Jam menunjukkan pukul dua siang, setengah jam lagi sekolah akan usai. Namun jarum jam sepertinya bergerak begitu lambat. Aika sudah tidak tahan untuk segera keluar dari kelas, tapi ia belum berani merapikan buku-buku dan pensil yang masih berserakan diatas mejanya. Apalagi ia duduk di bangku barisan tengah dan saat itu Bu Rami berdiri di sampingnya. Gerakannya pasti segera terdeteksi oleh Bu Rami. Guru itu bertubuh kecil, tetapi mata dan pendengarannya sangat awas.
Pengajar biologi itu sedang semangat menerangkan perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan, kemudian menyinggung tumbuhan parasit; yaitu bunga Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus Titanium. Sambil memperlihatkan gambar kedua bunga itu di depan kelas, Bu Rami menjelaskan bahwa banyak orang yang menyamakan keduanya. Ia menegaskan beberapa kali bahwa Raflesia Arnoldi adalah tumbuhan parasit yang tidak berbatang, tidak bertangkai dan tidak berdaun.
Ia menarik tanpa basa basi, warna kelopaknya berwarna merah terang dan ditaburi bintik - bintik putih benar-benar perpaduan warna yang mencolok mata. Dan dapat mekar selebar sembilan puluh centimeter seperti sebuah mangkuk raksasa. Sedangkan, Amorphophallus Titanium adalah tumbuhan sejati sebangsa talas yang dapat tumbuh tinggi seperti menara. Daunnya membuka selebar kira-kira satu koma dua meter. Bunga ini dapat mencapai ketinggian lebih dari dua setengah meter. Pada saat mekar kedua bunga ini mengeluarkan bau daging busuk untuk memikat lalat serta serangga lainnya untuk mendekatinya. Begitulah setiap mahluk hidup, pasti mempunyai keunikan dalam kekurangan maupun kelebihannya," ujar Bu Rami mengakhiri penjelasannya.
Bu Rami mendorong para siswa untuk melihat kedua bunga itu pada saat mekar, langsung di habitatnya, mengingat mereka membutuhkan masa pertumbuhan berbulan-bulan, tapi dengan masa mekar yang sangat singkat, hanya kira-kira satu minggu lalu ia akan mengerut sebelum akhirnya layu.
Aika menegakkan punggungnya lalu diluruskan pandangannya. Ia berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka dan menyimak keterangan Bu Rami sambil sesekali melirik jam dinding, menanti jarum panjang tepat di angka dua.
Akhirnya! serunya dalam hati, sedetik kemudian, tepat jam dua siang, bel tanda usainya sekolah berbunyi. Bersama siswa- siswa lainnya, Aika seketika bersemangat kembali dan entah kenapa rasa kantuk yang sudah lama ditahannya selama satu jam menguap begitu saja.
Ruangan kelas kembali hidup, mencurahkan segala ocehan, seperti bunyi rentetan senapan mesin, hampir setiap siswa sedang asyik mengobrol dengan segala ekspresi. Kemudian suara bising itu mendadak berhenti, dikejutkan oleh suara penggaris kayu yang diketok-ketokkan pada sebuah meja dengan sangat keras oleh Bu Rami. Lantas ia berkata dengan suara lantang di depan kelas, "Kalian harus mempersiapkan makalah biologi yang temanya pelestarian flora dan fauna langka pulau Sumatera. Makalah ini adalah tugas kelompok yang dapat diisi oleh tiga sampai lima orang. Kumpulkan hari Selasa minggu pertama bulan depan."
Aika menghela nafas berbarengan dengan suara gerutu murid-murid lainnya. Minggu lalu , setiap guru sudah memberikan tugas tambahan yang masih belum sempat dikerjakannya. Gadis itu segera keluar dari kelas menuju tempat penitipan sepeda menyatu dengan ratusan murid-murid lainnya. Suasana sekolah yang sebelumnya sunyi senyap langsung berisik seperti suara ribuan lebah.
Ketika hendak melaju dengan sepedanya, Flora memanggilnya.
"Aika, tunggu!" Aika membalikkan badannya, Flora melambaikan tangannya.
Flora bergegas menghampirinya, "Peluit kecilmu terlepas," sambil menyerahkan sebuah peluit kecil berikut untaian kalung dari genggaman tangannya. Aika langsung meraba lehernya dan baru menyadari kalungnya yang terlepas.
Peluit tersebut terbuat dari kayu. Ukurannya hanya sebesar jari kelingking dan mempunyai ukiran indah berbentuk harimau. Peluit tersebut adalah salah satu peninggalan ibunya. Anehnya, peluit itu tidak bisa berbunyi, walaupun sudah sekuat tenaga meniupnya. Aika tidak mengerti kenapa ibunya memberikan peluit tua itu kepadanya. Sebenarnya ia sempat membuangnya ke keranjang sampah, tetapi ayah menemukannya secara kebetulan, lalu memberikan peluit itu kembali kepada Aika sembari memintanya untuk menyimpan peluit itu baik-baik. Di ujung peluit itu ada lubang kecil yang dapat diselipi dengan kalung tipis. Aika menyelipkan peluit itu dengan kalung emas putih tipis peninggalan ibunya.
"Terimakasih." ucap Aika.
"Di mana kamu menemukannya?"
"Di dekat pintu kelas, kakiku tersandung oleh peluitmu."
"Peluit mu unik dan indah sekali, seperti barang antik. Kamu harus menjaganya jangan sampai hilang, siapa tahu sangat berharga. "
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KING'S CALL
Fantasia(Book 1 COMPLETED/ To be continued on Book 2) Aika, 17 tahun, terpaksa pindah ke Bukittinggi akibat tragedi yang menimpa ibu dan ayahnya. Padahal ia benci Bukittinggi semenjak Ibunya dibunuh di Kota itu. Semenjak kedatangan di pulau Sumatra, Aika...
