"Hati yang tenang, tidak akan pernah merasa memiliki seseorang. Karena baginya, semuanya hanya titipan Allah."
~Penulis ice princess~
***
"aku akan menjadikan syifa istri kedua ku lubna."
Deg...
Deg...
Seketika dunia lubna terasa luntur, dalam satu hari ia merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan. "apakah ucapan maaf mu tadi malam untuk ini mas?" batin lubna
Perlahan air mata lubna menetes hingga tak terasa bulir bulir itu jatuh sangat deras. Hanya jatuh tanpa adanya suara.
Pandangan lubna tidak pernah teralihkan dari arkhan yang juga memandangnya penuh penyesalan. Ia memandang suaminya dengan penuh sayang dan cinta walaupun kata kata menyakitkan dari suaminya telah terlontarkan. padahal tadi malam mereka masih memadu kasih, namun Allah berkata lain dengan menurunkan ujiannya lagi hari ini.
Umi arkhan yang memang saat ini memeluk lubna, mengeratkan kembali pelukannya itu bermaksud untuk menguatkan menantunya. Ia sangat menyayangi menantunya ini,ia tahu bahwa hati lubna sangatlah rapuh walaupun tak pernah ditampakkan oleh lubna.
Lubna kemudian menghela napasnya dalam dalam dan membuangnya. Ia mengelus punggung umi.
"tidak apa-apa umi, inshaa Allah lubna baik-baik saja." ucap lubna melepaskan pelukannya dan menatap uminya. Ia tersenyum walaupun matanya jelas menggambarkan kesedihan.
Pandangannya pun teralihkan kepada suaminya. "apa mas meminta izinku?" tanya lubna dengan nada tenangnya.
Arkhan tetap menatap lubna tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan istrinya. "jika memang iya dan ini semua untuk kebaikan, inshaa Allah lubna izinkan mas untuk berpoligami" dan seketika kata "berpoligami" terucap, luruhlah pertahanan lubna. Air matanya jatuh sederas mungkin diiringi isak tangis yang tidak bisa ia tahan.
Sungguh, ia butuh Allah untuk mencerahkan segala keluh kesahnya saat ini. Hanya berdoa yang ia butuhkan.
"ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang." (Q.S Ar-Ra'd:28)
Sedangkan arkhan dari lubuk hatinya, ia sangat tidak menyangka jika lubna adalah wanita sebaik itu. Mana mungkin seorang isteri dengan mudahnya memberikan izin kepada suaminya untuk berpoligami. Padahal tadi ia berharap agar lubna memarahinya, memukulnya ataupun menjambaknya namun ternyata ia salah. Humairahnya bukanlah wanita seperti itu.
"abi tetap tidak setuju lubna" abinya arkhan akhirnya buka suara. Ia tidak tahan melihat kebaikan hati menantunya ini. Ia tidak bisa membayangkan jika saat ini uminya arkhan yang berada di posisi ini. Ia kemudian menatap syifa dengan pandangan sinis yang membuat syifa menunduk takut dan memeluk abinya. "wanita ini bahkan meminta arkhan untuk menikahi mu dulu tanpa adanya rasa cinta dan sekarang dengan egoisnya ia ingin mengambil apa yang seharusnya bukan miliknya lagi." ucap abinya arkhan emosi. Ia bahkan menunjuk nunjuk syifa sekarang.
Hal itu membuat syifa terisak dalam pelukan abinya, "aku meminta maaf atas nama anakku, tapi lubna sudah mengizinkannya dan arkhan juga menerimanya jadi tidak ada salahnya dengan pernikahan ini." ucap abinya syifa. Yah dimana sifat pengertian dan kebijaksanaannya saat ini. Karena mementingkan kebahagiaan anaknya ia lupa jika salah seorang bersedih karena perbuatan mereka.
Abinya arkhan tersenyum miring mendengarnya " kamu bahkan tidak terdengar lagi seperti ustad. Dimana sifat bijaksana mu dulu.? Bahkan saat ini saya tidak mengenalimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Menanti Takdir (END)
Romance18++ [PUBLISH ON 13 DESEMBER 2019] [FINISH ON 14 MARET 2020] RANK# ON WATTPAD #11in-ikhlas [26-03-2020] Lubna humairah al-kathiri gadis cantik berhijab dengan tutur kata yang lembut, ia sangat berharap kepada Allah SWT agar menjadikan Arkhan malik g...
