"Gimana ini, gue pingin punya pacar..."
Dahi El berkerut ketika Triyas mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sering didengungkan Triyas ketika temannya itu mulai frustasi dengan status jomlonya. Selain Kania, Triyas menjadi salah satu temannya yang sering mengeluh perihal pacar yang tak segera dimiliki.
"Gue pingin gitu punya orang yang setiap hari mau dengerin curhatan gue." Triyas berucap lagi.
El memutar matanya dengan malas. Sambil duduk di ranjangnya, ia memerhatikan Triyas yang sedari tadi uring-uringan. Sehabis matkul hari ini, Triyas memutuskan untuk ikut pulang ke indekos El. Ia sedang malas untuk pulang ke rumah. Ceritanya, Triyas sudah tidak kuat jomlo terlalu lama.
"Gimana caranya biar bisa dapat pacar?" tanya Triyas dengan ikut duduk di ranjang. Ia duduk berhadapan langsung dengan El.
"Ha?"
"Pingin gitu El punya pacar. Lu enak udah punya Kansa." Kali ini Triyas duduk mendekat berhadapan dengan El. Ia menatap El dengan ekspresi merajuknya.
El sendiri bingung harus menanggapinya seperti apa. Fakta yang perlu digaris bawahi di sini adalah Kansa bukan miliknya seutuhnya.
"Kansa bukan pacar gue," kata El kemudian.
"Tapi dia selalu ada untuk lu."
El memang tak bisa menampik itu.
"Lu sekarang masih jalan sama Kansa?"
"Sesekali."
"Makan bareng?"
"Sering."
"Terus ngapain lagi?"
"Dia partner nonton gue."
"Nonton?"
"Iya."
"Dibayarin?"
"Iya."
"Partner jalan juga?"
"Bisa jadi."
"Kayak gitu nggak kamu sebut pacar juga?"
"Emang bukan pacar gue."
"Kenapa kalian nggak balikan aja sih?"
El terdiam. Ini adalah pertanyaan yang tak pernah berani ia jawab. Hati kecilnya mengatakan ia tak bisa kembali pada Kansa. Banyak hal yang membuatnya tak bisa kembali pada Kansa. Namun, di sisi lain ia tak bisa bayangin kalau Kansa sampai berpindah hati ke cewek lain.
"Kok diam?"
"Gue bingung, Yas."
"Apa yang lu bigungin?"
"Gue nggak bisa balik ke Kansa."
"Kenapa?"
El nggak siap kalau sampai hal kayak dulu kejadian lagi. Ketakutan itu tiba-tiba hadir, menyeruak. Membuka lubang hitam di hatinya.
"Udah sore ni, Yas. Kamu nggak pulang?"
Mendengar pertanyaan El, membuat Triyas mengerutkan kening. Sesuatu hal terjadi pada El. Ketika ia ingin menyuarakan maksudnya, El sudah berdiri.
"Oh iya, Yas. Gue baru inget. Gue harus pergi ke toko buat beli persediaan makanan. Nanti malem gue mau nglembur edit artikel. So, sorry ya... bukan maksud gue buat ngusir nih..."
"Eh, iya. Nggak pa-pa. Gimana kalo sekalian bareng keluar aja? Kuanter ke toko swalayannya?"
"Gue mau mandi dulu. Bau banget nih gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
ELKANSA [END]
Teen Fiction[Romance-Teen Fiction] 15+ How Can I Love The Heartbreak, cause You're One I love "El, kamu harus ikutin kata hati." "Nggak mau. Hati selalu nyakitin kalau diturutin." "Buktinya?" "Gue ngikutin kata hati buat mulai percaya sama lu. Tapi lu malah...