Kendali Masing-masing

98 6 3
                                        

Malam semakin larut saat El tiba di kosnya. Angin malam menerpa wajahnya yang terlihat lemas. Keadaannya lebih dari kata berantakan. Wajahnya kusut. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Jaket kedodorannya dipakai secara asal. Kedua matanya menatap pintu dengan tatapan sendu. Satu air matanya menetes tanpa aba-aba. Kemudian, ia beralih menatap pintu kamar Kania yang sunyi nan senyap itu.

"Kansa ninggalin gue lagi, Kania.

"Padahal dia janji nggak pergi lagi.

"Dia janji bakal selalu ada buat gue."

Lalu pikirannya terbang di saat Kansa memintanya untuk kembali percaya.

"Kali ini nggak akan lagi."

"Gue takut, Sa."

"Ada gue di sini. Lu nggak perlu takut."

"Lu janji kali ini nggak bakal ninggalin gue lagi?" tanya El yang mulai bisa mengontrol kembali emosinya.

"Janji."

Lalu secepat kilat berpindah ke obrolannya bersama Kania saat di swalayan.

"Gue yakin, dia bisa nyembuhin trauma lu."

"Walaupun dia bagian orang yang nyiptain trauma itu?" Tanya El ragu.

Kania menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Orang yang nyiptain luka, juga punya potensi untuk menyembuhkan trauma."

El membuang nafas kesal. Ia berdiri sambil berkacak pinggang tepat di depan pintu kos Kania.

"Lu liat, kan? Kansa ninggalin gue lagi. Lu bilang, dia bisa nyembuhin luka gue. Mana, Kania? Dia bohongin gue lagi," ucapnya dengan nada marah.

"Dia dengan seenaknya bilang mau berhenti saat gue udah mulai nyaman lagi. Saat gue udah mulai percaya lagi, saat gue udah sayang lagi." Nafas El naik turun.

"Oke, gue emang pernah minta dia buat bilang jika dia mau berhenti. Namun, bukan seperti ini, Kania. Dia berhenti mendadak setelah ngajak aku terbang sampai langit ke tujuh. Lu tau apa yang kemudian terjadi, gue kehilangan pegangan. Gue jatuh, Kania."

Lalu El terduduk luruh bersandar tembok balkon depan kamar kos. Kedua lututnya bertemu muka dengan wajahnya. Ia sembunyikan wajahnya di sela kedua lututnya. Air matanya mengalir deras. Hatinya sakit tak tertahan. Jantungnya berdetak menahan perih yang tak kasat mata.

"Dia ninggalin gue lagi, Kania," katanya lirih sambil menekan dadanya. Sesekali ia menepuk-nepuk tepat di jantungnya. Berharap sakit itu akan hilang, atau mungkin setidaknya berkurang.

Ia sudah menahan sesak sejak perjalanan pulang dari apartemen Kansa. Semua kalimat yang tadinya ingin ia utarakan di depan Kansa, akhirnya dapat ia muntahkan juga. Walaupun itu terjadi di depan kos yang penghuninya sedang ada di rumah sana.

"Apa ini firasat yang lu maksud, Kania?"

"Apa seperti ini, rasanya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?"

Lalu tangis itu makin tak terkendali. Sesaknya juga makin menyakitkan. Jantungnya seperti ditusuk berkali-kali.

"Tuhan, gue nggak kuat menahan rasa sakit ini. Sakit banget, Ya Tuhan..."

Lalu El melakukan itu lagi. Ia tekan kuat-kuat pergelangan tangannya menggunakan salah satu kukunya yang panjang. Ia tekan terus sampai semua rasa sakitnya berpindah tumpu ke sana. Ia menekannya tanpa peduli darah yang mulai keluar. Saat jantungnya mulai berkurang sesaknya, wajahnya memucat. Lalu semuanya terasa gelap tapi menenangkan bagi Elisha.

ELKANSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang