©dotorijen
-
Jungwoo tidak cacat secara fisik. Siapa pun yang melihatnya akan menilai dia sempurna. Siapa pun yang pertama kali berbicara dengannya akan terkagum dengan suara dan roman wajahnya. Dia tampan juga punya senyum yang menawan, sikap lemah lembut dan penuh perhatian adalah pesonanya.
Namun sesempurna apapun manusia di mata sesamanya, pasti memiliki kekurangan. Begitu pula dengan Jungwoo. Seseorang yang asing tidak akan langsung melihat sisi lain pada dirinya. Kekurangan itu tersembunyi di balik senyum dan wajahnya yang lugu.
Pemuda 22 tahun tersebut memiliki ambisi yang kuat, jelas setiap orang pun demikian. Hanya saja ia terlalu kuat menggenggamnya, terlalu tega untuk menyingkirkan setiap penghalang menuju impiannya. Dengan cara apapun yang menurutnya pantas, tidak peduli jika dikatakan terlalu gila.
"Kau membuatku gila, kak."
Keran dimatikan, Naeun menatap wajahnya yang berpoles make up cukup tebal untuk acara hari ini pada pantulan cermin kamar mandi. Berpikir bahwa keputusannya salah namun apa yang bisa diperbuat ketika Jungwoo memaksanya.
Kakaknya cacat secara mental. Gangguan disosiatif, tepatnya memiliki dua identitas pada satu tubuh dan adanya perubahan cepat pada memori hingga ia lupa apa yang telah terjadi pada waktu tertentu. Naeun dijadikannya tangan kanan, apapun yang diperintahkan harus dituruti. Jika menolak, apa yang diterimanya adalah hukuman fisik.
Seperti apa yang diterima Jungwoo sewaktu kecil. Kejadian traumatis yang membuatnya seperti ini.
"Bawa orang itu ke kamar lain."
Naeun menatap sang kakak, bagaimana ia membawa tubuh seseorang yang berbobot lebih besar darinya?
"Biarkan saja dia di sini, aku tak mampu membawanya." Naeun menjawab dengan tenang.
Jungwoo menatap nyalang namun tak memberi suara, ia segera mengangkat tubuh yang semula tertidur di lantai dengan kedua tangannya lalu berjalan cepat keluar kamar.
"Apa kamar lain dikunci?"
Naeun mengangguk, dibalas dengusan keras oleh sang kakak. Perempuan itu tetap mengikuti Jungwoo dari belakang, bagaimanapun ia cukup khawatir dengan keadaan pemuda yang tengah mengandung tersebut.
Pesta belum selesai, tidak banyak orang yang berada di koridor, sebagian besar masih di lantai dasar menyantap hidangan dan berdansa. Kaki panjang Jungwoo berjalan tanpa gentar melewati anak tangga menuju lantai dasar, ia menemukan tempat yang tersembunyi di sana. Sebuah gudang di samping dapur hotel.
Ruangan gelap ini seperti tempat penjagalan, hanya saja di dalam rak besar lebih banyak tersimpan sayuran dan daging olahan.
"Kau bisa pergi atau menunggunya di sini. Jangan sampai dia menggangguku ketika sadar."
Naeun memandang pemuda manis yang tertidur di atas tumpukan kardus. Alisnya terangkat menyadari suhu udara yang lebih rendah di tempat ini. Pasti dia sedang kedinginan.
"Aku akan menjaganya di sini." Naeun balas menatap mata hitam sang kakak dalam raut datar seperti biasa. Tak banyak ekspresi yang dapat ia tunjukan saat menghadapi situasi seperti ini. Tetap tenang dan jangan ceroboh.
Jungwoo berbalik, berjalan melewati pintu dengan senyuman ganjil sebelum meninggalkan mereka di gudang. Adiknya tidak akan bisa menolak, Naeun tetap patuh pada perintahnya.
***
Saat pertama kali mengunjungi klinik hewan milik Jaehyun beberapa waktu lalu, Jungwoo melihatnya di balik pintu kaca, berseragam putih, menutup posturnya yang sempurna. Ia merasakan sesuatu. Belum pernah ada seseorang yang membuatnya berambisi penuh, bukan hanya ingin mengenal atau dekat saja tapi Jungwoo sangat ingin memilikinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
(✔) Rain Fox
Fanfic[ SELESAI ] Bagaimana rasanya tinggal dan menikah bersama manusia rubah? Lee Taeyong membeli sebuah rumah di pedesaan. Namun tak disangka, ternyata rumah itu masih berpenghuni dan sosok yang tinggal di sana adalah manusia rubah berekor sembilan. - ⚠...
