Tuk.. Tukk.. Tukk!
"Annyeonghaseyo." Jihoon membungkukkan badan dengan sopan pada kepala keluarga Kang.
"Ada apa lagi? Tidak cukup teman-temanmu datang mengorek informasi kemarin?" Ini pasti yang dimaksud kegiatan rahasia Jeonghan hyung dan Joshua hyung. Tebak Jihoon.
"Aniyo. Saya ke sini hanya ingin memberikan surat permintaan maaf secara resmi dan tertulis atas tindakan tidak menyenangkanku dan juga teman-temanku. Kali ini permintaan maaf kami yang terakhir. Saya membawa surat sebagai tanda keseriusan."
Hembusan napas tuan Kang terlihat jelas karena cuaca yang sedikit dingin ini. "Ayo kita bicarakan di dalam."
Jihoon tersenyum ramah. Dia melangkahkan kaki cukup menuju rumah seseorang yang sudah memisahkan dirinya dengan Jira. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Taeji. Syukurlah. Dia jadi lebih tulus meminta maaf pada keluarga ini.
Tangan Jihoon merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan amplop putih. Namun sebelum dirinya menyerahkan surat itu, tuan Kang sudah menyerahkan diri. "Tidak perlu. Seharusnya kami juga yang minta maaf. Semua ini sepenuhnya kesalahan kami."
Jihoon diam menunggu kelanjutan ucapan pria berumur itu. Tangannya sedikit basah sambil memainkan amplop yang sudah dia keluarkan tersebut.
"Dari awal memang semuanya kesalahan Taeji. Anak itu memang sudah lama sering membuat masalah dengan keluarga Yoon, terutama pada Hangeun sendiri."
"Apa saya berhak mengetahui hal ini? Saya cukup sadar diri jika saya bukan siapa-siapa di sini." Ucap Jihoon. Terdengar layaknya sindiran keras pada siapapun seseorang yang bersalah sudah memisahkan Jira darinya.
"Saya tidak yakin dengan itu. Saat ini, keberadaan Jira bagai ditelan bumi. Bahkan wartawan pun kehilangan kontak keberadaannya. Jika kau sungguh mencintainya, kau tidak akan setenang ini saat tau Jira menghilang. Belum lagi repot-repot memberikan surat permintaan maaf pada orang yang jelas-jelas bersalah." Jihoon tertawa hambar. Gen kepintaran keluarga besar Jira memang luar biasa. Meski berbeda marga, tetap saja analisisnya tidak bisa dianggap remeh.
"Jadi sekarang Jira bersamamu?" Tanya tuan Kang.
"Untuk keamanannya, saya tidak bisa memberitahukan itu. Yang pasti, saat ini dia sudah hidup dengan tenang dan nyaman tanpa gangguan siapa pun." Jawab Jihoon.
"Syukurlah jika begitu. Saya berterima kasih karena sudah merawat Jira dengan baik. Tidak heran Hangeun sangat mempercayai dirimu. Bahkan sampai merelakan anak perempuan satu-satunya dijaga oleh pria lain. Dari pertama kali kita bertemu pun, saya sudah yakin dengan tanggung jawabmu." Jihoon jadi malu. Tujuan awalnya melenceng dengan pembicaraan yang mulai ke mana-mana ini.
"Hanya karena Taeji sudah ku anggap anak, saya jadi gelap mata dan lebih memihak yang salah. Mungkin kau sudah tau, tapi sebagai penjelas, saya ingin mengatakannya jika Taeji memang bukan anak kandungku. Dia.."
"Anak adopsi." Ucap mereka bersamaan. Suara Jihoon tidak terlalu besar, tapi gabungan suara mereka membuat gema di ruangan tersebut.
"Maaf jika saya lancang sudah mencari tahu ini semua." Ucap Jihoon sesegera mungkin. Tuan Kang mengangguk tidak masalah.
"Tidak apa. Wajah kami memang tidak terlihat mirip. Sifatnya juga jauh. Tidak heran orang-orang suka tidak percaya Taeji adalah anak kami. Kami juga menyesal sudah mengadopsinya. Hanya karena saya ingin memiliki pewaris marga, saya jadi harus salah memilih anak adopsi." Jihoon cukup diam mendengarkan. Rasanya tidak nyaman jika membahas hal ini.
"Sekarang Taeji sudah tidak di rumah ini. Dia kabur." Jihoon refleks menegakkan tubuhnya terkejut.
"Sudah beberapa bulan yang lalu dia tidak kembali dan tidak ada kabar. Tapi menurut persepsi kami, ada hubungannya dengan kau dan Jira. Kami menemukan ini di kamarnya." Tuan Kang memberikan lembaran foto yang menampilkan foto dirinya, Jira dan appa Jira. Hanya foto dirinya yang masih bersih tanpa coretan. Cuma ada sedikit noda pulpen di keningnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
FanfictionBook 2 Lanjutan dari Partiture Dulu hobi ku bukan bermusik, tapi sekarang aku berkutat dengan alat musik. Tidak pernah terlintas dipikiranku ingin menjadi penyanyi, tapi aku telah menjadi bagian dari dunia para musisi. Tidak ku sangka, hidupku berub...
