sambil tersenyum senang.

"Sekarang berdiri."

El mengikuti langkah Kansa yang berjalan ke tengah. Lalu duduk di sana. Menikmati setiap inci deru napas yang terhembus pelan. Menyenangkan, batin El senang.

"Seru?" tanya Kansa.

El menganggukkan kepala.

"Lebih seru mana sama nonton konser?"

"Tergantung."

Kansa menjatuhkan tatapannya ke manik mata El sembari mengerutkan kening.

"Tergantung konsernya siapa. Tergantung keadaan semesta. Bisa jadi kita nonton konser dengan bintang tamu favorit kita tapi semesta lagi nangis."

"Maksudnya lagi hujan?"

"Iya."

"Kan jadi romantis."

Sekarang gantian El mengerutkan kening.

"Iya. Nanti aku bakal manyungin kamu pake jaket aku. Terus..." Kansa mengerling, menatap wajah El yang kebingungan.

"Terus lu bakal sakit. Gue males ngingetin lu buat makan kalo lagi sakit. Lu kalo sakit nyebelin, asli." El bersungut. Ia membuang muka ke langit.

"Ah... kangen marahnya El," kata Kansa sambil menidurkan kepalanya di atas paha El yang sedang duduk bersila.

El menegang sesaat tapi kemudian mulai membiasakan. Tatapannya jatuh ke wajah Kansa yang menghangat.

Juga, batin El sambil tersenyum.

"Hari ini ngapain aja lu, El?"

El berpikir sebentar. "Banyak."

"Satu."

ELKANSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang