Gebrakan meja terdengar sangat kuat hingga keluar ruangan. Beberapa orang yang mendengarnya hanya dapat bungkam, pura-pura tidak tau. Namun setiap kali teriakan itu digabungkan bersama gebrakan meja, semua orang tidak bisa mengalihkan perhatiannya untuk tidak melihat ke ruangan inti di sana.
Ruangan kepala CEO Pledis.
Saat ini CEO Pledis benar-benar memarahi anak asuhannya habis-habisan, hingga orang yang dimarahi hanya bisa bungkam dan menerima semua ucapan yang mungkin agak kasar. Tapi semua diterima dengan baik.
Jihoon memang mengakui kesalahannya. Dia lalai dan seenaknya pergi tanpa sepengetahuan siapapun hanya untuk urusan pribadi. Hingga melanggar kontrak yang sejak awal sudah dia tanda tangani saat menjadi trainer.
Kepalanya sejak tadi menunduk. Tidak berani menatap wajah CEO Han yang pasti sudah sangat merah karena marah-marah. Jihoon hanya berharap ini bisa segera berakhir, jadi dia bisa kembali meminta maaf pada teman-temannya.
Sungguh.. Dibanding rasa bersalah pada CEO Han, Jihoon lebih merasa bersalah pada teman-teman satu grupnya itu.
Bagaimana tidak? Mereka sudah bersedia dimarahi oleh banyak orang, bahkan dari manajer hingga CEO. Mereka juga tidak tau apa-apa tentang kepergiannya, tapi harus menerima tanggung jawab atas kebodohannya.
Dan Jihoon lebih bersalah pada Seungcheol sebagai leader dan Soonyoung sebagai sahabatnya. Mereka berdua pasti yang jadi sasaran empuk amukan orang ketika dia pergi. Sedangkan dia hanya dimarahi satu orang. Belum bisa sebanding.
"Sekarang kau sudah mengerti?!"
Jihoon mengangguk dan berkata, "Arrasao."
"Jangan pernah pergi lagi tanpa kabar dan melalaikan tugasmu! Apalagi hanya untuk urusan pribadi." Lagi-lagi Jihoon yang bisa mengangguk. Bibirnya sudah tidak bisa digerakan sejak awal masuk ruangan kecil ini.
"Kami tidak pernah melarangmu untuk berhubungan dengan seorang wanita. Tapi jika sampai terjadi hal yang seperti kemarin, kau dan wanitamu yang akan dalam bahaya. Kau tidak mau sasaeng fans dan antifans memanfaatkan kesempatan ini bukan?!" Jihoon menggeleng. Dia lebih tidak ingin jika Jira sampai dilukai oleh orang semacam itu.
"Renungkan tindakanmu ini. Sekarang kau boleh dan kembali melakukan kegiatanmu. Ingat jadwalmu, jadwal kalian masih padat." Suara CEO Han sudah lebih tenang. Tapi wajahnya masih bisa terlihat keras di mata Jihoon.
Jihoon lalu membungkuk sopan, mengatakan, "Sekali lagi saya minta maaf. Ini tidak akan terjadi lagi. Saya permisi." Lalu begitu dari ruangan itu.
Ketika dia keluar, orang-orang langsung berisik menuju meja mereka masing-masing. Melakukan apapun yang membuat Jihoon tidak curiga. Tapi Jihoon memang tidak mempedulikan itu saat ini.
Mood-nya sudah dibuat hancur karena dimarahi atasan pagi-pagi. Sekarang dia juga harus latihan ekstra keras dan menyelesaikan beberapa aransemen lagu untuk konser. Belum lagi record untuk penampilan solo masing-masing member.
Sepertinya aku akan lembur sampai malam. Lalu kapan aku bisa menemui Jira? Aku kan sudah janji menemuinya setiap hari. Batin Jihoon. Kepalanya memanas hanya dengan membayangkan semua pekerjaan yang ada di depan matanya.
Hingga kakinya tanpa sadari sudah berjalan sampai di ruang latihan. Ruangan di mana para member sudah menunggunya. Di mana mata mereka akan menatapnya penuh rasa ingin tau dengan sedikit kejengkelan karena masalah ini. Rasanya jadi canggung.
Jihoon membuka pintu ruang latihannya dengan dorongan berat. Dia belum siap mendapatkan sikap dingin dari teman-temannya.
Tapi..
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
FanfictionBook 2 Lanjutan dari Partiture Dulu hobi ku bukan bermusik, tapi sekarang aku berkutat dengan alat musik. Tidak pernah terlintas dipikiranku ingin menjadi penyanyi, tapi aku telah menjadi bagian dari dunia para musisi. Tidak ku sangka, hidupku berub...
