Asing Di Rumah Sendiri

87 5 0
                                        

El berada di stasiun. Ia sudah cukup putus asa menghadapi kesendiriannya di kota. Kansa meninggalkannya, Triyas sibuk dengan masa libur semesternya di rumah, Kania juga. Ia juga masih canggung untuk bertemu dengan Raka, maka tak ada kegiatan lain yang bisa ia lakukan selain pulang ke kampung halaman. Luka di pergelangan tangannya sudah lumayan mendingan. Ia hanya cukup memakai handband untuk menutup kain kasa yang masih melilit lukanya. 

Tak banyak barang yang ia bawa. Ia hanya membawa ransel ukuran sedang yang berisi beberapa pakaian dan peralatan makeup juga skincare. Karena minggu depan ia sudah harus kembali ke kota untuk acara amal yang diadakan forum diskusinya. Triyas bahkan berkali-kali mengingatkan untuk kembali ke kota, padahal sampai di kampung juga belum.

Perjalanan di kereta ia habiskan dengan duduk menghadap jendela sambil mendengarkan musik. Ia usaha untuk tidak mengingat seinci pun tentang Kansa. Laki-laki itu sudah berhasil dengan telak menjatuhkannya. Jatuh sejatuh jatuhnya. Bahkan ia hampir tak ada daya untuk bangkit lagi. Percaya yang coba ia pupuk dengan baik, malah diracuni dengan mudahnya. Mirip hama yang disiram pestisida. Atau mungkin selama ini Kansa hanya menganggap dirinya seperti hama. Cuma pengganggu saja.

Apa seharusnya ia berdoa pada Tuhan untuk menjadi jomlo saja? Seperti Triyas dan Kania. Dua temannya yang masih setia dengan status jomlo akutnya. El tersenyum sendiri. Aneh rasanya. Dua temannya itu begitu mendambakan sosok Kansa. Namun, dirinya malah dicampakkan begitu saja.

Rumah berpagar besi bercat putih yang mulai terkelupas catnya menyapa El. Rumah sederhana yang selalu jadi tujuan untuk kata pulang. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu. Ia sudah tak sabar bertemu dengan ibu dan kakaknya. Mereka pasti akan terkejut dengan kepulangannya yang tanpa rencana.

Namun, pintu itu terkunci. Jendelanya tertutup. Tak ada tanda-tanda bising musik yang biasa dipasang kakaknya. Atau suara ceklekan kompor yang biasa dilakukan ibunya di dapur. Lampu rumah mati. Tak berpenghuni. Padahal hari sebentar lagi petang, kenapa rumah tak ada orang?

El memutuskan untuk menunggu. Sembari menunggu, ia berkeliling ke halaman rumah yang terlihat sudah lama tak dirawat. Beberapa pot bunganya pecah seperti sengaja ditendang. Tanamannya juga sepertinya sudah lama tak terjamah. Padahal, dulu ia bersama kakaknya sangat suka berkebun. Setiap hari minggu mereka akan membersihkan rumput liar dan menata tanaman di dalam pot. Lalu menyiram tanaman yang berakhir dengan mandi di halaman. Ah,semuanya hanya menyisakan kenangan. Ia sudah sibuk kuliah, sedangkan kakaknya sibuk usaha untuk bisa lolos tes CPNS sebagai tenaga pendidik.

"Mbak Elisha, ya?" Seorang laki-laki berumur 30-an yang lewat menyapa El. Membuatnya menghentikan kegiatannya menata pot bunga.

"Iya," jawab El sambil tersenyum. Ia mengira dia merupakan salah satu tetangganya.

"Tumben pulang, mbak?"

"Libur semester, Mas."

"Oalah... nunggu ibuk berarti ya?"

"Emang ibuk ke mana?"

"Kerja, mbak."

El terdiam. Sejak kapan Ibuk bekerja? Yang ia tahu, ibunya selalu tinggal di rumah, memasak untuk keluarganya.

"Palingan nanti jam 7 pulang. Kalau nggak lembur tapi," jelasnya lagi.

Ia coba untuk menganggukkan kepala. Walaupun kenyataan ini tak masuk akal baginya. Ia paham betul seperti apa ibunya.

"Ya udah, mbak. Saya mau ke kota dulu. Ada perayaan di alun-alun Solo."

"Oh iya, mas. Makasih ya mas," balas El sambil menatap kepergian laki-laki itu.

Kini El kembali terduduk di kursi teras rumah. Rumahnya masih sepi. Ibunya juga tak ada tanda-tanda akan pulang. Ia makin larut dalam kebingungan. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Sejak kapan ibunya bekerja? Jika ibu bekerja, ayahnya ke mana? Atau mungkin kakaknya tak lolos ujian CPNS? Kenapa pot bunga bisa pecah? Hiasan rumput mengering, dan halaman rumah nampak gersang nan berantakan.

ELKANSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang