Di hari Minggu pagi, seperti biasa Aika membereskan rumah. Ia sudah mulai terbiasa hidup seorang diri. Rumahnya terasa lebih besar dengan dirinya seorang. Ditambah, suasana di sekitar rumah cukup sepi. Aika dapat mendengar suara angin yang berhembus dan suara serangga seharian. Suasana yang tenang dan sunyi itu mengundang rasa kantuk, apalagi jika tidak melakukan kegiatan dan memutar musik atau menonton TV.
Aika memutuskan menyalakan radio, dan terdengar suara Bebe Rexha yang menyanyikan I'm a mess, membuatnya terbayang wajah Syam hingga adegan ia terjatuh dengan anggunnya di kubangan.
God, I'm really a mess! Pemuda itu dan kawan-kawannya pasti menertawaiku, tuduhnya dalam hati.
Aika memejamkan matanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri bermaksud menghapus adegan memalukan itu.
"Aika?"
Aika terlonjak, kaget dengan kemunculan Bu Husnar di hadapannya.
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu? Aku sudah mengetuk pintu depan."
"Ah, benarkah?" Aika terperangah dengan muka memerah. Ia tertangkap basah melamun di siang bolong.
"Em, ada apa?" tanya Aika sambil mematikan radio.
"Aku butuh pertolonganmu di dapur."
"Ok, no problem," jawab Aika menurut.
Sesampai di rumahnya Bu Husnar langsung berkata "Tolong bantu menggoreng pisang-pisang ini."
Aika memandang adonan pisang goreng dalam dua mangkuk besar dan sebuah kuali besar yang sudah terisi dengan minyak panas. Ia terperangah melihat banyaknya pisang yang harus digoreng.
"Kamu pernah menggoreng pisang kan?" tanya Husnar.
"Ya tentu saja," jawab Aika.
Ia pikir, aku gadis manja yang enggak pernah masak, sergah Aika dalam hati. Padahal semenjak ibu tiada, aku yang memasak untuk ayah.
"Lalu apa yang kamu tunggu?"
Sambil menghela nafas, Aika langsung mencelupkan beberapa buah pisang ke dalam adonan terigu dan telur lalu ke dalam kuali penggorengan.
"Aku akan menjualnya sebagian," jelas Bu Husnar tiba-tiba menjawab keheranan Aika.
Setelah membantu Husnar, Aika langsung ke rumahnya untuk mandi dan beristirahat. Tangannya agak pegal setelah menggoreng sekitar seratus pisang goreng.
Sehabis mandi ia menemukan empat buah pisang goreng di meja makan. Pisang goreng itu ditemani nasi ketan yang wangi dengan ditaburi kelapa parut. Selain itu, ada sebuah stoples kaca kecil yang berisi bubuk kopi.
Bu Husnar baik juga, Aika mengakui dalam hati.
Gadis itu langsung menyantap pisang goreng selagi masih hangat. Ia terkesiap dengan kenikmatan pisang yang tadi digoreng.
Setelah menghabiskan seluruh pisang goreng, Aika menelepon pamannya untuk menanyakan keadaan ayahnya. Disamping menelepon ke Jakarta, ia selalu menyempatkan diri mengirim surat untuk ayahnya. Aika mulai rutin mengirim surat semenjak Paman Alf mengabari dirinya ayah sangat bahagia menerima surat pertamanya.
Tak lama kemudian Aika memaksakan diri mengerjakan tugas Kimia. Kedua matanya dipaksakan melotot demi penuhnya perhatian. Setelah sejam berlalu, rasa kantuk sulit dihindari. Ia lalu menyiapkan secangkir kecil kopi untuk membangunkan matanya. Serbuk-serbuk kopi yang diseduh air mendidih langsung mengapung di permukaan. Aroma kuat kopi seketika terangkat ke udara memenuhi seisi ruangan.
Aika menarik nafasnya dalam-dalam. Walaupun kopinya belum diminum, wangi eksotis kopi berfungsi bagai aroma terapi yang membangkitkan semangat. Penampilannya memang tidak semenawan kopi instan, tapi kelebihannya adalah terletak pada aroma dan rasanya yang lebih tajam. Aika hanya membuat secangkir kecil. Itu pun hanya terisi sepertiganya dan tidak begitu kental. Ia tidak berani membuat secangkir penuh, karena dirinya hanyalah seorang peminum kopi amatiran, bukan penikmat kopi sejati.
Aika menyesap kopinya secara perlahan.
Oh pahit nya, ucap gadis itu dalam hati.
Kopi pahit ini seperti ini memang tidak cocok diminum saat santai, tetapi untuk menemani kegiatan serius, seperti sekarang ini.
Aika melanjutkan tugas kimia dengan sesekali menyesap kopi.
Serbuk-serbuk kopi yang tidak tergiling halus masih terasa di ujung lidahnya. Kopi ini memang ditanam sendiri oleh Bu Husnar di kebun belakang rumah. Husnar menyebut kopi itu dengan 'kopi kampung' untuk membandingkan dengan kopi yang dijual dalam kemasan. Walau hanya punya empat pohon, semuanya tumbuh dengan subur. Ketika musim panen tiba, biji kopinya banyak sekali hingga tumpah ruah di tanah. Husnar memproses sendiri biji kopinya. Biji yang yang telah matang dikumpulkan lalu dijemur hingga kering. Kemudian mereka digiling di tempat penggiling kopi.
Sayup-sayup di antara desauan angin, terdengar bunyi mendengung yang menusuk telinga. Bunyi itu berasal dari semak-semak dekat rumah Bu Husnar. Dari jendela kamar, Aika dapat melihat wanita itu sedang berdiri mematung di ujung halaman belakang, di dekat sebuah pohon besar. Karena penasaran, Aika turun dari kamarnya menuju halaman belakang. Diam-diam ia memperhatikan Bu Husnar.
Bibir Bu Husna terlihat bergerak-gerak, seperti orang yang sedang berdoa. Tiba-tiba Bu Husnar jatuh lemas. Aika segera berlari menyongsong dan memapahnya masuk ke dalam rumah. Aika tidak menyadari sekelibat bayangan beranjak pergi dari balik semak-semak. Bu Husnar berkeringat dingin. Suara berdengung itu bertambah keras, kemudian melesap dan berhenti begitu saja.
"Bu Husnar, apa yang terjadi?" tanya Aika khawatir. Bu Husnar terdiam dan menutup matanya sejenak.
"Aku hanya sedikit pusing, setelah seharian penuh membersihkan semak belukar di belakang rumah.
"Aku mau istirahat saja. Tolong tinggalkan aku," ucap Bu Husnar pelan.
"Baiklah," jawab Aika. Ia tahu Husnar menyembunyikan sesuatu karena pandangan matanya menyiratkan kekhawatiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KING'S CALL
Fantasi(Book 1 COMPLETED/ To be continued on Book 2) Aika, 17 tahun, terpaksa pindah ke Bukittinggi akibat tragedi yang menimpa ibu dan ayahnya. Padahal ia benci Bukittinggi semenjak Ibunya dibunuh di Kota itu. Semenjak kedatangan di pulau Sumatra, Aika...
