©dotorijen
-
Luka di tubuh Jaehyun tak kunjung pulih, prosesnya akan lebih lama karena manik masih terlepas dari tubuhnya. Taeyong tak tahu harus bagaimana dengan kotak di tangannya, ia juga tak tahu cara untuk mengembalikan manik itu ke dalam tubuh Jaehyun.
Hela napas terdengar masih menggebu, Taeyong membiarkan air matanya mengalir selagi ia mencari kunci untuk membuka borgol di tangan Jaehyun. Suara rantai terdengar memecah sunyi, namun tak sampai mengusik ketenangan pria yang berjaga di luar. Taeil kira semuanya telah baik-baik saja.
Taeyong akhirnya menemukan kunci itu tergeletak di tanah, di bawah meja kayu kecil yang entah gunanya untuk apa. Tangannya meraih benda kecil itu tanpa ragu kemudian mulai membuka borgol-borgol yang terpasang pada pergelangan tangan Jaehyun.
Tubuh penuh luka dan peluh itu ambruk seketika borgol dilepas, Taeyong menahannya sekuat tenaga kemudian membaringkan tubuh itu ke atas tanah. Beruntung salju tak menjejal sampai ke dalam, meski dingin menusuk ia harus menunggu sampai Jaehyun tersadar.
"Bangun Jaehyun," Taeyong menunduk, membawa wajahnya mendekati Jaehyun untuk memberi ciuman lembut pada bibirnya yang beku.
"Bangun, suamiku..." suaranya memanggil lirih.
Sepasang tangan itu saling menggenggam, Taeyong harap dengan ini Jaehyun dapat merasakan hangat yang sama. Dilihatnya luka di pergelangan tangan mulai memudar meski lambat. Tubuhnya tersandar pada dinding kayu, lelah, ia memerhatikan wajah Jaehyun yang kini tertidur di atas pangkuannya.
Entah berapa lama waktu berlalu, Taeyong tak sadar telah terjatuh ke jurang mimpi. Gelap, ia melihat dirinya berada di tempat antah-berantah.
-
Taeil menggerakkan kakinya yang mulai pegal dan kebas karena dikerubung udara dingin. Jaket berlapis yang ia pakai seperti tak berguna jika berdiri di alam terbuka seperti ini. Menit berlalu, ia baru teringat dengan nasib dua orang di dalam gubuk.
Tidak terdengar suara apapun, hanya sepi yang diisi gemuruh angin.
Taeil masuk ke dalam, keadaan lebih gelap dan suasananya seperti memasuki dimensi lain. Ia tidak memasang lampu di ruangan pertama, Jaehyun menolaknya karena tempat itu tak terpakai. Beberapa waktu lalu ia hanya mengganti lampu di depan gubuk berkat permintaan Jaehyun.
Langkahnya terhenti di pintu kedua, Taeil tahu ia bisa menunggu lebih lama.
***
Jaehyun disambut cahaya terang dari kotak kecil yang disebutnya jendela. Tubuhnya kaku karena dingin dan bekas luka yang baru mengering. Ingatannya masih berkabut tentang apa yang terjadi semalam. Dinding kayu lembab, tumpukan salju, Jaehyun tak pernah berada di gubuk ketika musim dingin.
"Akh.." gerakan sekecil itu membuatnya meringis, jauh jika dibandingkan dengan kondisi normalnya. Ia seperti tak berdaya saat ini.
Jaehyun tahu penyebabnya, rasa hampa di dalam dirinya. Ia segila itu untuk melepas sesuatu yang sudah seperti nyawanya sendiri, namun setimpal dengan dua nyawa yang harus ia lindungi.
Suhu dingin di luar menerobos masuk, ujung kakinya semakin dingin menyentuh dinding kayu lembab namun tangannya terasa hangat. Sesuatu menggenggamnya. Mata Jaehyun semakin terbuka lebar, bau itupun menusuk penciumannya. Mawar dan persik.
"Taeyong!"
Jaehyun tersentak bangun, pergerakan yang salah karena tulangnya seperti mau patah.
Orang yang disebutnya sedang terlelap dengan kepala tersandar pada meja kayu, sebuah jaket tebal menutup tubuhnya. Wajah pucat berkat suhu yang rendah tampak damai terlelap.
"Taeyong..."
Jaehyun meraih wajah itu, membingkainya dengan kedua tangan lalu mengusap lembut pipinya.
"Kenapa kau di sini?" ia bertanya tanpa mendengar jawaban.
Mata yang selalu ia kagumi perlahan terbuka, menyipit karena silau namun tetap menangkap siluet orang yang dia suka. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis.
"Kau sadar?" suara parau Taeyong terdengar. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah pria-nya, tidak ada lagi luka di sana, namun tetap memancar kesakitan yang sama.
Jaehyun menangkap getaran itu, ia tahu seberapa khawatir Taeyong atas semua yang telah terjadi.
"Kenapa kau ada di sini?" Jaehyun menatap langsung manik hitam itu. Selalu cantik. Namun binarnya redup saat menatap kelabu miliknya.
Jaehyun tahu meskipun tanpa maniknya, mereka akan tetap berbagi rasa sakit. Begitulah takdir orang yang saling mengasihi.
Taeyong tak mampu menjawab, mulutnya mengatup menahan isakan seraya tangannya merengkuh leher Jaehyun untuk dibawanya ke dalam pelukan. Sekali lagi ia menumpahkan air mata di atas pundak kokoh suaminya.
"Jangan menghilang lagi, aku mohon. Apapun yang terjadi, jangan pernah menghilang lagi."
Jaehyun mengusap punggung bergetar itu, memberi kecupan pada pundak dan sisi wajah sang istri.
"Aku di sini, maafkan aku membuatmu khawatir."
-
To be continued...
Di tempatku purnama guys, dan hujan turun gitu aja. Apa ada Gumiho ganteng di sini? 👀
Tempat kalian gimana? Ujan? Panas? Dingin? Panas dingin? :))
Terima kasih sudah membaca.
—Jen
KAMU SEDANG MEMBACA
(✔) Rain Fox
Fiksi Penggemar[ SELESAI ] Bagaimana rasanya tinggal dan menikah bersama manusia rubah? Lee Taeyong membeli sebuah rumah di pedesaan. Namun tak disangka, ternyata rumah itu masih berpenghuni dan sosok yang tinggal di sana adalah manusia rubah berekor sembilan. - ⚠...
