“Apa kamu sadar sepenuhnya sebelum melakukan pembunuhan itu?” Seorang dengan setelan jas hitam bertanya. Disinilah aku sekarang, ruangan kecil berukuran 3 m3 dengan kaca besar persegi panjang di samping kiriku. Memang terlihat seperti kaca dari sini, memantulkan gambar di depannya. Tapi tidak dengan sisi yang lain, kuyakin mereka sedang melihat kearahku sekarang, menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi padaku. Entah siapapun mereka.
“Apa setiap tindakan yang kamu lakukan berdasarkan keinginanmu dan bukan paksaan dari pihak ketiga?” Orang itu bertanya lagi, aku hanya terduduk memandangnya, hanya berkata ‘iya’ seolah menunjukan bahwa semua ini adalah kehendakku. Orang itu mengalihkan perhatiannya ke arah jurnal yang dia bawa, sedang menulis sesuatu.
Ini adalah pengalaman pertamaku berada di ruang interogasi dan ironisnya, akulah orang yang di interogasi. “Lalu, apa tujuanmu melakukan semua itu?” Aku padanganku yang semula kosong, kini tertuju padanya. Aku menatapnya. “Dialah dalang pembunuhan orang tuaku, aku hanya menegakkan keadilan yang tidak bisa ditegakkan oleh aparat negara. Aku melakukannya dengan caraku sendiri.” Orang itu memandangku, kembali menulis di jurnalnya.
Orang bersetelan jas hitam itu berdiri, beranjak meninggalkan tempat, keluar melalui pintu besi yang berada tepat dibelakangnya. Aku memandangi pintu itu untuk beberapa saat lalu aku mengalihkan pandanganku ke atas, bukan terpaku pada suatu objek, hanya berpikir tentang semua hal yang telah terjadi padaku.
Aku hanya diam disini, tak melakukan apapun selama hampir tiga jam. Aku tidak bosan, dulu aku sudah biasa melakukannya, mengintai musuh selama berhari hari tanpa meninggalkan tempat. Aku penasaran apakah masih ada orang di balik kaca itu, jika iya, mereka pasti fans beratku. Suara gagang pintu terdengar dan pintu terbuka, tiga orang polisi berseragam dan bersenjata lengkap masuk. “Pak Alam, silahkan ikut kami!” Aku berdiri lalu dikawal keluar ruangan, dua orang didepan dan satu orang di belakang.
Mereka menggiringku keluar bangunan lewat pintu belakang, terlihat sebuah mobil sedan polisi menunggu. Aku tahu mereka akan membawaku ke penjara, untuk menunggu panggilan untuk persidangan. Aku duduk di kursi belakang, menyenderkan badan, dan menghembuskan nafas berat. Hari ini adalah hari yang melelahkan.
Mobil mulai melaju menyusuri jalanan. Pikiranku mulai menjelajah, aku jadi teringat sebuah nama. Ahmad Gimanjar Rahmawan. Seorang perwira senior atas dengan bintang satu di bahunya, seorang teladan dan panutan bagi komando baret merah. Seorang yang disegani dan dihormati.
Sepintas tidak ada yang aneh dari Jenderal Ginanjar, komandan yang baik dan kepala keluarga yang baik, bahkan dia berteman baik dengan Kapten Hassan. Aku cukup tahu tentangnya meskipun tidak pernah bertatap muka. Tapi di duniaku yang sekarang, semua menjadi lebih buram, orang yang terlihat baik mungkinlah orang yang jahat dan orang yang terlihat jahat belum tentu demikian. Aku harus menemukan nama nama itu, termasuk perwira polisi yang sangat berambisi untuk menangkapku. Tapi tidak sekarang, masih ada hal yang menungguku. Pengadilan militer.
Tiga hari kemudian. Aku berdiri, memakai seragam lengkap dengan baret ungu terlipat rapi diatas pundak kiriku, terselip. “Letnan Dua Alam Harun Romadhoni, dengan bukti bukti yang ada telah melanggar pasal 340 KUHP dan pasal 55 KUHP yaitu pembunuhan berencana, Oleh sebab itu hakim memutuskan menjatuhi hukuman 15 tahun penjara dan pencopotan secara tidak terhormat dari kesatuan!” Hakim mengetok palu, vonis telah dibacakan.
Seseorang menghampiriku, melepas tanda jasaku secara tidak terhormat. Aku hanya menunduk, berusaha menahan emosi, aku mengepalkan tangan dengan kuat dan meremasnya. Aku resmi bukan seorang tentara lagi. Dua orang polisi militer menghampiriku, masing masing memegang lenganku, mengisyaratkan untuk segera meninggalkan ruangan sidang. Aku menegakan kepala, air mata mengalir jelas. Aku memandang semua perwira tinggi dengan tatapan tajam. Aku masih tidak bisa terima, aku marah sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Danau Yang Menyimpan Kenangan
ActionKetika seseorang telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, melelahkan, dan menyakitkan. Orang itu akan mulai mempertanyakan apa arti dari kehidupan ini, apa gunanya dia berjuang sampai sejauh ini dan apa yang dia perjuangkan benar benar sebandi...
