12. Peri Pencabut Nyawa

210 26 2
                                        

Duk.. Bruk.. Duk..

Hwang Li mengerang malas di atas tempat tidurnya. Suara beberapa barang yang seakan ditata terdengar sungguh mengganggu ketika berbenturan dengan meja. Hwang Li menaikkan selimut hingga menutupi telinganya.

"Eomma! Ini terlalu pagi untuk membanting buku." Gumam Hwang Li setengah berteriak. Namun suara mengganggu itu masih terdengar jelas.

"Eomma biarkan aku tidur. Aku yang akan membereskan kamarku sendiri." Kata Hwang Li kembali dengan nada lebih malas. Sayangnya, suara tersebut tidak enyah juga.

Dengan terpaksa, Hwang Li membuka matanya. Melihat ke sekeliling jangkauan matanya. Melihat warna dinding dengan furniture lainnya yang berbeda dengan kamarnya. Hingga dia sadar jika ini bukan kamarnya. Melainkan apartemen Jira.

Hwang Li mengeluarkan tangannya dengan selimut. Udara dingin di musim gugur langsung menyambut kulitnya yang hangat terselamatkan karena selimut. Bahkan ponselnya pun terasa dingin dengan suhu alami ini. Hwang Li mengambil benda pipih tersebut dan mengabaikan dingin yang menjalar ke telapak tangannya demi melihat jam.

Pukul 7.30 pagi.

"Arhh.." Siapa yang berisik dipagi buta begini sih?? Mengganggu saja. Batin Hwang Li mengeluh. Hanya dia dan Jira yang tinggal di sini. Jira tidak mungkin bisa seribut ini. Sudah pasti yang berisik adalah tetangganya.

"Kau sudah bangun?" Mata Hwang Li yang sebelumnya masih setengah terbuka, sontak terbuka lebar karena mendengar suara Jira. Bukan hal itu yang membuatnya terkejut. Melainkan sosok Jira yang tiba-tiba muncul dari belakang dengan rambut menjuntai ke bawah, setelah berhasil mengguncang kasur yang habis Jira lompati ini.

"Yakk! Jadi kau yang berisik pagi-pagi begini?!" Omel Hwang Li. Lebih seperti teriakan seorang eomma yang hendak memarahi anaknya.

"Kau tau Jihoon datang tidak tadi malam?" Bukan menjawab pertanyaan Hwang Li. Jira justru melayangkan pertanyaan yang membuat Hwang Li langsung tau kenapa gadis itu sampai bisa seperti ini. Satu hal yang membuat Jira bisa seaneh ini tentu hanya Jihoon.

Siapa lagi?

"Arhh!" Hwang Li mengerang kesal. Dia masih tidak senang karena dibangunkan sepagi ini untuk hal yang menurutnya tidak terlalu penting. "Aku kan tukang tidur, bagaimana bisa sadar ada orang datang masuk ke kamar?"

Jira kembali beranjak dari kasur dan mengecek setiap inci rak dan nakas yang ada di sana. Memastikan lagi jika memang tidak ada sebuah jejak yang ditinggalkan Jihoon.  Sudah berkali-kali. Bahkan Jira tidak bisa menghitung yang sudah berapa kali inj dia mengulang-ulangnya di pagi hari. Namun tetap saja tidak ada jejak.

Jihoon sama sekali tidak meninggalkan pesan apa-apa padanya. Kenapa? Apakah ada yang terjadi dengannya? Apa dia sedang sibuk sampai lupa ke sini? Atau justru dia sakit??

Hwang Li menghela nafas melihat kepanikan wajah Jira karena memikirkan Jihoon. "Sudahlah. Mungkin Jihoon ketiduran subuh ini. Dia kan setiap hari latihan dan kerja, pasti ada sehari dia tidak bisa mengantarkan bintang semangatmu."

"Apa mungkin dia sakit karena memaksakan diri?" Hwang Li bergerak memukul bibirnya sendiri. Niat menenangkannya justru semakin membuat Jira panik.

Selimut yang menutupi tubuhnya, langsung Hwang Li kibaskan kuat-kuat hingga mengenai Jira. Membangunkan dirinya dari kasur dan segera bangun untuk menggerakan beberapa ototnya yang masih kaku karena tidur tadi. Sekaligus menghilangkan dingin yang menyerang dirinya.

Setelah semua yang dia lakukan, Hwang Li berkata, "Peri mimpimu juga bisa mengantuk. Jadi dia pasti tertidur." Wajah khawatir Jira belum menghilang, namun dia sudah tidak sepanik tadi karena melihat Hwang Li mengatakannya dengan serius. 

MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang