Wahh.. malam juga ya baru sampai 10 vote. Tapi aku senang karena hari ini sudah bisa mencapai 10 vote 🥰
Kira-kira masih ada yang bangun tidak ya kalau update jam segini 😅
Apapun itu terima kasih ya 💕
Happy reading~
☆☆☆
Selama menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan yang Jihoon maksud.
Jira mengira Jihoon akan membawanya ke suatu tempat dengan pemandangan yang indah. Kulit mereka akan tersapu dengan udara dingin dan langit malam yang menemani mereka sepajang malam. Ternyata Jihoon membawanya ke sini.
Setelah supir membawa masuk mobil ke garasi, mereka berdua turun dengan tangan bergandengan. Jihoon menggenggamnya cukup kuat.
Saat mereka turun, supir tersebut menatap mereka. Memberikan senyum ramah dan membungkuk sopan. Jira justru membalasnya dengan senyuman canggung. Dia masih khawatir jika supir tersebut salah paham dengan guncangan yang mereka buat.
Jihoon membawanya masuk ke rumahnya sendiri. Dengan kunci yang memang sejak awal pria itu pegang saat dirinya meninggalkan kediaman masa kecilnya.
Sudah beberapa bulan dia meninggalkan rumah ini. Tapi keadaannya terlihat bersih dan lebih rapih. Pasti Jihoon yang menyewa seseorang untuk membersihkan rumah ini.
"Bibi?!" Seru Jira. Langsung memberikan pelukan erat pada wanita paruh baya tersebut.
Jira terkejut mendapati pembantu rumah tangganya yang ada di rumah ini kembali. Seingatnya, sebelum appa-nya kecelakaan dan dirinya disibukan dengan dunia entertaint hingga tidak bisa pulang ke rumah, pembantunya ini sengaja mereka liburkan sampai appa-nya kembali.
Tapi karena appa-nya tidak mungkin kembali, pembantunya pun tidak bisa dia hubungi. Semua nomor dipegang appa-nya. Dia tidak memegang kontak apapun selain kontak pribadi. Sampai Jira mengira dirinya tidak bisa bertemu dengan seseorang pengganti eomma-nya saat dia kecil ini.
"Kok bibi bisa ada di sini?" Tanya Jira, masih penuh keterkejutan.
"Tuan Woozi yang menghubungi bibi." Suara keibuannya sungguh Jira rindukan. Sambil terus memeluknya, Jira mengalihkan mata pada Jihoon. Jihoon hanya mengangkat tangan kanannya dan tertawa tanpa suara.
Jira ikutan terkekeh. Melepaskan pelukannya, lalu berkata, "Tapi aku kan tinggal di apartemen sekarang."
"Mulai besok, kau sudah bisa tinggal di sini lagi." Kata Jihoon cepat.
"Semua sudah ku persiapkan. Bibi dengan paman yang menjaga rumahmu juga sudah ku panggil. Kau boleh bawa Hwang Li tinggal bersamamu. Tapi bodyguard-mu harus jaga jarak jika di rumah ini. Aku sudah memasangkan beberapa CCTV, jadi dia tidak perlu selalu mengekor padamu." Nada kecemburuan itu datang lagi. Bibi yang ada disebelahnya sampai tersenyum mendengar suara Jihoon.
Merasa senyuman kedua wanita yang ada di depannya. Jihoon terbatuk sedikit. Dengan pipinya yang merah, dia kembali melanjutkan perkataannya. "Aku hanya merasa apartemen-mu sudah tidak aman lagi. Beberapa wartawan akan lebih mudah masuk keluar apartemen yang termasuk tempat umum untuk orang menginap. Jika di rumahmu sendiri, mereka tidak akan seenaknya sendiri. Jadi aku menyiapkannya kembali agar kau lebih nyaman."
Perkataan Jihoon yang panjang lebar itu memperjelas jika pria itu sedang gugup. Tapi..
"Gomawoyo." Jira senang Jihoon memperhatikannya sedetail ini. Disela-sela kesibukannya, Jihoon masih bisa membagi urusan pribadi dengan urusan kerjanya. Jira tidak mengerti bagaimana pembagian waktu dan isi pikirannya itu. Jira juga ingin membalas perhatian dengan perhatian lainnya, tapi Jihoon seakan menutup akses itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
Fiksi PenggemarBook 2 Lanjutan dari Partiture Dulu hobi ku bukan bermusik, tapi sekarang aku berkutat dengan alat musik. Tidak pernah terlintas dipikiranku ingin menjadi penyanyi, tapi aku telah menjadi bagian dari dunia para musisi. Tidak ku sangka, hidupku berub...
