12. Belajar untuk Mencintai

2.8K 199 4
                                        

Jika kamu jatuh hati, maka jatuhlah kepada orang yang mampu menangkapmu

***

Di dalam mobil adanya kecanggungan antara dua orang berbeda jenis kelamin namun halal ini.

Baik arkhan dan lubna sama-sama menyadari suasana canggung ini, terlebih setelah tadi arkhan membisikkan sesuatu di telinga lubna membuatnya sangat malu. Apalagi lubna yang terlihat salah tingkah disamping arkhan.

Tadi setelah akad selesai, syifa langsung di berangkatkan ke singapura untuk dirujuk.

Awalnya saat mengantar syifa, arkhan dan lubna satu mobil dengan abi dan uminya arkhan sehingga tidak ada kecanggungan.

Namun setelah mengantar syifa, abi dan uminya arkhan memutuskan untuk bergabung dimobil satu bersama kaffah dan abi uminya lubna. Yang membuat lubna harus terjebak dengan suasana canggung bersama arkhan.

Karena keasyikan melamun, lubna tidak menyadari bahwa mobil yang mereka tumpangi sedari tadi sudah berhenti. Ia kemudian menoleh kepada arkhan yang sudah tidak ada di tempatnya.

Merasa bingung lubna mencari-cari arkhan dan mengedarkan pandangannya yang ternyata tidak disadari lubna, arkhan berada disampingnya membuka pintu mobil
"kamu lapar?" tanya arkhan mengagetkan lubna. Karena masih kaget lubna tidak menjawab pertanyaan arkhan.

"saya lapar, dari tadi belum makan. Tidak apa-apakan kita singgah dulu." lubna mengangguk kemudian meraih tangan arkhan yang sedari tadi berada didepannya.

Awalnya lubna takut memegangnya namun arkhan langsung menarik tangannya membantunya untuk keluar dari mobil.

Di dalam rumah makan, mereka duduk bersebrangan. Selama menunggu makanannya jadi, lubna tidak tahu harus berbuat apa ia terlihat salah tingkah karena sedari tadi arkhan menatapnya.

Lubna kemudian memberanikan diri menatap arkhan didepannya.

"kenapa?"

"kenapa apanya?" balas arkhan tenang membuat jantung lubna berdetak begitu kencang.

"ke..kenapa dari tadi ngeliatin?"

"Aku cuma belajar"

"belajar apa?"

"belajar buat aku jatuh cinta sama kamu"

Deg,

Ucapan arkhan membuat lubna blushing terlebih dengan kulit lubna yang kuning langsat membuat rona merah diwajahnya jadi sangat jelas.

"kamu sakit?" tanya arkhan khawatir melihat wajah lubna yang merah. Ia tidak tahu saja jika saat ini lubna mati-matian menahan degupan jantungnya yang kian lama kian cepat.

"tidak, saya tidak apa-apa. Saya permisi ke toilet dulu." ucap lubna meninggalkan kursinya setelah arkhan menganggukkan kepalanya.

Didalam toilet, lubna hanya memandang wajahnya yang jelas jelas memerah membuat mukanya yang semula kuning langsat menjadi merah merona.

"tenang lubna" tanya nya kepada dirinya sendiri sambil menarik nafas dan menghembuskannya sekuat-kuatnya.

"kenapa belum makan?" tanya lubna saat sampai di meja makan yang sudah terlihat penuh dengan makanan.

"tunggu kamu"  Yang membuat lubna lagi-lagi salah tingkah.

arkhan kemudian memulai makannya begitupun lubna. Saat makan, lubna sesekali memandangi udang goreng dihadapannya.

Ia sangat menyukai udang, ia ingin memakannya namun lubna tidak bisa memakan udang tanpa dikeluarkan kulitnya. Ia masih terlalu malu dihadapan arkhan.

Menanti Takdir (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang