Bab 25 Bukit Kubu, Serangan Monyet dan Kalif

183 18 0
                                        

Sepulang dari sekolah Aika mampir ke rumah Bu Husnar untuk melihat keadaannya karena peristiwa kemarin. Wanita itu sedang berada di dalam kamarnya seperti mau meninggalkan rumah.

"Aika, ayo kita ke Kubu."

"Kubu? Yang dulu pernah Bu Husnar sebut? "

"Iya, bukit kecil itu letaknya di pinggir Ngarai Sianok bagian utara, di sebelah Bukit Umpang-umpang. Di sana ada sepetak tanah peninggalan nenek buyutmu. Aku telah menanaminya dengan berbagai macam sayuran. Kamu pernah menyantapnya setiba kamu tiba disini. Sebagian besar hasilnya akan dijual ke hotel kecil langgananku."

"Oh iya, vegetable ommelette," sahut Aika sambil mengangguk-angguk.

Husnar menyebut Bukit Umpang-umpang seolah-olah Aika sudah mengetahui lokasinya. Sepertinya aku harus mulai menghafal nama-nama bukit disini dibandingkan nama jalan, komentar Aika dalam hati.

Sebelum berangkat, Aika mengganti seragam sekolahnya dengan kaos putih yang menggambarkan sebuah kepala harimau, di bawahnya bertuliskan "Tiger, the "Real" King of the Jungle." Husnar tampak terpana sesaat melihat bajunya.

"Ini baju hadiah dari Iswan, Bu Husnar lupa ya?"

"Oh ya?"

Nada keterkejutan Husnar meninggalkan tanda tanya.

"Kalau tidak salah, Iswan mengirimkannya saat aku ulang tahun, dua tahun yang lalu. Memangnya kenapa?Ada yang salah?"

"Tidak apa-apa. Ayo kita berjalan kaki saja." Husnar memakai topi anyaman kebanggaannya, kali ini topi itu dihiasi oleh rumput dan bunga liar.

Pada awalnya perjalanan masih melewati rumah-rumah penduduk sekitar. Lama-kelamaan rumah penduduk mulai jarang, hanya ada beberapa rumah yang mereka temui. Dari jauh suara dengung serangga hutan mulai terdengar. Bu Husnar memberi tahu perjalanan telah sampai di kaki Bukit Kubu.

Keduanya mulai berjalan lebih dalam menembus hutan yang ditumbuhi pepohonan yang tidak rapat. Kemudian dilanjuti dengan menelusuri jalan setapak yang sudah dirintis oleh penduduk setempat. Rute ini lah yang selanjutnya membimbing mereka melintasi hutan. Jalan mulai terlihat mengecil dan agak mendaki. Selama perjalanan, Aika hanya fokus pada jalan yang dilalui. Nafasnya sudah ngos-ngosan. Namun setiap kali Aika bertanya kepada Husnar kapan sampai di tujuan, Husnar selalu menjawab sebentar lagi. Selagi Aika kepayahan, Husnar bersenandung kecil. Husnar menikmati setiap ayunan langkahnya. Malahan, tidak terdengar nafasnya terengah-engah. Dalam hati Aika mengakui perbedaan antara perempuan yang dibesarkan di kota besar dengan yang dibesarkan di desa. Mereka lebih tangguh berjalan kaki!

Matahari bersinar terik, tapi dengan adanya hawa sejuk yang berhembus dari hutan perbukitan, udara menjadi tidak begitu panas. Lalu mereka menyusuri lereng bukit yang sedikit terjal dengan jurang di salah satu sisinya. Aika berjalan dengan berhati-hati sambil berpegangan pada sisi lainnya, karena ternyata sepatunya tidak bisa memberikan daya cengkeram di atas tanah yang berpasir.

Kadang-kadang dijumpai ibu-ibu berusia sekitar lima puluhan yang sedang membawa seikat kayu bakar dipundaknya. Mereka menganggukkan kepalanya saat melihat Bu Husnar yang membalas dengan hal yang sama. Stamina mereka sangat mengagumkan. Tidak terlihat kepayahan sama sekali. Wajah mereka datar dan tenang begitu saja saat menyisir jalan yang berkelok-kelok dan terjal. Ketika berselisih jalan dengan mereka, Aika harus menepi karena ruas jalan itu hanya dapat memuat satu orang. Pertemuan itu membuat Aika tenang karena rute yang ditempuh bukanlah jalan yang sepi.

"Kita sudah sampai!" seru Bu Husnar.

Akhirnya! lega Aika dalam hati. Lansekap Ngarai Sianok membentang dengan tebing yang curam dan kokoh kembali menyambut mata. Aika langsung berlari menuju bibir bukit, terlupa akan rasa kelelahan. Dengan nafas masih belum beraturan, gadis itu memuaskan matanya dengan memandangi setiap ceruk dan celah Ngarai Sianok. Lekuk langsing aliran batang sungai yang berbelok-belok di dasar ngarai terlihat jelas.

THE KING'S CALLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang