"El, punya pacar itu enak ya?"
El sedang mencoba menutup mata saat tiba-tiba Triyas nyeletuk dengan pertanyaan retoris yang aneh. Ia mengangkat kepala, menatap Triyas yang sedang sibuk membuka lembar buku entah berjudul apa.
"Setiap hari disapa, ditanyain sudah makan atau belum. Ada temen nonton, hangout setiap weekend." Triyas melanjutkan halunya.
El memutar bola matanya dengan malas. Kemudian menghembuskan nafas dengan kasar.
"Lu kira semua orang pacaran bakal kayak gitu? Lu kira orang pacaran bakal dijamin kebahagiaannya? Nggak ada yang bisa jamin seseorang akan bahagia saat mereka memutuskan untuk komitmen dengan orang asing."
"Kenapa lu nyebutnya orang asing?"
"Iyalah. Orang yang lu disebut pacar itu adalah orang asing. Awalnya, lu nggak kenal. Dia bukan keluargamu, nggak ada hubungan darah sama lu. Bukan juga saudara jauh lu. Cuma orang asing yang coba semesta pertemukan dengan lu. Dia bukan siapa-siapa, Yas."
Triyas terdiam. Ia menelaah setiap kalimat El.
"Tapi kan dia adalah orang yang kita sayang."
Kali ini gantian El yang terdiam. Ia teringat pada Kansa.
"Dia tetep orang asing."
"Oke." Triyas mengiyakan saja.
"Dan perlu digaris bawahi, nggak selamanya orang yang pacaran itu bakal terus bahagia. Ada badai sebesar samudra yang siap menghadang mereka."
"Contohnya?"
"Perihal tempat makan aja kadang bisa jadi bomerang. Apalagi kalo udah beda prioritas. Seakan tembok Cina jadi penghalang kalian berdua."
"Nggak mungkin kayak gitu," Triyas mengelak.
"Coba aja sendiri."
"Mau coba sama siapa? Jodoh gue belum kelihatan."
Kali ini El tertawa. "Lu lama-lama kayak Kania. Ngebet pingin punya pacar."
"Beda. Kalo dia itu jomlo akut." Triyas membela diri.
"Jomlo teriak jomlo," cibir El yang disusul dengan gelak tawa. Beruntung mereka sedang berada di ruangan kedap suara, sehingga mereka tak menganggu pengunjung perpustakaan lainnya.
Tawa El berhenti saat ponselnya menyala. Menampilkan notifikasi pesan masuk dari aplikasi chat-nya.
Kansa:
El
El menghembuskan nafas keras. Ia kira dengan hanya me-read chat dari Kansa beberapa waktu yang lalu, Kansa bakal tahu kalau ia sedang tak ingin diganggu.
Elisha:
Kenapa, Sa?
Kansa:
Lu nggak beneran ngejauhin gue kan?
Elisha:
Nggak.
Bukannya lu yang diemin gue?
Kansa:
Gue nggak pernah diemin lu.
El kembali menghembuskan nafas dengan kasar.
Elisha:
Coba diinget-inget lagi. Lu diemin gue lagi, Sa.
El kemudian mengganti nada dering ponselnya menjadi silent. Sengaja ia diamkan agar ia tak termakan nafsunya untuk membuka ponsel setiap kali notifikasi pesan muncul di layar. Ia bersiap tidur siang.
***
Hari berlalu. Review mata kuliah Hukum Dagang telah lewat tanpa halu. Semuanya lancar tanpa perlu ada yang dikhawatirkan. Mungkin ada jawaban yang melesat sedikit karena soalnya berbentuk uraian. Tak masalah bagi El. Selagi semua soal terjawab, El bisa tersenyum tenang.
El sedang memeriksa beberapa artikel di area tempat duduk pojok yang ada di kantor. Beberapa reporternya sudah mengirim artikel mingguan untuk diterbitkan di website pers.
"Ngapain, El?" tanya Kansa dengan nada ramah. Nada suara yang hanya Kansa tujukan kepada orang-orang spesial di sekitarnya. Termasuk El.
"Cek artikel," jawab El datar. Ia tak mengalihkan tatapannya dari layar hp.
"Mau makan nggak? Makan yuk," ajak Kansa setelah menarik kursi untuk duduk di hadapan El.
El menghentikan kegiatan membacanya. Ia menatap Kansa dengan raut wajah bingung. "Tumben lu ngajak gue?"
"Ya nggak pa-pa. Masak aku nggak boleh ngajak kamu makan."
El suka mendengar Kansa memakai sebutan aku-kamu. Namun, sebagian hatinya takut untuk berharap lebih. "Gue nggak laper."
"Terakhir makan jam berapa?"
"Tadi pagi. Jam 9."
"Ini udah sore banget. Lu seharian ini nggak makan. Bahaya!"
"Iya. Nanti gue makan sendiri."
"Sekarang aja. Biar ada temennya makan."
El menatap manik mata Kansa. Lu nggak boleh rapuh, El.
"Nggak nanti aja."
"Sekarang aja. Ayok." Kansa mulai memaksa. Walaupun dengan suara lembutnya.
"Nggak, Sa. Gue nggak nafsu makan," kata El yang kemudian beranjak dari duduknya. Ia memilih untuk menyingkir dari hadapan Kansa.
Baru aja El selangkah berdiri dari hadapan Kansa, seorang kru menghentikan langkahnya.
"El, reporter nggak ada yang mau nemenin anak foto buat liputan. Katanya sibuk semua." Itu suara Sam. Ia datang dengan raut wajah yang ditekuk. Antara capek dan pasrah.
"Ha?" El kaget. "Liputan pentas seni itu ya?" kata El sambil mencoba mengingat jadwal liputan hari ini.
"Iya."
El mengurai rambut panjangnya ke belakang. Baru aja ia ingin bernafas lega, tapi semesta menyapanya tanpa bisa diajak kerjasama.
"Udah bilang ke Anin?" Seharusnya Pimred yang menyelesaikan masalah seperti ini.
"Anin nggak bisa dihubungin. Kayaknya masih ngurus berkas buat pengajuan magangnya."
El merasa batu besar telah ditimpakan di pundaknya.
"Okey. Aku coba hubungin mereka. Ngelobi mereka. Nanti aku kabarin lagi kalau udah ada reporter yang mau liputan. Misal nanti nggak ada, berarti cukup galeri foto aja ya..."
"Iya. Aku mikirnya juga gitu. Galeri foto aja."
El menganggukkan kepala.
"Ya udah. Aku lanjut buat persiapan liputan ya... acaranya habis magrib. Ini udah jam setengah 6."
El kembali menganggukkan kepalanya. "Thanks ya Sam."
Hufft...
Ia membuang nafas dengan kasar sambil meniup anai rambut yang mencuat di depan matanya.
"Nah... mending makan dulu. Kamu harus makan, El."
"Ada yang lebih penting yang harus gue kerjain, Sa." El menatap binar mata Kansa yang meredup. Ada kilat kekhawatiran di sana.
"Sambil makan bisa kan?" kata Kansa tegas. "Pokonya ayo makan."
"Iya, iya. Habis sholat magrib. Gue mau ke masjid duluan. Bye," kata El cepat. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan kantor menuju masjid kampus yang terletak tak jauh dari gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).
El ingin menenangkan pikiran dan hatinya. Beban berat tiba-tiba menimpa pundaknya. Rasa kesal dan senang menjadi satu hadir tanpa permisi. El benci ketika akhirnya otak dan hatinya tak lagi seirama. Di satu sisi ia ingin bersama Kansa, ingin menaruh harap lebih pada laki-laki tampan tapi dingin itu. Namun, di sisi lain pikiran membuat hatinya takut setengah mati. Mantan selalu jadi hal yang paling menakutkan, apalagi untuk diputar ulang.
Mungkin emang benar, hati dan pikiran takkan pernah bisa sejalan. Kalau mereka sejalan, takkan ada masalah, takkan ada kata maaf, takkan ada rasa terima kasih, takkan ada kehidupan. []
Boleh comment apapun. Jangan lupa di klik bintangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELKANSA [END]
Teen Fiction[Romance-Teen Fiction] 15+ How Can I Love The Heartbreak, cause You're One I love "El, kamu harus ikutin kata hati." "Nggak mau. Hati selalu nyakitin kalau diturutin." "Buktinya?" "Gue ngikutin kata hati buat mulai percaya sama lu. Tapi lu malah...
![ELKANSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/210242221-64-k761467.jpg)