"Aku akan dibawa ke mana?"
"Ke rumahku."
"Untuk?"
"Kau akan tau sendiri." Dia tersenyum pada Jira. Namun Jira memutar bola matanya malas.
Karena kedatangannya, Jira jadi hilang kesempatan untuk bersama dengan Jihoon lebih lama. Apa dia tidak tau jika bertemu Jihoon itu sangat langkah? Jihoon itu sangat sibuk.
Ah! Tentu saja dia tidak tau. Dia kan hanya memikirkan dirinya sendiri. Artis baru yang sedang sibuk dengan masa training menuju debutnya. Namun masih belum jelas kapan pasti debutnya sebagai artis solo.
"Yang tadi itu siapa?" Tanyanya lagi. Demi memecah keheningan yang menyesakkan ini bagi Jira.
"Temanku."
"Ku rasa salah satunya itu bukan hanya sekedar teman. Dia tajam sekali melihatku. Dia pacarmu ya, Jira-ya?"
Jira menghela nafas pendek. "Noona, Taeji-ssi. Aku ini lebih tua 4 tahun darimu."
Sudah kesekian kalinya Jira mengingatkan soal ini pada Taeji. Namun anak itu masih saja tidak mau mematuhinya.
"Aku akan tetap memanggil namamu. Aku lebih suka memanggilmu dengan nama daripada noona. Kau terlihat lebih muda dariku." Jawab Taeji. Tengilnya tidak pernah hilang.
Ini lah yang membuat Jira tidak suka dengan Taeji. Anak yang lebih muda darinya ini tidak pernah sopan pada dirinya. Selalu menganggap jika Jira ini seumuran dengannya. Bahkan tidak segan-segan menggunakan balmal. Jira risih.
Dia tidak nyaman dengan Taeji. Jika saja ada Jihoon.
"Dua pria tadi itu idol kan? Aku pernah melihatnya di tv."
"Hm.." Balas Jira seadanya.
"Tapi tidak terlalu terkenal ya?"
Jira semakin jengah. "Lain kali tonton acara musik atau award lainnya. Jangan hanya acara gosip. Mereka tidak pernah masuk ke acara semacam itu." Balas Jira. Jika saja yang dihadapannya orang lain, mungkin dia akan mengatakan semua ketajamannya tanpa ditahan-tahan.
Sayang Taeji ini masih satu keluarga dengannya.
"Pantas mereka belum banyak dikenal."
Cih.. Jira berdecak kesal. Begitu banyak kata-kata kasar yang ingin keluar dari bibir Jira. Namun semua itu tertahan mengingat dia anak dari adik appa. Salah satu orang yang sudah membantu appa dan eomma-nya untuk bertemu.
Menurut cerita dari eomma dulu. Eomma berteman dengan appa Taeji, lalu diperkenalkan ke appa-nya. Akhirnya mereka saling cocok dan memutuskan untuk menikah, hingga sekarang muncul lah Jira.
Tapi dibanding dengan appa-nya yang sopan dan ramah. Taeji sama sekali tidak mewarisi sifat dari appa-nya. Eomma-nya juga tidak. Darimana sebenarnya sifat tengilnya ini?
"Lagi-lagi aku diabaikan." Taejin menyentuh kepalaku dan mengelus-elusnya pelan.
Jira tidak kuat lagi. Dia memukul tangan Taejin dan menegakkan tubuhnya. "Berhenti sekarang."
"Sabar. Sebentar lagi kita sampai."
"Ku bilang berhenti sekarang!" Berusaha kuat Jira masih menahan suaranya agar tidak lebih meninggi.
"Jira sayang.."
"Kang Taeji! Berhenti atau-" Ucapan Jira dipotong.
"Ok. Tinggal belok, kita sudah sampai. Jangan marah." Taeji masih bisa tersenyum santai pada Jira. Tangannya belum menyerah untuk menyentuh pipi Jira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody
FanficBook 2 Lanjutan dari Partiture Dulu hobi ku bukan bermusik, tapi sekarang aku berkutat dengan alat musik. Tidak pernah terlintas dipikiranku ingin menjadi penyanyi, tapi aku telah menjadi bagian dari dunia para musisi. Tidak ku sangka, hidupku berub...
