RF.23

22.5K 3.7K 282
                                        

©dotorijen
-

"Jaehyun pasti akan sangat senang mendengarnya."

Untuk membuktikan itu semua, Taeyong akhirnya membuat janji dengan Doyoung untuk datang ke rumah sakit. Dokter itu tidak keberatan selepas jam kerjanya ia harus mengantar Taeyong melakukan pemeriksaan. Memang tidak ada gejala, ia sendiri masih bertanya-tanya bagaimana si nenek bisa mengetahui kondisi tubuhnya dalam sekali pandang.

Doyoung menunggu di mobil selagi Taeyong membeli sesuatu di toko pakaian. Raut bahagianya benar-benar terpancar sejak keluar dari ruang pemeriksaan. Ia berkata bahwa ia telah membantu Jaehyun untuk mewujudkan satu impian besarnya. Tak tahu apa maksudnya tapi Doyoung tetaplah ikut merasa bahagia.

Cukup lama dokter itu menunggu, Taeyong akhirnya keluar dari toko dengan satu kantong pakaian baru, entah apa niatnya membeli baju baru di waktu seperti ini bukannya cepat-cepat pulang dan memberi Jaehyun sebuah kejutan.

Pintu mobil terbuka, Taeyong melempar kantong itu ke jok belakang sebelum kemudian masuk dan duduk di samping kursi kemudi.

"Kau ingin membeli sesuatu yang lain?" tanya Doyoung, mata kelincinya terhalang kacamata bening serta tampilan rambut barunya yang hitam legam. Dokter muda itu benar-benar terlihat sangat tampan namun sayang ia masih ingin melajang.

"Tidak ada kurasa, ayo pergi sebelum Jaehyun pulang ke rumah!"

Doyoung mengangguk, mobilnya kembali melaju menyusuri jalan yang telah dia hafal.

***

Jaehyun pulang telat hari ini, satu pasien membuatnya tertahan di klinik karena wajah anjing yang terbakar separuh.

Sebetulnya mudah tanpa melewati operasi, ia hanya cukup membawa anjing itu ke satu ruangan tertutup dan memberi sedikit energi untuk memulihkan kulitnya yang terkelupas. Namun hal itu akan membuat si pemilik anjing curiga jadilah Jaehyun hanya bisa mengeringkan luka basah di wajah si anjing agar tak membusuk di kemudian hari.

Tak hanya kerepotan dengan wajah anjing yang terbakar, Taeyong juga menyuruhnya membeli saos tomat, saos cabai, kecap asin, minyak ikan, dan sekotak susu.

Karena tugas tambahannya, Jaehyun baru sampai ke rumah pada pukul setengah lima sore. Ia lekas memasukkan mobilnya ke dalam garasi, bersiap untuk makan malam dan menghabiskan waktu bersama sang istri tanpa adanya gangguan lain.

Seharian ini Jaehyun memang lebih merindukan Taeyong dari hari biasanya, rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu istri manisnya di rumah.

"Aku pulang!" seru Jaehyun begitu melewati pintu rumah. Namun satu hal membuatnya penasaran, pria itu menatap heran benda-benda mati di sekitar.

Tidak biasanya suasana rumah sepi seperti ini, tidak ada sambutan dari Taeyong atau suara tv yang menyala bersamaan benda dapur ketika Taeyong sibuk memasak makan malam. Kali ini semuanya diam.

"Sayang?" Jaehyun tak dapat mengandalkan penciumannya, lilin aroma terapi menyala di mana-mana.

Pria itu membuka pintu setiap ruangan melihat dan mengendus ke dalam namun keberadaan Taeyong masih belum ia temukan. Rumah mereka tak cukup besar untuk bermain petak umpet tapi ternyata pemuda manis itu cukup lihai untuk bersembunyi.

Terakhir Jaehyun masuk ke dalam kamar tidur, sebuah lilin juga menyala di dalam sana. Jaehyun tersenyum kecil menyadari betapa cerdik dan liciknya si manis sampai ia baru sadar masih membawa tas jinjing dan memakai kaos kaki ke dalam kamar.

"Kau akan habis setelah ini, Jung Taeyong."

Jaehyun menaruh tas jinjing itu ke atas meja belajar, melipat lengan baju sampai ke siku seraya berjalan ke dekat tempat tidur. Di sana terdapat benda asing yang baru pertama kali ia lihat di dalam rumahnya.

Jika tebakannya benar, maka ia akan menjadi orang paling berbahagia detik ini di dunia. Jaehyun membawa potongan baju kecil itu, tampak lebih kecil ketika berada di tangannya, sangat lucu.

"Apa tebakanku benar?" Jaehyun berujar.

Sepasang tangan menelusup dari belakang, menggelitik otot di perutnya. Jaehyun belum mendapatkan jawabannya namun kekehan pelan yang tenggelam di punggungnya membuat segalanya menjadi jelas.

Sepasang baju dan mainan bayi di atas tempat tidur.

"Ucapkan selamat datang kepada Ayah!"

Jaehyun mengulas senyum, segera memutar tubuhnya lalu menangkap dua tangan Taeyong untuk ditariknya lebih dekat. Tubuh mereka bertubrukan, hangat seperti biasa.

Begitu dilihatnya wajah manis itu tersenyum dengan binar yang lebih terang di kedua bola mata, senyum Jaehyun mengembang lebih lebar, ia tak dapat menahan gejolak bahagianya.

Mereka berpelukan dengan potongan baju yang masih digenggam Jaehyun kuat, pria itu mencium pundak, leher dan puncak kepala Taeyong berkali-kali, merapalkan terima kasih dengan dua tangan raksasa yang memenuhi punggung si manis.

"Terima kasih, sungguh."

Taeyong terkekah kala hidung mancung itu menggelitik wajahnya.

"Aku senang Jaehyun, aku sangat senang."

Taeyong menepuk punggung Jaehyun agar memberi jarak. Cukup sesak karena tubuhnya sampai tenggelam di dalam pelukan. Dengan sedikit usaha ia berjinjit, menarik tengkuk sang suami untuk membawanya ke dalam ciuman manis.

-

To be continued...

Haaaaaa bab ini gak begitu kacau kan? (☍﹏⁰)。

Apa di ff ini ekor Gumiho juga akan menghilang?

Enggak sayang, karena disini Jaehyun akan tetap menjadi Gumiho tanpa ada keinginan atau usaha menjadi manusia biasa. Jadi ekornya tetap utuh tapi diganti dengan pengurangan usia. Nanti dijawab di bab depan.

Pertanyaan lain? >>

Terima kasih sudah membaca.
—Jen

(✔) Rain FoxCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang