Sayup-sayup terdengar suara Kalif dan Arul yang memanggil-manggil namanya, tapi ia tak dapat menjawabnya.
"Aaaakhhhh" Aika berteriak dan tersentak,
Syawal mencakar lengan kiri gadis itu dengan cepat, kemudian ia melangkah mundur.
"Aika! kamu tidak apa-apa?" tanya Kalif.
Gadis itu menyadari sekelilingnya. Ia sudah kembali dan melihat Kalif serta Arul. Lalu menyadari lengannya yang berdarah.
Kalif berkata, "Syawal tiba-tiba mencakarmu,"
Aika hanya bisa mengangguk, sambil menahan perih lukanya.
"Kami sama sekali tidak menduganya. Tidak ada tanda-tanda ia marah. Lihat, ia sangat tenang," ungkap Arul.
Aika melihat Syawal yang masih berdiri tegak memandangnya sambil mengibaskan ekornya.
Lantas terdengar samar-samar dari kejauhan suara seruling. Bunyi yang sama ketika Syawal mengamuk. Suara seruling itu meliuk-liuk tidak karuan.
Syawal menegakkan kupingnya. Tubuhnya menegang. Lalu ia terlihat resah, kemudian mengaum dengan kencang. Namun walau terlihat menyeramkan, ia membuka jalan kepada mereka untuk keluar dari kandang.
"Kita harus pergi! Sebelum Syawal kembali mengamuk!" seru Kalif.
Kemudian mereka bertiga berlarian ke luar secepatnya dari kandang khusus dan menutup pintunya.
Di luar hari sudah menggelap. Kalif kembali membantu Aika dan Arul memanjat dan meloncati pagar kebun binatang. Mereka bertiga berjalan menuju Jempatan Limpapeh.
Setengah jam berlalu dengan tenang sebelum Kalif mengatakan sesuatu yang menghentikan langkah mereka, "Sstt... jalan lebih cepat!Kita sedang diawasi."
Aika terperangah, dan jantungnya kembali berdebar keras. Ya Tuhan ini terlalu banyak bagiku.
Sosok-sosok tubuh tegap menghadang mereka. Jumlah mereka ada lima orang. Para penyerang mengambil posisi mengepung.
"Mau apa kalian ?" tanya Kalif tajam.
"Kami hanya ingin menjemput gadis itu," sambut salah satu dari mereka yang bertubuh paling kecil namun berwajah paling sangar. Sepertinya pria yang lebih kecil itu adalah pemimpinnya.
Aika keheranan dengan semua ini.
"Jangan bermimpi! Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Kalif.
"Kenapa harus memberitahumu?" jawab pria itu lagi.
"Kalian gila! Mana mungkin aku ikut dengan kalian!" teriak Aika dengan lantang.
Para penyerang itu hanya tersenyum licik.
"Apakah kalian yang telah membuka sel Syawal?" tanya Arul.
Salah satu dari penyerang menertawai mereka.
"Kalian pikirkan saja sendiri!" serunya dengan mencemooh.
Melihat adanya ancaman, Kalif langsung berubah sikap, matanya awas mengantisipasi setiap gerakan lawan.
Para penyerang secara serempak berjalan kearah mereka dengan cepat.
Jembatan Limpapeh bergetar menimbulkan bunyi berderak-derak. Kalif memberikan kejutan, dengan secepat kilat melayangkan kaki kanannya dengan arah memutar tepat mendarat di rahang dua orang penyerang.
Darah tersembur keluar. Mereka terpelanting dan jatuh berdebam.
Aika sesaat terpana dengan keahlian pemuda itu. Semestinya ia menyadari Kalif pandai ilmu bela diri semenjak ia menyaksikan permainan bola rago yang Kalif tunjukkan dulu. Tendangan, pukulan dan tangkisannya akurat dan bertenaga.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE KING'S CALL
Fantasía(Book 1 COMPLETED/ To be continued on Book 2) Aika, 17 tahun, terpaksa pindah ke Bukittinggi akibat tragedi yang menimpa ibu dan ayahnya. Padahal ia benci Bukittinggi semenjak Ibunya dibunuh di Kota itu. Semenjak kedatangan di pulau Sumatra, Aika...
