29. Dibalik perasaan

2K 135 9
                                        

"hati manusia itu tidak ada yang tahu kecuali Allah, kadang seseorang yang baik dimata orang menyimpan seribu cara untuk menyakiti seseorang"

***

"kamu hamil nak? "

"iya abi, syifa hamil." ucap syifa senang.

"alhamdulillah jadi sebentar lagi abi punya cucu. " ucap abinya syifa dibalik telepon dengan nada yang terdengar bahagia.

"iya bi alhamdulillah "

"baiklah, selalu jaga kandunganmu. Jika abi sempat, abi akan datang menjengukmu nak. "

"iya terima kasih abi, kalau begitu syifa tutup yah. Assalamualaikum "

"waalaikumsalam. " ucap syifa lalu mematikan handphonenya. Syifa sangat senang mendengar suara abinya tadi. Terlebih lagi ia membawa kabar yang menggembirakan abinya.

Tok tok..

Suara ketukan pintu mengagetkan syifa.

"iya? "

Pintu terbuka menampilkan wanita cantik yang saat ini berada dibalik pintu.

"oh lubna, ada apa? " tanya syifa lagi. Ia menyangka jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah arkhan.

"maaf kak, lubna cari mas arkhan. Soalnya tadi lubna cari dibawah gak ada. Lubna kira mas arkhan disini. "

Syifa seketika merasa takut. Entah apa alasan lubna mencari arkhan. Namun sebetulnya jika pun bukan karena itu, lubna pun memiliki hak untuk mencari dimana keberadaan suaminya.

"e..emang ada apa lubna? " tanya syifa gugup.

Lubna tersenyum, seakan memikirkan sesuatu yang membuatnya bahagia yang justru membuat syifa tidak tenang.

"ada yang ingin lubna katakan kak sama mas arkhan. " ucap lubna tetap tersenyum.
Kekhawatiran syifa pun semakin bertambah. Ia sangat tahu apa yang ingin dikatakan lubna.

"apa itu lubna?, nanti kakak sampaikan. " ujar syifa. Yang membuat lubna melunturkan senyumannya. Ia merasa seakan akan ia tidak memiliki hak untuk berbicara kepada arkhan yang notabennya adalah suaminya.

"nanti lubna sendiri yang katakan ke mas arkhan. Lubna bisa tunggu kok. " ucap lubna sembari tersenyum. "yaudah lubna permisi yah kak. Assalamualaikum "

"waalaikumsalam. " lubna pun berlalu meninggalkan syifa yang kaku melihat kepergian syifa.

***

"assalamualaikum "

"waalaikumsalam" ucap lubna membuka pintu. Ia langsung mencium punggung tangan suaminya.

"mas dari mana? "tanya lubna.

"mas dari rumah abi. Sampaikan kabar kehamilan syifa. " ucap arkhan. Mereka pun masuk kedalam rumah.

"alhamdulillah. Ohiya mas ada yang pengen lubna katakan. " ucap lubna ketika arkhan duduk di kursi makan. Lubna pun dengan telaten menuangkan air ke gelas arkhan.

"mas sudah menunggunya. "

"sebenarnya lubna.... " ucap lubna sengaja menggantungkan kalimatnya lalu tersenyum memandang arkhan.

Arkhan menautkan alisnya melihat ekspresi lubna yang terkesan menggoda arkhan.

"jangan bermain-main humairah. Kamu membuat ku penasaran.

Lubna terkekeh mendengar raut wajah arkhan yang kesal. Sungguh ia sangat menikmati moment sebelum ia memberitahukan arkhan kabar bahagia ini.

"iya iya, maaf kan lubna mas. Lubna mau bilang kalau sekarang lubna-"

"mas arkhan..." teriak seseorang menghampiri mereka berdua.

"syifa ada apa?  Kenapa kamu  berlari? " tanya arkhan heran. Lubna pun yang melihatnya juga merasa heran, Ia seperti merasakan ada yang tidak beres dengan syifa.

"ti.. Tidak, syifa tidak apa apa mas. "ucap syifa menormalkan nafasnya. "mas pulang sudah dari tadi? " tanya syifa sembari mencium punggung tangan arkhan.

"iya, lubna yang membukakan pintu. " ucap arkhan menoleh ke arah lubna tersenyum. Hal itu tidak luput dari pandangan syifa. "ohiya humairah, sampaikan lah yang tadi. Mas sangat penasaran. " seketika hal itu membuat syifa kembali keringat dingin, ia tidak ingin hal itu terjadi. Jangan sampai ya Allah.

"mumpung ada kak syifa jadi sekalian. " ucap lubna bahagia. Tidak lama lagi ia akan memberitahukan suaminya ini. "lubna-"

"lubna maaf, apa bisa nanti saja kamu menyampaikannya? Kepala kakak sangat sakit. " ucap syifa sekali lagi memotong ucapan lubna.

"kenapa kepala mu? Apa perlu kita ke dokter?" ujar arkhan panik lalu merengkuh pundak syifa dan hal itu membuat ia melupakan lubna.

"tidak apa-apa mas, syifa hanya ingin istirahat. Tolong antar syifa. " ujar syifa.

"baiklah" arkhan dan syifa sudah berniat untuk pergi namun, lubna menahan lengan arkhan. "apa tidak bisa mas mendengarkan lubna dulu? " ucap lubna memohon. Yah sudah cukup, ia rasa Selama ini ia seperti tidak diberi izin untuk menyampaikan nya kepada suaminya. Hanya hari ini ia ingin agar suaminya tahu bahwa ia mengandung anaknya.

Arkhan melihat humairahnya dengan pandangan sendu. Sejak akad yang berlangsung. Selama dua bulan ini, ia pertama kali kembali melihat lubna dalam tatapan seperti ini.

Sungguh ia sakit melihat humairahnya yang memohon kepadanya. Ia kemudian menoleh ke arah syifa yang mengusap punggung tangannya.

"kepala ku sakit mas, syifa ingin istirahat. " ucap syifa. Ia kemudian menoleh ke arah lubna. "masih ada hari esok lubna, kamu bisa memberitahukan kami esok. " ucap syifa.

Lubna menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perkataan syifa.

"tidak ada yang tahu apakah lubna masih diberi kesempatan hidup besok atau tidak oleh Allah. Begitupun dengan kakak dan mas arkhan.  Hari esok belum terjadi,  hari esok masih ada di dalam alam gaib yang belum turun ke bumi. Untuk itu, Allah melarang kita menunda nunda sesuatu karena takut kita akan menyesal. Dan itu yang lubna rasakan sekarang. " ucap lubna dengan suara yang mulai serak.

Arkhan mematung mendengarnya. Ini pertama kalinya ia mendengar lubna mengeluarkan isi hatinya. Selama ini ia melihat siapa sesosok lubna sebagai wanita yang selalu mengalah dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Namun, sungguh pentingnya kah sesuatu yang ingin ia sampaikan, sampai ia ingin malam ini.

"mas... " panggil syifa menyadarkan arkhan dari lamunannya. Arkhan pun menoleh ke arah syifa. Inilah yang ia takutkan. Diberi pilihan yang sulit. Ia ingin memilih untuk tidak menyakiti keduanya namun itu mungkin sulit.

Arkhan pun menghembuskan nafasnya lalu meyakinkan pilihannya. "besok saja lubna, jika Allah memang meridhoi nya. Inshaa Allah kamu pasti bisa memberitahukan mas. "ucap arkhan lalu memapah syifa meninggalkan lubna sendirian.

Air mata lubna yang ia tahan sedari tadi tidak bisa lagi tidak dikeluarkannya. Ia merasa sesak memikirkan sebuah hal yang membuatnya tidak bisa menyampaikan berita bahagia ini...

Yah pikiran lubna hanya satu....

"kak syifa sudah tahu kabar ini"


*****

Makasih buat para readers yang sudah mampir di story aku. Jangan bosan bosan yah 😁

Mohon tinggalkan jejak guys 💕

Menanti Takdir (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang