Bukan Jumat Seperti Biasanya

83 6 0
                                        

Hari ini adalah hari Jumat. El berencana akan memasak untuk Kansa di apartemen laki-laki itu. Ia sudah menenteng tas belanjaannya yang berisi beberapa sayur dan makanan yang bisa diawetkan. Ia juga sudah menghubungi Kansa terkait rencananya sore ini.

El hendak membuka pintu untuk keluar saat ponselnya tiba-tiba berdering. Nampak nama redaktur majalah tertera di layar.

"Iya, La. Gimana?"

"El, lu nge-up artikel apaan di siber? Kok isinya gitu banget."

"Gitu banget gimana maksudnya? Gue dua hari terakhir ini belum nge-up apa-apa di siber. Gue masih proses edit tulisan indept masalah omnibus law."

"Beneran?"

"Iya. Emang ada apa?"

"Lu harus cek siber. Ada 2 artikel yang nunjukin keberpihakan kita di Pemira. Ini udah banyak yang tanya soal oposisi pers kampus."

Deg. Jantung El seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik. Ia menjatuhkan tas belanjaannya tepat di depan pintu.

"El, lu masih di sana?"

"I-iya," El mencoba mengatur detak jantungnya.

"Cepetan dicek. Kalau lu yakin, lu nggak nge-up artikel itu, ditarik aja. Habis itu, langsung ke kantor. Ini semua orang lagi nunggu konfirmasi langsung dari lu."

"Oke, La. Segera setelah selesain yang ini, gue langsung ke sana."

"Hati-hati, El."

Segera, setelah menutup panggilan dari Kaila, El membuka web pers kampus. Saat bertemu beranda siber, dua artikel baru sudah bertengger di sana. Ia mulai membaca. Artikel pertama berupa rubrik sosok dari salah satu paslon. Ia kira artikel kedua masih dalam satu rubrik dengan artikel sebelumnya, tapi dugaannya salah. Artikel yang kedua makin salah kaprah.

Masih membahas paslon yang sama, artikel kedua ini berupa rubrik opini tanpa nama penulis. Bukan sekedar pendapat penulis terhadap paslon, di sana tertulis ajakan untuk memilih paslon tersebut. Sesekali penulis menyisipkan kelebihan-kelebihan paslon tanpa diimbangi dengan sisi lainnya. Ini sudah lebih dari buruk.

Tanpa pikir panjang, El menarik dua artikel itu. Lalu dengan gerakan cepat ia keluar dari kos lalu mengunci pintu. Secepat mungkin ia melangkah agar segera sampai di kantor. Ia yakin, semua orang sedang menunggunya.

Sebenarnya masalah ini akan terlihat biasa jika ini terjadi di salah satu stasiun TV. Stasiun Tv sudah sering menanyangkan tayangan yang berfokus pada salah satu paslon pada saat pesta demokrasi. Mereka butuh dukungan dana, politik TV sangat diperlukan saat masa pesta demokrasi. Namun, ini tidak berlaku untuk pers di kampusnya. Independen menjadi ciri khas pers di kampus El. Apalagi di masa Pemira seperti ini, tidak boleh ada artikel yang condong ke salah satu paslon. Semuanya harus imbang dan mempertimbangkan cover bothside.

Benar Kata Kaila, banyak orang yang menunggu dirinya di kantor. Kansa juga sudah duduk di pojok ruangan. Tatapannya tak berekspresi dan dingin. Tak jauh dari Kansa, ada Pradipta yang duduk bersila diikuti dengan Anin dan redaktur lainnya. Beberapa staff kru dan reporter juga ikut dalam rapat dadakan itu.

"Coba dijelasin dulu, El. Maksud dari lu nge-up artikel itu apa?" Pertanyaan dari Pradipta langsung menyapa El saat ia selesai duduk di muka kru lainnya yang duduk melingkar di ruangan.

"Demi apapun gue nggak nge-up artikel itu."

"Tapi El, dari semua kru yang ada, cuma lu yang punya akses siber pers," kata Anin yang duduk di sebelah Pradipta.

"Iya. Tapi gue ninggalin history di komputer kantor. Gue yakin seseorang baru aja mengakses webnya dari komputer kantor."

"Nggak ada, El. Nggak ada history yang nunjukin itu."

ELKANSA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang