4. Kabur

288 31 1
                                        

"Jira-ya.."

Jira tidak menggublis panggilan itu. Lebih tepatnya dia menghindari Jihoon. Alasannya simple. Dia masih tidak kuat dengan perlakuan Jihoon tadi. Membayangkannya saja membuat Jira ingin berteriak menyuarakan isi hatinya. 

"Jangan diingat lagi yang tadi." 

Bagaimana tidak diingat jika pertemuan pertama saja justru membuat jantung Jira lepas? Lama tidak bertemu. Sibuk dengan urusan masing-masing. Berhubungan dengan telepon pun jarang. Bagaimana Jira tidak terkejut dengan perlakuannya tadi??

Aku kan lebih terbiasanya dengan dia yang cuek seperti diawal pertemuan kami. Ucap Jira pada batinnya sendiri.

"Di sini aku datang untuk menemanimu, bukan untuk dipunggungi terus."

"Hah?" Jira berbalik dan menemukan si sumber suara sudah berada di belakang Jira. "Kenapa ada di belakang? Sejak kapan?!"

"Dari aku panggil. Kan sudah ku katakan jika aku datang ke sini untuk menemanimu." Jihoon lagi-lagi mendekatkan wajahnya.

Tidak lama bertemu begini, kenapa dia jadi lebih suka memamerkan wajahnya padaku??! Jira kembali bicara pada hati. Sebisa mungkin Jira memundurkan wajahnya lalu menutupinya dengan sayuran yang dipegang.

Jihoon tertawa. Setelah itu menjauhkan wajahnya kembali dari Jira. "Menggemaskan." Bukan tersipu, Jira dominan merasa itu seperti ledekan.

"Kau pegang sayuran memang bisa masak?" Tuh kan benar ledekan.

Jira menahan kesalnya dengan menaruh sayur-sayur itu sedikit membanting. Jihoon yang tertawa semakin membuatnya jengkel.

Ini mengingatkannya pada pertemuan pertama dengan Jihoon. Awal pertama kali mengajar Jira.  Awal pertama kali mereka bicara. Mulai bertengkar, berselisih paham dan jengkel dengan sifat Jihoon yang agak pemaksa dan disiplin.

Entahlah itu pertemuan pertama yang menjengkelkan atau menyenangkan. Buktinya Jira sekarang tersenyum-senyum mengingatnya. Lebih parahnya, Jihoon memergoki Jira yang senyam-senyum sendiri.

Jihoon langsung menarik pipi Jira. Tarikannya cukup kuat sampai membuat Jira meringis. "Ah! Appo!!" Jira menepuk-nepuk tangan Jihoon agar membebaskan pipinya.

Jihoon pun melepaskannya. Pipi Jira sudah berbekas merah dan rasa sakitnya tidak perlu ditanyakan lagi. Sudah terasa panas. Jira menatap Jihoon dengan bibir melekuk ke bawah dan tangan sibuk mengusap-usap pipinya pelan.

"Pipinya hanya merah sebelah. Sebelahnya lagi mau dibuat merah juga tidak?" Tawar Jihoon. Justru membuat Jira semakin menajamkan mata padanya.

"Andwaeyo!" Jihoon hanya membalasnya dengan tertawaan.

Jira kembali memunggungguinya untuk menghilangkan rasa jengkel dan sedikit berpikir. Jira hanya bingung. Bingung pada Jihoon dan dirinya sendiri.

Kenapa dia begitu mudah merubah pikirannya saat ada Jihoon? Padahal tadi Jira sedang malu setengah mati sampai tidak berani menatap pria itu. Tapi sekarang, dia bahkan baru saja menatapnya tajam.

Jihoon juga.. Kenapa dia selalu tau cara mengubah mood Jira? Seakan-akan Jihoon punya kamus atau alat untuk mengetahui isi pikirannya. Pikiran seorang Jihoon memang sulit ditebak.

"Kalau kali ini memikirkan apa?" Lagi-lagi Jihoon membisikkan kalimat di telinga Jira. 

Jira tersentak. Jika seperti ini terus, Jira bisa masuk rumah sakit karena jantungan.

Tatapan tajam Jira kembali diarahkan pada Jihoon. Yang ditatap hanya menunjukkan senyum tanpa rasa bersalah. Jika melihat senyumnya itu, Jira jadi tidak bisa marah. Menyebalkan. Kenapa juga Jihoon harus memiliki senyum yang membuatku luluh? Kesal Jira.

MelodyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang