[ SELESAI ] Bagaimana rasanya tinggal dan menikah bersama manusia rubah?
Lee Taeyong membeli sebuah rumah di pedesaan. Namun tak disangka, ternyata rumah itu masih berpenghuni dan sosok yang tinggal di sana adalah manusia rubah berekor sembilan.
-
⚠...
Taeyong menemukan dirinya berada di tempat yang asing. Benda-benda di sekitarnya tersapu oleh gelap, hanya ada satu jendela panjang sebagai sumber cahaya. Gorden telah dibuka menampilkan salju yang masih turun menimbun jalan. Jelas ini bukan kamarnya bersama Jaehyun.
Dingin merasuk, padahal tubuhnya masih tertutup rapat oleh selimut. Taeyong sejenak melamun, menatap lurus jendela dengan ingatan yang berkabut. Tidak begitu jelas, namun ia ingat bagaimana Jaehyun menggila di jalanan untuk membawanya pulang semalam. Sekelebat ingatan datang dan kembali menghilang, timbul tenggelam dalam memori kepalanya.
Taeyong mengingat jelas kecemasan di raut wajah sang suami dan untuk pertama kali ia melihat sosok itu menangis. Tak heran jika berita pagi ini dipenuhi oleh hujan lokal di malam bersalju.
Hujan adalah tangisnya.
Taeyong kembali menghirup udara, jelas ia masih hidup. Rasa sakit itu menghilang sepenuhnya, detak jantungnya normal, tidak ada cacat di tubuh hanya saja beberapa cakaran di tangan dan luka sobek di bibir bekas ia gigit. Kepalanya terasa ringan disambut suasana pagi setenang ini, seperti kejadian semalam hanyalah kabut yang akan hilang ketika fajar datang.
Ia berbalik, merasakan dingin pada punggungnya. Tidak ada kehangatan dari seseorang yang biasa memeluknya sampai pagi. Taeyong mencarinya, namun orang itu tak nampak dimana-mana, hanya ada gelap dan dingin di sana meski penghangat ruangan bekerja dengan baik.
"Jaehyun..."
Taeyong menatap tempat kosong di sampingnya dengan gelisah, ia tak tahu apa yang terjadi setelah dirinya tak sadarkan diri di perjalanan. Hanya isakan pilu yang membekas dalam ingatannya.
"Jaehyun!"
Taeyong mencari, menumpu tubuhnya pada dinding dan benda apapun yang ia lewati. Sampai dirinya berada di luar kamar, ia hanya menemukan kursi lapuk bersama sekeranjang buah persik segar di meja.
Kini Taeyong tahu dimana dirinya sekarang.
"Nenek!"
Suara minyak panas yang bertemu dengan irisan daging terdengar lebih jelas, dapur ada di sebelahnya. Taeyong cepat-cepat masuk ke dalam dan langsung menemukan sosok renta berambut putih itu di dekat penggorengan.
"Nenek!" ia kembali memanggil, namun suaranya tak cukup sampai ke telinga si nenek.
"Nenek!!"
Wanita tua itu akhirnya menoleh, senyum serta sorot mata teduhnya mengusik dalam remang lampu kuning yang menggantung di atas kepala mereka.
Sesuatu benar terjadi.
"Selamat pagi, nak." suara tuanya menyapa.
Taeyong meremat baju yang ia pakai, ini adalah baju tidur miliknya. Berarti semalam Jaehyun pergi ke rumah mereka dan mengambil baju ganti untuknya, mengurusnya seperti biasa.
Namun mengapa ia bisa berada di sini sampai sekarang? Tanpa suaminya?
"Pagi nek," Taeyong berdiri tanpa membantu, sejujurnya ia tak tahu harus melakukan apa "Nek, Jaehyun dimana?"
Pria itu sama sekali tak terendus keberadaannya di rumah ini. Taeyong khawatir, tentu saja.
Kompor dimatikan, irisan daging sapi telah matang segera dipindahkan ke atas piring namun jawaban dari sang nenek tak juga didapatkan. Mulut keriput itu hanya bergerak, menggumam sesuatu tanpa suara.
Suasana semakin aneh, Taeyong tak tahu hal baru apa lagi yang akan ia temukan di tempat ini. Semakin lama ia menetap, semakin banyak misteri yang terungkap tanpa bisa ia pahami dengan nalar.
Namun bagaimanapun, Taeyong telah terjatuh ke dalam misteri itu sendiri.
"Nenek, kau tau dimana Jaehyun?" Taeyong mendesak, namun wanita penuh uban itu kembali tak acuh pada dirinya.
Gerakan lambat sang nenek berhenti setelah piring terakhir, sarapan untuk dua orang telah siap di meja. Wajah kalemnya menatap Taeyong, menyiratkan pemahaman tentang apa yang tengah melanda perasaan pemuda itu saat ini.
***
Apa yang Taeyong ingat dari desa ini adalah dua gunung yang mengapit ladang, jalan setapak panjang yang membelah ladang dari ujung Timur ke ujung Barat, pemandangan matahari terbenam yang memancar jingga, menimpa satu desa penuh misteri yang dihuninya.
Tempat ini selalu tenang. Ketenangan yang tak terusik. Ketenangan yang menutup segala misteri.
Hampir menyentuh tengah hari, Taeyong berdiri di pelataran rumah bersama nenek bersanggul abu di sampingnya. Putih salju menjadi warna baru yang Taeyong lihat di tempat ini, menutup ladang bekas panen dan warna lain kendati tidak mengurai indahnya.
"Malam ini purnama." ujar si nenek.
Kalimat pendek itu memukul kembali pikiran Taeyong, ia dibawa ke tempat ini untuk melihat pria-nya berada.
"Kapan akan berakhir nek? Kapan dia kembali?" getar suara yang terselip rasa cemas darinya terdengar.
Sepasang permata gelap itu berhenti mengorbit, memusat kukuh pada tempat suram terpencil yang dikerubung misteri. Gubuk di tepi ladang, tepat mendekati ujung Barat. Di sanalah Jaehyun berada.
Membelenggu diri dari dunia luar.
Air mata kembali jatuh, lemah ia tak bisa menapak lebih lama. Taeyong ingin berlari dan memeluk Jaehyun sekarang juga.
-
To be continued...
Yang penasaran sama gubuk, itu tempat Jaehyun guys. Tapi kita belum tau itu tempat apa, ada yang bisa nebak?
Siap buat bab depan? Ambil napas dulu
Bonus, wifeu-nya pak Jaehyun 🌸✨
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.