Mentari masih bersembunyi. Enggan untuk menampakkan dirinya yang sempurna. Namun sebuah panggilan telah membangunkan Jira. Mengabari berita yang begitu mengejutkan.
Tubuh Jira refleks terduduk. Ponselnya pun tergelincir dari genggamannya. Meninggalkan suara seseorang diseberang sana bicara sendiri. Tangan Jira terdiam mengambang. Lama-lama bergetar dan akhirnya..
"Hiks.."
Tetes demi tetesan air mata Jira terjatuh. Semakin deras bersamaan dengan teriakan yang kencang.
"Aaaa!!!"
"Wae!?!! Waeyo!?!!" Teriak Jira sekencang yang dia mampu demi meluapkan segala perasaannya.
Dada Jira tidak bisa menahan semua ini. Sesak. Sakit. Kesal. Semua bercampur aduk. Kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini?? Kenapa aku terus mendapatkan nasib buruk ini??
Jira menjambak rambutnya sendiri. Nafasnya tercekat.
"KENAPAAAAAA!!!?"
☆☆☆
Di dalam mobil, tangan seorang pria sudah terkepal sangat kuat. Menghambat aliran darah dan seakan-akan ingin melukai tangannya sendiri. Wajahnya mengeras. Tatapannya pun begitu tajam penuh amarah. Hanya dapat marah pada diri sendiri tanpa tidak bisa melakukan apa-apa.
"Hyung, tenangkan dirimu."
"Ini semua salahku." Sesal Jihoon.
"Ini kecelakaan. Tidak ada yang bisa memprediksinya." Tenangkan Seokmin yang duduk bersebelahan dengan Jihoon.
"Jika semalam aku di sana, Jira-"
"Tenangkan dirimu." Potong Seungcheol cepat. "Kita sudah hampir sampai. Sebaiknya kau kontrol dirimu. Kau mau Jira semakin sedih melihatmu begini?"
Jihoon terdiam. Bukan karena dia takut pada ketegasan Seungcheol. Tapi pikirannya tidak bisa teralih dari seorang wanita. Wanita yang sedang bersedih di sana. Sendirian. Tidak ada dirinya.
Dia sungguh kesal. Berusaha keras dia tidak terlihat marah. Tapi apa? Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Untuk sekesian kalinya, dia membuat wanita yang disayanginya menangis.
"Arg!" Jihoon hanya bisa mengerang kasar demi meluapkan emosinya sesaat. Mengusap wajahnya kasar dan kembali menyesali semua ini.
Sejak tadi dia tidak bisa menghubungi Jira. Dia tidak tau bagaimana keadaan wanita itu sekarang. Jihoon tidak mampu membayangkannya. Bahkan kabar ini dia ketahui dari teman Jira. Itu pun Soonyoung yang memberitahu mereka semua.
Lalu.. Apa Jihoon sebenarnya? Dia sama sekali tidak tau kabar dari orang yang paling penting baginya itu. Dia tidak tau dan sebelum mengetahui ini, dia masih sempat bersenang-senang.
Jihoon sangat ingin tertawa sekarang. Dia tertawa memikirkan betapa buruk dirinya. Tertawa dan bercanda ria disaat Jira menderita. Kekasih macam apa dia?!
Mian. Mianhaeyo. Harusnya aku selalu bisa bersamamu. Tapi aku-. Ucapan pada batinnya sendiri terpotong saat mobil mereka berhenti.
Jihoon mengedarkan padangannnya. Memastikan jika mereka memang sudah sampai di tempat yang benar. Dan setelah dia melihat nama dari salah satu karangan bunga itu, tanpa pikir panjang Jihoon langsung turun lebih dahulu dari mobil itu.
Sial! Umpat Jihoon.
Terpaksa Jihoon membatalkan niatnya berlari menyusul Jira di dalam. Wajahnya diusahakan tetap datar dengan sedikit raut kesedihan demi menyamarkan kemarahannya di depan para media.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
FanfictionBook 2 Lanjutan dari Partiture Dulu hobi ku bukan bermusik, tapi sekarang aku berkutat dengan alat musik. Tidak pernah terlintas dipikiranku ingin menjadi penyanyi, tapi aku telah menjadi bagian dari dunia para musisi. Tidak ku sangka, hidupku berub...
