Ruangan serba putih itu hening. Hanya ada decit kursi ruang tunggu yang berganti diduduki. Langkah-langkah orang berjalan terasa menggema di koridor. Menemani kegelisahan Kania saat dokter mengatakan El butuh banyak darah untuk operasinya. Sedangkan golongan darahnya berbeda dengan sahabatnya.
"Golongan darah pasien B-. Sayangnya stok di rumah sakit sedang kosong. Jadi kita harus menunggu kabar dari PMI."
"Berapa lama, Dok?"
"Kita harus menunggu."
"Terus teman saya bagaimana, Dok?"
"Untuk sementara waktu ini, pasien dalam keadaan pingsan. Dia harus segera dioperasi maksimal 2 jam dari sekarang."
Dokter itu terdiam sebentar. "Apa pasien sering melakukan self injury?"
Kania terhenyak. "Nggak sering kok. Setahunya saya baru satu kali."
"Tapi ada dua bekas luka baru di pergelangan tangannya."
Kania makin merasa bersalah karena telah meninggalkan sahabatnya sendirian. Ia hanya menatap dokter itu dengan ekspresi bingung.
"Ya sudah. Untuk sementara waktu kita tunggu sampai dapat pendonor darahnya. Kita fokuskan untuk menyelamatkan nyawa pasien dulu."
"Baik, Dok."
"Saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter."
Kania mengambil duduk setelah dokter itu meninggalkan pintu ruang gawat darurat. Lalu dengan cepat ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Ia coba minta tolong ke teman-temannya yang memiliki golongan darah sama dengan El agar bisa membantunya. Ia juga coba menghubungi keluarga El lewat ponsel milik El yang ia bawa. Ia harus segera mendapatkan donor darah agar El secepatnya dioperasi.
Saat Kania masih di ambang kegelisahan, Kansa datang dengan langkah pelan dan wajah menunduk. Seketika amarah Kania naik ke ubun-ubun.
"Lu apain temen gue?" Tanyanya penuh amarah sambil mendorong tubuh Kansa.
"Lu tega ya? El udah sayang sama lu, tapi lu malah buat dia kayak gini." Kania tak bisa jadi kuat. Ia menangis sambil terus mendorong dan menyalahkan Kansa.
"Gue nggak tau, Kania. Gue cuma takut sama mimpi gue," balas Kansa dengan nada penuh penyesalan.
"Maksud lu?"
"Gue terus menerus mimpi tentang El. Di mimpi itu, El terus saja menangis. Gue udah coba berusaha melakukan apapun di mimpi itu agar El berhenti menangis, tapi tetep gak bisa. Mimpi itu terulang tanpa bisa dicegah." Kansa menjeda kalimatnya, "karena gue takut itu terjadi di masa depan, gue memilih untuk berhenti dari El. Gue takut El nggak bahagia kalo bareng gue."
Kania menatap Kansa dengan tatapan benci. Demi apapun ia menyesal telah membiarkan El kembali kepada Kansa.
"Cuma gara-gara itu?"
"Gue tau, gue salah."
"Kalo lu tau itu salah, KENAPA LU LAKUIN ITU?" Kali ini Kania benar-benar geram pada Kansa.
"Bentar," tiba-tiba Kania teringat sesuatu. "Lu putus sama El kapan?"
"Jumat setelah lu pulang."
Sedetik kemudian, Kania mulai paham dengan situasi yang terjadi sekarang. Kejadian yang diceritakan Anna kemarin, terjadi pada hari yang sama dimana Kansa memutuskan sahabatnya.
Kini, amarahnya sudah berlipat ganda. Ia marah kepada dirinya karena telah pulang ke rumah dan meninggalkan sahabatnya dengan laki-laki berengsek macam Kansa. Seketika sumpah serapah keluar dari mulut Kania.
"Lu berengsek. Anjing. Gila. Nggak waras!" Nafasnya putus-putus. "Lu pembunuh!!"
"Lu nggak tau, kan apa yang terjadi malam itu setelah lu putusin El? Gue hampir kehilangan sahabat gue."
Lalu Kania terduduk dengan wajah menunduk. Tangisnya semakin menjadi. Penyesalannya makin berlipat ganda. Hanya El yang ia punya setelah kemarin ia membantu menyelesaikan kasus perceraian ibunya. Ia hanya punya El untuk terus mendukungnya. Namun, yang terjadi malah di luar ekspektasinya.
Ia berdiri menuju pintu ruangan untuk menatap tubuh sahabatnya yang terkapar di ranjang. Lu lebih gawat daripada gue, El.
Ponsel Kania berdering.
"Lu masih di rumah sakit?" suara Raka langsung menyapa telinganya.
"Masih."
"Gue ke sana sekarang."
"Mau ngapain?"
"El butuh donor darah B- kan?"
"Iya."
"Golongan darah gue sama. Gue ke sana sekarang."
Secercah harapan membuat Kania tersenyum. "Thanks, Raka."
Kemudian komunikasi diputus. Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering.
"Iya, Tante. Ini Kania, temen kosnya El."
"Tante titip Elisha dulu ya? Ini Tante dalam perjalanan ke sana. Oh iya, kamu bisa bantu untuk mengurus administrasinya dulu? Tante harus cari pinjaman dulu."
"Iya, Tante. El punya asuransi kok."
"Syukurlah kalo begitu. Tante ini dari Solo naik kendaraan umum. Jadi mungkin agak lama."
"Iya, Tante. Aku bakal jaga El di sini."
"Titip Elisha dulu ya,"
"Iya, Tante."
Kemudian komunikasi ditutup. Kania segera melangkah menuju meja administrasi untuk mengurus semua yang harus ia urus.
Namun, beberapa menit kemudian, ia kembali ke ruang tuggu tempat El dirawat. Ia berdiri di hadapan Kansa yang duduk menatap lantai rumah sakit.
"Sa. Lu harus bantu gue," katanya sambil menyodorkan lembar administrasi rumah sakit.
"Gue kira sesuatu telah terjadi sama keuangan keluarga El. Jadi gue nggak bisa minta ibunya El untuk membayar semua ini sekarang. Asuransi milik El cuma bisa untuk perawatannya saja. Nggak termasuk operasinya. Dan gue nggak punya uang sebanyak ini untuk membayarnya."
Kansa menerima lembar itu. "Oke. Biar gue yang urus."
"Lu serius?" Tanya Kania lirih.
"Lu ngeraguin gue?"
"Lu udah tiga kali buat El kayak gini. Ini yang paling parah. Siapa tau lu mau bunuh El sekarang."
"Astaga. Gue sayang sama El!"
"Kalo lu sayang, KENAPA LU NINGGALIN EL?" Kania tetap tak bisa menahan amarahnya jika berhadapan dengan Kansa.
"Gue udah jelasin alasannya."
"Alasan lu nggak masuk akal."
"Tapi it--"
"Jadi, dia yang bikin Elisha kayak gini?" Potong Raka ketika sampai tepat di samping Kania.
Serempak, mereka beralih menatap Raka.
"Apa perlu dia gue bunuh sekarang juga?" Tanyanya dengan geram.
"Jangan sekarang!" Kania ikutan geram. "Biarin dia bertanggung jawab sama apa yang udah ia lakuin."
Kansa berdiri dengan wajah dingin. Ia juga menahan amarah untuk sikap Raka yang sok jadi pahlawan untuk El. Walaupun ia juga tak pantas untuk jadi hero bagi gadis itu.
"Gue bakal urus administrasinya dulu."
"Inget! Urusan kita belum selesai." Raka memperingatkannya.
"Gue tunggu."
Lalu Kansa berjalan menuju koridor lain untuk menghubungi ibunya. Hanya ibunya yang bisa memahami dan membantunya. []
KAMU SEDANG MEMBACA
ELKANSA [END]
Novela Juvenil[Romance-Teen Fiction] 15+ How Can I Love The Heartbreak, cause You're One I love "El, kamu harus ikutin kata hati." "Nggak mau. Hati selalu nyakitin kalau diturutin." "Buktinya?" "Gue ngikutin kata hati buat mulai percaya sama lu. Tapi lu malah...
![ELKANSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/210242221-64-k761467.jpg)