RF.03

37.5K 6.3K 644
                                        

©dotorijen
-

Setumpuk tisu bernoda darah menggunung di meja, sebagian berserakan di lantai. Bau alkohol menyengat, kamar pribadinya kini tak ubah seperti ruang gawat darurat.

Taeyong melirik si pasien, masih bergeming. Napasnya tenang, tidak menggila seperti tadi.

Taeyong berpikir akan melapor ke Kepala Desa, tetapi ia takut jika harus meninggalkan si pria sendirian di rumah. Anggap saja dia punya prasangka buruk kalau saja pria ini akan kabur dan membawa serta harta bendanya.

Taeyong mengurut pelipis. Pusing.

Namun apa yang lebih mengusik adalah ucapannya tadi. Dia bilang jangan pergi, seperti merintih, Taeyong pikir pria ini sedang bermimpi tadi.

"Arrfh! Luar biasa!" dia menggeram, mengacak rambutnya.

Benar, semuanya sangat tak terduga. Luar biasa. Taeyong pikir hidupnya sudah tenang. Tapi ternyata tidak. Ini bahkan lebih buruk dari bising kota atau macet jalanan.

"Hrrrrh..."

Taeyong menoleh, menatap daun pintu dengan mata membulat. Suara apa barusan? Mirip geraman anjing, bahkan lebih mengerikan.

Taeyong melangkah ke depan kamar, mengintip di antara celah pintu. Ia terkejut melihat si pasien sudah dalam posisi duduk, menggeram, menarik rambutnya yang kusut.

"Hey kau kenapa? Apa yang sakit?" Taeyong panik, dia lekas masuk ke dalam kamar setelah membanting pintu dengan terlampau keras.

Pria itu menatapnya, entah ilusi atau nyata, ada kilatan merah di kedua manik hitamnya. Taeyong mengerjap, berdiri kaku di samping tempat tidur.

"A-apa sakit sekali? Mau kuantar ke rumah sakit?"

Yang terjadi selanjutnya begitu cepat, tubuhnya ditarik. Taeyong limbung dan terjatuh. Kepalanya membentur dada si pria, kemudian sepasang tangan memeluknya erat. Ia merasakan hangat yang berlebihan. Apa Taeyong salah? Karena tubuh si pria benar-benar panas.

"Hey! Lepaskan!" Taeyong melawan, namun dirasa tenaganya kalah, dia menyerah. Sial.

"Kau masih hidup... kau masih hidup..." pria itu bergumam.

Taeyong gemetar. Dia tak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya seperti diremas kuat.

Sssh...

Pria itu mengendus lehernya. Aneh, apa yang dia lakukan?

Napas Taeyong tercekat begitu udara panas menyapu kulitnya. Matanya semakin membulat begitu sadar tubuhnya sedikit terangkat. Melayang dengan kerah baju yang diremat kuat, lehernya tercekik. Sakit.

"Errrm..."

Pria itu kembali mendekat, mengendus kulit wajahnya dan sekali lagi menggeram keras. Kilatan merah semakin jelas disana, pekat dan mengerikan.

Taeyong merintih, wajahnya berubah merah, menahan sesak.

"L-lepashh..."

"KAU BUKAN DIA!!"

BRAKK!!

Tubuh Taeyong melayang cepat dan menghantam kuat meja di sudut ruangan. Entah seberapa sakit yang ia terima, apa yang terjadi selanjutnya Taeyong tak tahu.

Ia terlelap seiring kesadarannya lenyap.

***

Tiga jam berlalu sejak Taeyong tak sadarkan diri dengan luka memar yang merata di sekujur tubuh. Darah terus mengalir keluar dari hidung dan mulutnya. Dalam keadaan normal, pria itu tengah menghadapi masa kritis dan mustahil untuk pulih dalam hitungan jam bahkan hari.

Namun keajaiban terjadi, luka yang ia terima menghilang tak berbekas.

Benar. Semuanya tampak tidak normal. Luka memar, darah, bahkan kulitnya yang terkoyak sembuh dan menghilang dalam waktu singkat. Dan satu menit setelahnya, tubuh itu kembali normal, tidak ada cacat ataupun segores luka tertinggal.

Sedang sosok itu masih termangu di samping tempat tidur, merasa cemas, meski raut wajahnya terbilang biasa saja. Hanya kerutan samar di dahi dan gigitan kecil pada bibir. Pria itu terus mengetuk ubin lantai dengan tumitnya, bersautan dengan denting jam dinding di atas mereka.

"Kau bangun?" ia terlonjak. Tubuhnya menjulang begitu ia berdiri tegap.

Mata Taeyong menyipit, ingin mempertegas siluet wajah di sampingnya.

"K-kau siapa?" suaranya serak terdengar.

"Maaf soal yang tadi."

Taeyong diam, tidak menjawab.

"Apa kau baik-baik saja sekarang?"

Tidak menyahut juga. Dia bingung untuk beberapa saat. Namun kemudian ia tersadar dan mengingat apa yang telah terjadi tiga jam yang lalu. Tepatnya kesialan itu.

Taeyong tersentak, tubuhnya melambung hingga terduduk. Menatap si pria dengan raut pias. Ia menjerit histeris, lalu menangis.

"Pergi!!! Huaaa eomma!! Aku ingin pulang saja! Huaaa eomma!!"

"H-hey! Sudah, aku tidak-"

"Huaaa jangan mendekat!! Eomma.... Huaaa!!"

Pria itu menarik tangannya kembali, tak mencoba mendekati Taeyong lagi.

"Huaaa eommaaa!"

Dia pasrah saja.

-

To be continued...

Kalau makin banyak sider, aku hold aja ya ceritanya sampai kalian; sidernim, menampakan diri ^^

Terima kasih sudah membaca.
—Jen

(✔) Rain FoxCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang