Setelah hampir satu minggu tidak menginjakkan kaki di kantor pers kampus, El akhirnya berani untuk kembali. Ia sudah menyiapkan hati jika nanti ada satu atau dua kru yang nyeletuk tentang baku hantam antara Kansa dan Dito. Ia juga tak bisa marah kalau akhirnya merekla menyalahkan dirinya.
El yang suka nyuruh liputan.
El yang suka minta setor isu.
El yang suka ngingetin deadline.
El yang suka ganggu kenyamanan orang lain.
Siapa sih yang mau punya redaktur kayak gitu?
Mungkin memang seperti itu jadi pemimpin. Selalu jadi bahan guncingan serta pembicaraan. Iya, kalau baik. Kalau itu buruk, siapa yang menginginkan itu?
Ponsel El berbunyi. Ada satu pesan masuk.
Triyas:
Cepetan masuk. Ambil berkasnya. Terus pulang.
El membaca pesan itu lalu mengalihkan tatapannya ke parkiran. Tepat di area parkir sebelah kiri dekat gerbang, Triyas sedang memandangnya. Sambil duduk di atas motor, memegang hpnya, Triyas menatap El dengan penuh kekesalan.
El meringis pelan. Ia memang berniat ke kantor pers hanya untuk mengambil berkas isu liputan yang minggu lalu tertinggal di sana. Namun, ketika ia hanya berjarak kurang lebih 5 langkah, ia mengurungkan niatnya.
Baru saja ia berbalik, seseorang menyapanya dari arah berlawanan.
"Hai, Kak El."
El tersenyum hambar sambil membalas sapaan kru tingkat bawah itu. "Hai."
Dia adalah Tya, staf kru bagian personalia. Sambil berjalan ke arahnya, Tya memasang senyum hangatnya.
"Kok balik, Kak? Nggak mampir dulu?"
"Eh, iya." El menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah, aku duluan ya, Kak," katanya kemudian berlalu dari hadapan El.
Mata El mengikuti langkah Tya. Tatapan jatuh ke lembar HVS yang sepertinya berupa surat.
"Tya, itu apaan?" El menghentikan langkah staf itu.
Tya mengangkat lembar yang ia bawa. "Ini surat dari BPM. Undangan buat PU hadir di Rapat Dengar Pendapat."
Perlu diketahui, BPM itu Badan Perwakilan Mahasiswa, seperti DPR jika dalam tingkat pusat pemerintahan. Sedangkan PU merupakan Pimpinan Umum atau sebutan untuk ketua di pers kampus.
"Rapat dengar Pendapat dalam rangka?" Tanya El penasaran.
"Pemira."
Pemira merupakan Pemilihan Raya untuk memilih Presiden Mahasiswa dan wakil Presiden Mahasiswa serta memilih wakil-wakil mahasiswa yang akan menjabat sebagai BPM di tahun selanjutnya. Dari sini, El sadar tugasnya akan semakin berat. Ia tak bisa terus lari dari tanggung jawab ini. Walaupun ia tahu, manusia di sekelilingnya banyak yang tak mendukung.
"Kapan sih pemiranya?"
"Dua bulan lagi."
"Oke. Thanks infonya, Tya."
"Sama-sama."
Kemudian Tya benar-benar berlalu dari hadapan El. Sedangkan El tetap memutuskan untuk turun menemui Triyas. Ia membatalkan niatnya untuk mengambil berkasnya yang tertinggal. Ia lebih memilih untuk memperbaiki moodnya, menguatkan mentalnya untuk sesuatu yang lebih besar. Yang pastinya akan lebih menguras tenaga.
***
Dua minggu berlalu setelah Rapat Dengar Pendapat. Seperti halnya yang terjadi di suatu negara ketika pesta demokrasi sedang berlangsung, akan ada desus-desus terkait siapa saja yang menyalonkan diri untuk duduk di kursi jabatan. Hal ini juga terjadi di kampus El. Desus-desus tentang siapa yang menyalonkan diri menjadi Presma dan Wapresma menjadi permbincangan paling hangat seantero kampus. Bahkan mereka yang hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) juga ikut membicarakannya. Aura kompetisi seperti mengitari kampusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELKANSA [END]
Teen Fiction[Romance-Teen Fiction] 15+ How Can I Love The Heartbreak, cause You're One I love "El, kamu harus ikutin kata hati." "Nggak mau. Hati selalu nyakitin kalau diturutin." "Buktinya?" "Gue ngikutin kata hati buat mulai percaya sama lu. Tapi lu malah...
![ELKANSA [END]](https://img.wattpad.com/cover/210242221-64-k761467.jpg)