Kania menjerit saat ia tahu konspirasi apa yang sedang terjadi di belahan bumi Jakarta ini. Kota dengan polusi tertinggi di Indonesia ini ternyata menyimpan konspirasi yang amat membuat Kania terkejut sampai matanya melotot.
"Jadi maksudnya, Triyas buat lu seakan-akan lu yang bersalah atas kecelakaan yang menimpa Raka biar lu putus sama Kansa. Begitu?"
El tersedak mendengar penuturan tak masuk akal dari mulut Kania. Bakso yang ia makan, tak tertelan dengan baik. Beberapa hampir masuk ke tenggorokannya hingga membuatnya harus meneguk air cukup banyak. "Siapa yang bilang gitu?"
"Konspirasi apa ini?"
"Siapa yang buat konspirasi?"
"Triyas sama Raka."
"Astaga. Pikiran lu macem-macem," kata El sebelum menyuapkan satu bakso ke mulutnya.
Ia mengira suasana kantin yang semrawut di siang yang cukup terik ini, membuat otak Kania tak berjalan dengan baik. Bayangkan saja, di depan beberapa kedai makan yang berjajar, berjibun manusia dengan segala keinginan yang tak bisa dilawan. Masing-masing berdiri sambil membawa nampan berisi makan siang untuk kemudian menunggu mendapat kursi agar segera bisa menikmati makanan. Semuanya makin semrawut saat Kania mulai menjelaskan tentang konspirasi yang ia maksud tadi.
"Coba ini ditelaah, Triyas tau kalo lu punya mental yang sedikit aneh..."
Belum sempat Kania menyelesaikan kalimatnya, El sudah mendorong tubuh Kania dengan sedikit keras. "Heh, mental gue baik-baik saja."
Kania tersenyum tanpa rasa bersalah. Ia kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong. "Nah dari sana, Triyas manfaatin itu biar lu ngerasa bersalah. Dari rasa bersalah itu, lu bakal putus sama Kansa."
Jika dipikir-pikir, apa yang disebut Kania sebagai bagian dari konspirasi semesta sedikit ada benarnya. Namun, ia tak bisa menuduh orang tanpa bukti apapun.
"Lu makin ngawur, sumpah," kata El akhirnya.
"Gue serius, El."
"Ayo cabut. Gak kuat gue di sini. Ditambah omongan lu yang makin melebar kemana-mana," kata El sambil bangkit dari duduknya.
Kania segera mengikuti El. Ia menenteng totebagnya dengan gerakan cepat.
"El, tunggu gue."
Sampai di ujung koridor menuju tangga, El menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Membuat Kania kesal bukan main.
"Aduh!" Pekiknya sambil mengelus dahi yang terlanjur menabrak punggung El. "Ada apa sih, El? Berhentinya nggak usah pake mendadak bisa nggak?"
Kania menggeser tubuhnya ke sebelah kiri El untuk melihat ada gerangan apa di depan sana. Namun, kehadiran sosok tinggi nan tampan itu malah membuat Kania menyenggol bahu El dengan malu-malu.
"Dasar lu, ketemu pacar aja masih kaget. Kayak ketemu mantan aja."
Seketika El melotot ke Kania. "Kami belum resmi balikan."
"Bukan pacar?"
"Bukan."
"Mantan?"
"Iya."
"Masih sayang." Kania menaik-turunkan alisnya dengan bangga.
El makin melotot pada Kania.
"Hai," sapa Kansa tepat di depan El.
"Hai," jawab El sambil tersenyum.
"Masih kaku aja, Neng." Kania sukses membuat El malu setengah mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELKANSA [END]
Ficção Adolescente[Romance-Teen Fiction] 15+ How Can I Love The Heartbreak, cause You're One I love "El, kamu harus ikutin kata hati." "Nggak mau. Hati selalu nyakitin kalau diturutin." "Buktinya?" "Gue ngikutin kata hati buat mulai percaya sama lu. Tapi lu malah...
![ELKANSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/210242221-64-k761467.jpg)