Aika merebahkan diri di kasurnya, menatap langit-langit kamar. Penegasan Husnar membuat kepalanya berdenyut. Semua perkataan wanita itu masih mengambang di pikirannya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Ya Tuhan, apakah ini memang nyata? Setelah apa yang menimpaku sebelumnya. Mengapa hal ini harus terjadi padaku?
Apakah sebelumnya masih belum cukup? Apakah Tuhan masih menganggapku kuat menanggung semua ini?
Walaupun telah memejamkan mata, Aika tetap terjaga. Ia bolak balik di atas kasur dengan resah.
Sampai kapan pun tidak ada penjelasan logis atas semua ini.
Ingatan Aika meloncat-loncat dengan cepat. Mula-mula pengalamannya di hutan, lalu penyerangan Syawal di kebun binatang, kemudian pertemuan keduanya dengan Syawal yang membuatnya terjun ke masa lalu. Lantas menyaksikan pembantaian harimau. Lalu adegan seekor harimau sekarat yang memohon kepadanya. Aku? menolong harimau sebagai pelindung? Aika bertanya pada diri sendiri, merasa janggal dengan permintaan itu. Semuanya berjejalan di dalam benaknya. Puncak kegelisahaannya pada saat sosok pria tua itu muncul. Datuk Bidam Batuah. Ia bahkan tak sanggup menyebut nama pria tua itu.
Mengingatnya membuat tubuh Aika seketika merinding dan mual. Terutama matanya yang berwarna kuning seperti sorotan lampu, persis mata harimau. Lalu pada saat tangan pria tua itu mengarah padanya . Mimpi terburuknya pun tak pernah menakutkan seperti itu. Ia berusaha mengusir sosok itu jauh-jauh dari pikirannya.
Untuk mencegah sosok itu bersarang di benaknya Aika mengingat-ingat sesuatu yang menyenangkan seperti berandai-andai jika ayahnya sudah lepas dari penjara. Ia kemudian membuka daftar mimpinya yang pernah ia angan-angankan. Apakah mimpi-mimpi itu bisa diwujudkan atau tidak, untuk sementara ini Aika tidak peduli. Diantara mimpinya itu adalah bertamasya dengan balon udara raksasa ditemani ayah dan ibunya.
Di balon udara ia tak perlu mendengar suara suara miring yang menyerangnya, hanya ada mereka bertiga berlayar di langit biru yang cerah
Saat itu hujan baru saja berhenti. Langit kelabu telah berubah berwarna biru cerah dan matahari kembali memamerkan dirinya. Mereka terbang melewati puncak-puncak bukit, mengarungi lembah berbunga yang harum, lalu berpapasan dengan kawanan burung angsa yang membentuk formasi seperti anak panah.
Di atas mereka mengobrol, bercanda dan tertawa bersama tanpa ada yang mengganggu. Tanpa mendengar suara-suara yang menyakitkan hati. Obrolan berhenti sejenak saat balon mendekati lengkungan pelangi dengan irisan warna-warninya yang sangat sempurna. Dari atas Aika melihat dunia yang indah, tenang dan damai. Angin kemudian berhembus tenang sampai mengantar mereka mendarat di sebuah lapangan rumput yang berwarna hijau muda menyegarkan. Usaha Aika mengenyahkan Datuk Bidam Batuah berhasil. Ia dapat melupakan wajah menyeramkan itu dan tertidur lelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KING'S CALL
Fantasy(Book 1 COMPLETED/ To be continued on Book 2) Aika, 17 tahun, terpaksa pindah ke Bukittinggi akibat tragedi yang menimpa ibu dan ayahnya. Padahal ia benci Bukittinggi semenjak Ibunya dibunuh di Kota itu. Semenjak kedatangan di pulau Sumatra, Aika...
