2. Mimpi?

293 38 6
                                        

Rumah besar, luas, penuh ruangan pribadi dan tiga kamar ini jadi lebih menyedihkan dari beberapa tahun lalu. Sunyi, sepi dan hampa. Hanya sendirian. Dan benar-benar sendirian. Lagi.

Tatapan Jira begitu kosong menatap ruangan diharapannya. Ruangan yang selalu dimasuki appa-nya setiap hari. Ruangan yang sebelumnya tidak akan pernah dia masuki jika bukan diminta appa-nya. Dan sampai kapan pun, Jira tidak akan berani memasuki ruangan itu karena takut merusak susunan memori appa Jira di dalam.

Air mata Jira kembali tergenang ketika mengingat wajah appa-nya. Penyesalan itu datang lagi. Dia belum sempat membuat appa-nya bangga. Selama ini dia baru main-main dan berkarya semau dan seniatnya. Belum benar-benar pernah mendapatkan penghargaan yang diharapkan appa-nya.

Dan sekarang Jira tidak akan bisa memberikan penghargaan apapun lagi untuk appa-nya. Jira menyesal. Menyesali sikapnya yang keras kepala dan pembangkak ini. Jika saja dia penurut, mungkin appa-nya akan pergi dengan perasaan bahagia dan bukan kecelakaan.

"Hiks.. Appa, mianhaeyo.." Isak Jira kembali.

Sejak berita kematian itu terdengar oleh telinganya, Jira tidak bisa berhenti menangis. Air matanya terus saja mengalir keluar. Jira bahkan tidak bisa tidur selama berada di rumah duka. Dia tidak mau melewatkan kesempatannya lagi untuk bisa bersama appa-nya terakhir kali.

Namun sampai appa Jira dikremasi pun, Jira tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia hanya bisa tidur 2 jam, setelah itu terbangun lagi. Berkeliling rumah besarnya dan berharap menemukan seseorang yang bisa dia lihat di sini. Hingga akhirnya, dia kembali terduduk di ruang tengah sambil memandangi ruang appa-nya. Seperti sekarang.

Terlihat depresi? Mungkin sedikit lagi Jira bisa depresi jika terus-terusan dipaksa hidup sendirian begini.

"Eomma.. Appa.. Kenapa kalian berdua meninggalkanku sendirian?" Tangis Jira.

"Kenapa dengan cara yang sama?" Ucapnya lagi. Lebih lemah, tidak bersemangat dan tanpa kesadaran.

"Apa aku tidak pantas untuk dicintai?" 

"Aku mencintaimu."

Sebuah suara datang dari arah belakang. Telinga Jira menyerap suara itu dengan lamban. Kepalanya pun bergerak menuju arah suara tanpa niat. Jira berpikir mungkin itu hanya halusinasinya. Seperti yang kemarin-kemarin.

Tapi..

"Aku mencintaimu. Aku selalu bersamamu. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu." Jihoon memeluk Jira. Namun Jira masih tidak bisa memproses semuanya seperti biasa. Kekurangan tidur membuatnya tidak bisa berpikir dengan cepat.

"Aku sedang bermimpi ya?"

Bahkan Jira menganggap bayangan Jihoon yang memeluknya adalah mimpi. Karena yang dia tau, Jihoon sedang sibuk. Sangat sibuk dan akan selalu sibuk dengan kegiatan grup mereka. Hingga Jihoon sulit untuk ditemui. Menghubungi pria itu saja, dia harus menunggu panggilan dari Jihoon sendiri. Jira tidak akan bisa menghubunginya karena ponsel Jihoon selalu dipegang manajernya.

Jadwal mereka terus memadat. Setiap tahunnya.

Jira juga terkejut ketika ternyata Jihoon datang ke pemakaman appa-nya. Padahal yang Jira tau, Jihoon sedang ada word tour di Jepang. Entah di kota mana dan sudah yang konser ke berapa kalinya. Jira lost contact ketika Jihoon sudah berangkat ke Jepang.

Karena itu juga ketika dia melihat Jihoon berdiri di depan altar appa-nya, Jira menangis sangat kencang. Dia tidak percaya Jihoon bisa meluangkan waktunya yang berharga untuk menemui appa-nya. Menemuinya. Dan walau tidak ada yang sadar, Jira sebenarnya tau Jihoon terus melihat ke arahnya saat di rumah duka.

Jira sangat ingin memeluk Jihoon ketika pria itu ada di sana. Tapi..

Status idol mereka menyulitkan keduanya hanya untuk berpelukan dan membagi kesedihan. Jihoon dan Jira tidak mau ada kesalahpahaman antara para idol melihat kedekatan mereka. Terutama saat orang-orang tau, Jihoon pria yang sulit disentuh baik yeoja atau namja.

Apa pendapat orang-orang jika tau dan lihat Jihoon sendiri yang memeluknya? Memeluk erat dan hangat seperti yang dilakukannya sekarang.

Jihoon diam tidak mengatakan apa-apa. Tubuh Jira bahkan tidak melawan untuk berada dipelukannya. Ikut diam sambil merasakan tangan Jihoon mengusap kepalanya. Melihat lengan Jihoon pun membuat Jira semakin yakin apa yang dilihatnya sekarang adalah mimpi.

"Lenganmu lebih besar dari terakhir kali kita bertemu. Benar-benar seperti mimpimu yang ingin lengan besar ya." Jira lagi-lagi kembali melantur.

Jihoon melepaskan pelukannya. Memegang wajah Jira dan mengusap kedua pipi itu untuk menghilangkan jejak air mata yang tidak bisa terhenti itu. Memberikan tatap lembutnya, walau yang ditatap hanya bisa membalasnya dengan tatapan kosong. 

Sakit. Jihoon melihat Jira seperti ini membuatnya kesakitan. Terutama ucapan Jira yang menganggap semuanya mimpi. Bahkan kehadirannya dianggap mimpi oleh alam bawah sadar Jira sekarang. Ini begitu menyakitkan untuknya.

"Mianhaeyo." Jihoon tidak bisa mengatakan hal lain selain maaf yang banyak. Melihat air mata Jira yang tidak mau berhenti itu mampu membuat mata Jihoon ingin kembali menangis. Tapi dia berusaha untuk menahannya.

Jihoon tidak mau air matanya justru membuat Jira semakin menderita. Kondisi tubuh Jira saat ini saja membuat Jihoon bungkam tidak bisa berkomentar banyak. Begitu berantakan.

Jihoon mencium kening Jira cukup lama dan dalam. Walau Jihoon tidak tau apa Jira sadar dengan kecupannya, tapi Jihoon hanya ingin memberikan ketenangan untuk Jira. Tangannya bergerak menutup mata Jira. Gadis itu pun tidak melawan dan menutup matanya dengan mudah saat tangan Jihoon bergerak turun.

Dipandanginya wajah Jira sekali lagi. Dengan mata hitam tampak jelas dari kedua matanya, Jihoon tersenyum Jira sudah tidak lagi mengeluarkan air mata.

Sebelum Jira kembali membuka mata, Jihoon menarik pelan kepala Jira untuk bersandar di dada bidangnya. Mengecup kepala Jira sekali lagi, lalu menggantikannya dengan usapan lembut di rambut berantakan Jira.

"Ne, ini mimpi. Jadi sekarang nikmati waktu kita berdua dalam mimpi yang indah ini." Ucap Jihoon. Dapat Jihoon rasakan tarikan di bibir Jira terasa di dadanya.

Jihoon jadi ikut tersenyum dan kembali berkata, "Karena besok waktunya aku membahagiakanmu." 

☆☆☆

Jihoon bisa seromantis ini?
Kalau aslinya begini bagaimana? 🤭

Sekarang lagi libur sekolah ya? Sayang banget aku gak libur kuliah. Tetap ada kelas online. Tidak benar-benar libur 😞

Aku lagi kepikiran untuk update rutin loh khusus minggu depan 😄 Untuk mengisi liburan kalian 😆 Tapi gak tau bisa janji atau tidak 😂

Kalau aku bisa update, nanti aku update ya. Tapi kalau tidak, mianhaeyo 😂 Kadang kelas online ini melelahkan..

Tunggu update-an minggu depan ya..
Jangan lupa vote dan comment >.<
Annyeong~

MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang